TUGAS
KESEMPURNAAN ILMU MILIK
ALLAH
Makalah ini dibuat untuk memenuhi tugas terstruktur
Pada mata kuliahTafsirTarbawiy
Oleh
RahmatiaSabar
41032124141004
Dr. H. Asep Ahmad Fathurahman, Lc.
M. Ag.
PRODI PENDIDIKAN BAHASA ARAB
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS ISLAM NUSANTARA
BANDUNG
2015
BAB I
PENDAHULUAN
Al-Qur’an
adalah firman Allaah SubhaanallaahuWata’aala yang diturunkankepadaNabi Muhammad
Shollallaahu ‘alaihiwasallam melalui perantara malaikat Jibril dan jika kita membacanya
,akan mendapat pahala dari Allah Subhaanallaahu Wata’aala. Al-Qur’an adalah mu’jizat
yang diberikan kepada kekasih Allah untu kdiamalkan/direalisasikan dalam kehidupan
sehari-hari.Wahyu pertama yang diturunkan kepada Nabi Muhammad Shollallahu
‘alaihi wasallam yaitu Surat Al-Alaq: 1-5 dan wahyu selanjutnya Surat
Al-Muddatstsir: 1-7.
Di
sisi lainkita membutuhkan tafsir untuk menjelaskan ayat-ayat Al-Qur’an yang
kurang dipahami. Salah satunya tafsir tarbawy yaitu tafsir yang sangat urgen bagi
kita untuk membuka gudang simpanan yang tertimbun dalam Al-Qur’an yang
berkaitan dengan pendidik
an.
Dalam pembahasan ini yang berjudul “Kesempurnaan Ilmu Milik Allah” tercantum
dalam suratAl-Kahfi: 109
قُلْ لَوْ كَان الَبَحْرُ مِدَادًا لِكلِمَاتِ رَبِيْ لَنَفِدَ
الْبَحْرُ قَبْلَ اَنْ تَنْفَدَ كَلِمَاةُ رَبِىْ وَ لَوْ جِئْنَا بِمِثْلِه
مَدَادً ا
Menerangkan bahwa isi kandungan
serta munasabah surat Al-Kahfi: 109 (Surat Luqman: 27 dan Surat Saba: 1-2) bertujuan
memberikan pengetahuan dan menjelaskan bahwa ilmu yang makhluq miliki tidak ada apa-apanya jika dibandingkan
dengan ilmu sang kholiq, karena sang kholiq lebih mengetahui apa yang kita
tidak tahu.
BAB
II
PEMBAHASAN
1. Surat Al-Kahfi: 109
a. Ayat dan Terjemah
قُلْ لَوْ كَان الَبَحْرُ مِدَادًا لِكلِمَاتِ رَبِيْ لَنَفِدَ
الْبَحْرُ قَبْلَ اَنْ تَنْفَدَ كَلِمَاةُ رَبِىْ وَ لَوْ جِئْنَا بِمِثْلِه
مَدَادًا
“Katakanlah (Muhammad), “Seandainya lautan menjadi tinta untuk
(menulis) kalimat-kalimat Tuhanku, maka pasti habislah lautan itu sebelum
selesai (penulisan) kalimat-kalimatTuhanku, meskipun Kami datangkan tambahan
sebanyak itu (pula)”.
b.
Mufrodat
مِدَادًا : bahan untuk menulis
seperti tinta.
لِكَلِمَاتِ: Kalimat-kalimat yan
menunjukkan ilmu Allah Subhaanallahu Wata'ala dan hikmah-Nya.
لَنَفِدَ: Habislah kosong.
مَدَادًا: Tambahan dan bantuan
lain.
c.
Bahasa (Nahwu, Shorof dan Balaghoh).
قل : فعل الامر مبنيي على السكون لا محل له من الاعرب وفاعله ضمير
مستتر وجوبا تقديره انت
قل : اذا تحركت واو و انفتح ما قبلها قلبت الفا نحو قول علي وزن
فَعَلَ قلبت الواو الفا لتحركها و انفتاح ما قبلها فصار قال
كان : فعل ماض ناقص مبني على الفتح لا محل له من الاعراب
البحر : اسم كان وهو مرفوع و علامة رفعه ضمة ظاهرة اخره
مدادا : خبر كان وهو منصوب و علامة نصبه فتحة ظاهرة فى اخره
لكلمات : جر و مجرور
جئنا : فعل ماض مبني على السكون لاتصاله بضمير رفع متحرك و نا ضمير
متصل مبني على السكون في محل رفع فاعل
d.
Munasabah
·
Hubungan nama
surat dengan kandungan surat
Bila kita amati secara seksama, Al-Kahfi
yang berarti ”gua” dan isi kandungannya, niscaya kita akan memperoleh munasabah
yang lembut. Sesungguhnya isi kandungan Surat Al-Kahfi seolah-olah seperti gua
yang menjaga dari berbagai macam fitnah, sebagaimana yang disabdakan Rasulullah
Shollallahu ‘Alaihiwasallam. Jika tempat yang dijadikan pengungsian Ashabul
Kahfi adalah gua yang nyata dapat dilihat dan disentuh, maka Surat al-Kahfi ini
ibarat ”gua maknawi” yang menjadi tempat perlindungan bagi para pembacanya.
Maksudnya, melalui pertolongan, pemeliharaan dan penjagaan Allah s.w.t.,
sehingga orang yang membaca Surat ini tidak terpengaruh oleh berbagai fitnah
yang mendera, sekelam apapun fitnah tersebut.
·
Hubungan antara permulaan surat dengan penghujung surat
Permulaan surat menunjukkan bahwa
hanya Allah Subhaanallahu Wata’aala. yang berhak dipuji, karena telah
menurunkan al-Qur’an kepada Nabi Muhammad Shollallahu ‘Alaihi Wasallam demi
mengeluarkan manusia dari kegelapan menuju
pencerahan (Al-Kahfi: 1), sedangkan pada penghujung ayat disebutkan
tentang pengistimewaan terhadap Allah dalam hal ibadah, dzikir, syukur dan
amal-amal shalih lainnya.
Permulaan ayat menginformasikan bahwa
Nabi Muhammad adalah dari golongan
manusia dan hamba Allah, tidak ada yang istimewa secara lahiriah, hanya saja
beliau mendapatkan keistimewaan terkait hubungan beliau dengan Allah s.w.t.
melalui wahyu; kemudian pada penghujung ayat dinyatakan secara tegas bahwa Nabi
Muhammad adalah manusia biasa, tidak ada yang berbeda dengan manusia lainnya,
selain dari faktor wahyu (al-Kahfi: 110).
·
Hubungan antar kelompok ayat
QS. Al-Baqoroh: 50
وَإِذْ
فَرَقْنَا بِكُمُ الْبَحْرَ فَأَنْجَيْنَاكُمْ وَأَغْرَقْنَا ءَالَ فِرْعَوْنَ
وَأَنْتُمْ تَنْظُرُونَ
“Dan (ingatlah), ketika Kami belah laut untukmu, lalu Kami selamatkan
kamu dan Kami tenggelamkan (Fir`aun) dan pengikut-pengikutnya sedang kamu
sendiri menyaksikan.”
QS. Al-Baqoroh: 164
·
إِنَّ فِي
خَلْقِ السَّمَوَاتِ وَالأَرْضِ وَاخْتِلَافِ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ وَالْفُلْكِ
الَّتِي تَجْرِي فِي الْبَحْرِ بِمَا يَنْفَعُ النَّاسَ وَمَا أَنْزَلَ اللَّهُ
مِنَ السَّمَاءِ مِنْ مَاءٍ فَأَحْيَا بِهِ الأَرْضَ بَعْدَ مَوْتِهَا وَبَثَّ
فِيهَا مِنْ كُلِّ دَابَّةٍ وَتَصْرِيفِ الرِّيَاحِ وَالسَّحَابِ الْمُسَخَّرِ
بَيْنَ السَّمَاءِ وَالأَرْضِ لَآيَاتٍ لِقَوْمٍ يَعْقِلُونَ
“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, silih bergantinya malam
dan siang, bahtera yang berlayar di laut membawa apa yang berguna bagi manusia,
dan apa yang Allah turunkan dari langit berupa air, lalu dengan air itu Dia
hidupkan bumi sesudah mati (kering) -nya dan Dia sebarkan di bumi itu segala jenis
hewan, dan pengisaran angin dan awan yang dikendalikan antara langit dan bumi;
Sungguh (terdapat) tanda-tanda (keesaan dan kebesaran Allah) bagi kaum yang
memikirkan.”
QS. Al-Maidah : 96
·
أُحِلَّ لَكُمْ
صَيْدُ الْبَحْرِ وَطَعَامُهُ مَتَاعًا لَكُمْ وَلِلسَّيَّارَةِ وَحُرِّمَ
عَلَيْكُمْ صَيْدُ الْبَرِّ مَا دُمْتُمْ حُرُمًا وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي
إِلَيْهِ تُحْشَرُون
“Dihalalkan bagimu binatang buruan laut dan makanan (yang berasal) dari
laut sebagai makanan yang lezat bagimu, dan bagi orang-orang yang dalam
perjalanan; dan diharamkan atasmu (menangkap) binatang buruan darat, selama
kamu dalam ihram. Dan bertakwalah kepada Allah yang kepada-Nyalah kamu akan
dikumpulkan.”
QS. Al-An’am : 63
قُلْ
مَنْ يُنَجِّيكُمْ مِنْ ظُلُمَاتِ الْبَرِّ وَالْبَحْرِ تَدْعُونَهُ تَضَرُّعًا
وَخُفْيَةً لَئِنْ أَنْجَانَا مِنْ هَذِهِ لَنَكُونَنَّ مِنَ الشَّاكِرِينَ
“Katakanlah: “Siapakah yang dapat menyelamatkan kamu dari bencana di
darat dan di laut, yang kamu berdo`a kepada-Nya dengan berendah diri dan dengan
suara yang lembut (dengan mengatakan): “Sesungguhnya jika Dia menyelamatkan
kami dari (bencana) ini, tentulah kami menjadi orang-orang yang bersyukur.”
QS. Al-An’am : 97
وَهُوَ
الَّذِي جَعَلَ لَكُمُ النُّجُومَ لِتَهْتَدُوا بِهَا فِي ظُلُمَاتِ الْبَرِّ
وَالْبَحْرِ قَدْ فَصَّلْنَا الْآيَاتِ لِقَوْمٍ يَعْلَمُونَ
“Dan Dialah yang menjadikan bintang-bintang bagimu, agar kamu
menjadikannya petunjuk dalam kegelapan di darat dan di laut.Sesungguhnya Kami
telah menjelaskan tanda-tanda kebesaran (Kami) kepada orang-orang yang
mengetahui.”
QS. Al-A’raf : 138
وَجَاوَزْنَا
بِبَنِي إِسْرَائِيلَ الْبَحْرَ فَأَتَوْا عَلَى قَوْمٍ يَعْكُفُونَ عَلَى
أَصْنَامٍ لَهُمْ قَالُوا يَامُوسَى اجْعَلْ لَنَا إِلَهًا كَمَا لَهُمْ ءَالِهَةٌ
قَالَ إِنَّكُمْ قَوْمٌ تَجْهَلُونَ
“Dan Kami seberangkan Bani Israil ke seberang lautan itu, maka setelah
mereka sampai kepada suatu kaum yang tetap menyembah berhala mereka, Bani
Israil berkata: “Hai Musa, buatlah untuk kami sebuah tuhan (berhala)
sebagaimana mereka mempunyai beberapa tuhan (berhala)”. Musa menjawab:
“Sesungguhnya kamu ini adalah kaum yang tidak mengetahui (sifat-sifat Tuhan)”.
QS. Al-A’raf : 163
وَاسْأَلْهُمْ
عَنِ الْقَرْيَةِ الَّتِي كَانَتْ حَاضِرَةَ الْبَحْرِ إِذْ يَعْدُونَ فِي
السَّبْتِ إِذْ تَأْتِيهِمْ حِيتَانُهُمْ يَوْمَ سَبْتِهِمْ شُرَّعًا وَيَوْمَ لَا
يَسْبِتُونَ لَا تَأْتِيهِمْ كَذَلِكَ نَبْلُوهُمْ بِمَا كَانُوا يَفْسُقُونَ
“Dan tanyakanlah kepada Bani Israil tentang negeri yang terletak di
dekat laut ketika mereka melanggar aturan pada hari Sabtu, di waktu datang kepada
mereka ikan-ikan (yang berada di sekitar) mereka terapung-apung di permukaan
air, dan di hari-hari yang bukan Sabtu, ikan-ikan itu tidak datang kepada
mereka. Demikianlah Kami mencoba mereka disebabkan mereka berlaku fasik.”
QS. Yunus : 22
هُوَ الَّذِي
يُسَيِّرُكُمْ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ حَتَّى إِذَا كُنْتُمْ فِي الْفُلْكِ
وَجَرَيْنَ بِهِمْ بِرِيحٍ طَيِّبَةٍ وَفَرِحُوا بِهَا جَاءَتْهَا رِيحٌ عَاصِفٌ
وَجَاءَهُمُ الْمَوْجُ مِنْ كُلِّ مَكَانٍ وَظَنُّوا أَنَّهُمْ أُحِيطَ بِهِمْ
دَعَوُا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ لَئِنْ أَنْجَيْتَنَا مِنْ هَذِهِ
لَنَكُونَنَّ مِنَ الشَّاكِرِينَ
“Dialah Tuhan yang menjadikan Kamu dapat berjalan di daratan, (berlayar)
di lautan. Sehingga apabila kamu berada di dalam bahtera, dan meluncurlah
bahtera itu membawa orang-orang yang ada di dalamnya dengan tiupan angin yang
baik, dan mereka bergembira karenanya, datanglah angin badai, dan (apabila)
gelombang dari segenap penjuru menimpanya, dan mereka yakin bahwa mereka telah
terkepung (bahaya), maka mereka berdo`a kepada Allah dengan mengikhlaskan
keta`atan kepada-Nya semata-mata. (Mereka berkata): “Sesungguhnya jika engkau
menyelamat-kan kami dari bahaya ini, pastilah kami akan termasuk orang-orang
yang bersyukur”.
QS. Yunus : 90
وَجَاوَزْنَا
بِبَنِي إِسْرَائِيلَ الْبَحْرَ فَأَتْبَعَهُمْ فِرْعَوْنُ وَجُنُودُهُ بَغْيًا
وَعَدْوًا حَتَّى إِذَا أَدْرَكَهُ الْغَرَقُ قَالَ ءَامَنْتُ أَنَّهُ لَا إِلَهَ
إِلَّا الَّذِي ءَامَنَتْ بِهِ بَنُو إِسْرَائِيلَ وَأَنَا مِنَ الْمُسْلِمِينَ
“Dan Kami memungkinkan Bani Israil melintasi laut, lalu mereka diikuti
oleh Fir`aun dan bala tentaranya, karena hendak menganiaya dan menindas
(mereka); hingga bila Fir`aun itu telah hampir tenggelam berkatalah dia: “Saya
percaya bahwa tidak ada Tuhan melainkan Tuhan yang dipercayai oleh Bani Israil,
dan saya termasuk orang-orang yang berserah diri (kepada Allah)”
QS. Ibrahim : 32
اللَّهُ
الَّذِي خَلَقَ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضَ وَأَنْزَلَ مِنَ السَّمَاءِ مَاءً
فَأَخْرَجَ بِهِ مِنَ الثَّمَرَاتِ رِزْقًا لَكُمْ وَسَخَّرَ لَكُمُ الْفُلْكَ
لِتَجْرِيَ فِي الْبَحْرِ بِأَمْرِهِ وَسَخَّرَ لَكُمُ الْأَنْهَارَ
“Allah-lah yang telah menciptakan
langit dan bumi dan menurunkan air hujan dari langit, kemudian Dia mengeluarkan
dengan air hujan itu berbagai buah-buahan menjadi rezki untukmu, dan Dia telah
menundukkan bahtera bagimu supaya bahtera itu berlayar di lautan dengan
kehendak-Nya, dan Dia telah menundukkan (pula) bagimu sungai-sungai.”
QS. An-Nahl : 14
وَهُوَ
الَّذِي سَخَّرَ الْبَحْرَ لِتَأْكُلُوا مِنْهُ لَحْمًا طَرِيًّا وَتَسْتَخْرِجُوا
مِنْهُ حِلْيَةً تَلْبَسُونَهَا وَتَرَى الْفُلْكَ مَوَاخِرَ فِيهِ
“Dan Dia-lah, Allah yang menundukkan lautan (untukmu) agar kamu dapat
memakan daripadanya daging yang segar (ikan), dan kamu mengeluarkan dari lautan
itu perhiasan yang kamu pakai; dan kamu melihat bahtera berlayar padanya.”
QS. Bani Israil : 66
رَبُّكُمُ
الَّذِي يُزْجِي لَكُمُ الْفُلْكَ فِي الْبَحْرِ لِتَبْتَغُوا مِنْ فَضْلِهِ
إِنَّهُ كَانَ بِكُمْ رَحِيمًا
“Tuhan-mu adalah yang melayarkan kapal-Kapal di lautan untukmu, agar
kamu mencari sebahagian dari karunia-Nya. Sesungguhnya Dia adalah Maha
Penyayang terhadapmu.”
QS. Bani Israil : 67
وَإِذَا
مَسَّكُمُ الضُّرُّ فِي الْبَحْرِ ضَلَّ مَنْ تَدْعُونَ إِلَّا إِيَّاهُ فَلَمَّا
نَجَّاكُمْ إِلَى الْبَرِّ أَعْرَضْتُمْ وَكَانَ الْإِنْسَانُ كَفُورًا
“Dan apabila kamu ditimpa bahaya di lautan, niscaya hilanglah siapa yang
kamu seru kecuali Dia. Maka tatkala Dia menyelamatkan Kamu ke daratan, kamu
berpaling. Dan manusia adalah selalu tidak berterima kasih.”
QS. Bani Israil : 70
وَلَقَدْ
كَرَّمْنَا بَنِي ءَادَمَ وَحَمَلْنَاهُمْ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ
وَرَزَقْنَاهُمْ مِنَ الطَّيِّبَاتِ وَفَضَّلْنَاهُمْ عَلَى كَثِيرٍ مِمَّنْ
خَلَقْنَا تَفْضِيلًا
“Dan sesungguhnya telah Kami muliakan anak-anak Adam, Kami angkut mereka
di daratan dan di lautan, Kami beri mereka rezki dari yang baik-baik dan Kami
lebihkan mereka dengan kelebihan yang sempurna atas kebanyakan makhluk yang
telah Kami ciptakan.”
QS. Al-Kahfi : 60
وَإِذْ
قَالَ مُوسَى لِفَتَاهُ لَا أَبْرَحُ حَتَّى أَبْلُغَ مَجْمَعَ الْبَحْرَيْنِ أَوْ
أَمْضِيَ حُقُبًا
“Dan (ingatlah) ketika Musa berkata kepada muridnya: “Aku tidak akan
berhenti (berjalan) sebelum sampai ke pertemuan dua buah lautan; atau aku akan
berjalan sampai bertahun-tahun”.
QS.Al-Kahfi : 61
فَلَمَّا
بَلَغَا مَجْمَعَ بَيْنِهِمَا نَسِيَا حُوتَهُمَا فَاتَّخَذَ سَبِيلَهُ فِي
الْبَحْرِ سَرَبًا
“Maka tatkala mereka sampai ke pertemuan dua buah laut itu,
mereka lalai akan ikannya, lalu ikan itu melompat mengambil jalannya ke laut
itu.”
QS. Al-Kahfi : 63
قَالَ
أَرَأَيْتَ إِذْ أَوَيْنَا إِلَى الصَّخْرَةِ فَإِنِّي نَسِيتُ الْحُوتَ وَمَا
أَنْسَانِيهُ إِلَّا الشَّيْطَانُ أَنْ أَذْكُرَهُ وَاتَّخَذَ سَبِيلَهُ فِي
الْبَحْرِ عَجَبًا
“Muridnya menjawab: “Tahukah kamu tatkala kita mencari tempat berlindung
di batu tadi, maka sesungguhnya aku lupa (menceritakan tentang) ikan itu dan
tidak adalah yang melupakan aku untuk menceritakannya kecuali syaitan dan ikan
itu mengambil jalannya ke laut dengan cara yang aneh sekali.”
QS. Al-Kahfi : 79
أَمَّا
السَّفِينَةُ فَكَانَتْ لِمَسَاكِينَ يَعْمَلُونَ فِي الْبَحْرِ فَأَرَدْتُ أَنْ
أَعِيبَهَا وَكَانَ وَرَاءَهُمْ مَلِكٌ يَأْخُذُ كُلَّ سَفِينَةٍ غَصْبًا
“Adapun bahtera itu adalah
kepunyaan orang-orang miskin yang bekerja di laut, dan aku bertujuan merusakkan
bahtera itu, karena di hadapan mereka ada seorang raja yang merampas tiap-tiap
bahtera”
QS. Al-Kahfi : 109
قُلْ
لَوْ كَانَ الْبَحْرُ مِدَادًا لِكَلِمَاتِ رَبِّي لَنَفِدَ الْبَحْرُ قَبْلَ أَنْ
تَنْفَدَ كَلِمَاتُ رَبِّي وَلَوْ جِئْنَا بِمِثْلِهِ مَدَدًا
“Katakanlah: “Kalau sekiranya lautan menjadi tinta untuk (menulis)
kalimat-kalimat Tuhanku, sungguh habislah lautan itu sebelum habis (ditulis)
kalimat-kalimat Tuhanku, meskipun Kami datangkan tambahan sebanyak itu (pula).”
QS. Thaha : 77
وَلَقَدْ
أَوْحَيْنَا إِلَى مُوسَى أَنْ أَسْرِ بِعِبَادِي فَاضْرِبْ لَهُمْ طَرِيقًا فِي
الْبَحْرِ يَبَسًا لَا تَخَافُ دَرَكًا وَلَا تَخْشَى
“Dan sesungguhnya telah Kami wahyukan kepada Musa: “Pergilah kamu dengan
hamba-hamba-Ku (Bani Israil) di malam hari, maka buatlah untuk mereka jalan
yang kering di laut itu, kamu tak usah khawatir akan tersusul dan tidak usah
takut (akan tenggelam)”.
QS. Al-Hajj : 65
أَلَمْ
تَرَ أَنَّ اللَّهَ سَخَّرَ لَكُمْ مَا فِي الْأَرْضِ وَالْفُلْكَ تَجْرِي فِي
الْبَحْرِ بِأَمْرِهِ وَيُمْسِكُ السَّمَاءَ أَنْ تَقَعَ عَلَى الْأَرْضِ إِلَّا
بِإِذْنِهِ إِنَّ اللَّهَ بِالنَّاسِ لَرَءُوفٌ رَحِيمٌ
“Apakah kamu tiada melihat bahwasanya Allah menundukkan bagimu apa yang
ada di bumi dan bahtera yang berlayar di lautan dengan perintah-Nya. Dan Dia
menahan (benda-benda) langit jatuh ke bumi, melainkan dengan izin-Nya?
Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Pengasih lagi Maha Penyayang kepada
Manusia.”
QS. An-Nur : 40
أَوْ
كَظُلُمَاتٍ فِي بَحْرٍ لُجِّيٍّ يَغْشَاهُ مَوْجٌ مِنْ فَوْقِهِ مَوْجٌ مِنْ
فَوْقِهِ سَحَابٌ ظُلُمَاتٌ بَعْضُهَا فَوْقَ بَعْضٍ إِذَا أَخْرَجَ يَدَهُ لَمْ
يَكَدْ يَرَاهَا وَمَنْ لَمْ يَجْعَلِ اللَّهُ لَهُ نُورًا فَمَا لَهُ مِنْ نُورٍ
“Atau seperti gelap gulita di lautan yang dalam, yang diliputi oleh
ombak, yang di atasnya ombak (pula), di atasnya (lagi) awan; gelap gulita yang
tindih-bertindih, apabila dia mengeluarkan tangannya, tiadalah dia dapat
melihatnya, (dan) barangsiapa yang tiada diberi cahaya (petunjuk) oleh Allah
tiadalah dia mempunyai cahaya sedikitpun.”
QS. Al-Furqan: 53
وَهُوَ
الَّذِي مَرَجَ الْبَحْرَيْنِ هَذَا عَذْبٌ فُرَاتٌ وَهَذَا مِلْحٌ أُجَاجٌ
وَجَعَلَ بَيْنَهُمَا بَرْزَخًا وَحِجْرًا مَحْجُورًا
“Dan Dialah yang membiarkan dua laut mengalir (berdampingan); yang ini
tawar lagi segar dan yang lain asin lagi pahit; dan Dia jadikan antara keduanya
dinding dan batas yang meng-halangi.
QS. An-Naml : 61
أَمَّنْ
جَعَلَ الْأَرْضَ قَرَارًا وَجَعَلَ خِلَالَهَا أَنْهَارًا وَجَعَلَ لَهَا
رَوَاسِيَ وَجَعَلَ بَيْنَ الْبَحْرَيْنِ حَاجِزًا أَئِلَهٌ مَعَ اللَّهِ بَلْ
أَكْثَرُهُمْ لَا يَعْلَمُونَ
“Atau siapakah yang telah menjadikan bumi sebagai tempat
berdiam, dan yang menjadikan sungai-sungai di celah-celahnya, dan yang
menjadikan gunung-gunung untuk (mengkokohkan) nya dan menjadikan suatu pemisah
antara dua laut? Apakah di samping Allah ada tuhan (yang lain)? Bahkan
(sebenarnya) kebanyakan dari mereka tidak mengetahui.”
QS. An-Naml : 63
أَمَّنْ
يَهْدِيكُمْ فِي ظُلُمَاتِ الْبَرِّ وَالْبَحْرِ وَمَنْ يُرْسِلُ الرِّيَاحَ
بُشْرًا بَيْنَ يَدَيْ رَحْمَتِهِ أَئِلَهٌ مَعَ اللَّهِ تَعَالَى اللَّهُ عَمَّا
يُشْرِكُونَ
“Atau siapakah yang memimpin kamu dalam kegelapan di daratan dan
lautan dan siapa (pula) kah yang mendatangkan angin sebagai kabar gembira
sebelum (kedatangan) rahmat-Nya? Apakah di samping Allah ada tuhan (yang lain)?
Maha Tinggi Allah terhadap apa yang mereka persekutukan (dengan-Nya).”
QS. Ar-Rum : 41
ظَهَرَ
الْفَسَادُ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِي النَّاسِ
لِيُذِيقَهُمْ بَعْضَ الَّذِي عَمِلُوا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ
“Telah nampak kerusakan di
darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah
merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka
kembali (ke jalan yang benar).”
QS. Luqman : 27
وَلَوْ
أَنَّمَا فِي الْأَرْضِ مِنْ شَجَرَةٍ أَقْلَامٌ وَالْبَحْرُ يَمُدُّهُ مِنْ
بَعْدِهِ سَبْعَةُ أَبْحُرٍ مَا نَفِدَتْ كَلِمَاتُ اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ عَزِيزٌ
حَكِيمٌ
“Dan seandainya pohon-pohon di bumi menjadi pena dan laut
(menjadi tinta), ditambahkan kepadanya tujuh laut (lagi) sesudah (kering) nya,
niscaya tidak akan habis-habisnya (dituliskan) kalimat Allah. Sesungguhnya
Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.”
QS. Luqman : 31
أَلَمْ
تَرَ أَنَّ الْفُلْكَ تَجْرِي فِي الْبَحْرِ بِنِعْمَةِ اللَّهِ لِيُرِيَكُمْ مِنْ
ءَايَاتِهِ إِنَّ فِي ذَلِكَ لَآيَاتٍ لِكُلِّ صَبَّارٍ شَكُورٍ
“Tidakkah kamu memperhatikan bahwa sesungguhnya kapal itu
berlayar di laut dengan ni`mat Allah, supaya diperlihatkan-Nya kepadamu
sebagian dari tanda-tanda (kekuasaan) -Nya. Sesungguhnya pada yang demikian itu
benar-benar terdapat tanda-tanda bagi semua orang yang sangat sabar lagi banyak
bersyukur.”
e.
Asbabun Nuzul
Imam Hakim dan lain-lainnya
mengetengahkan sebuah hadits melalui sahabat Ibnu Abbas r.a. yang menceritakan,
bahwa orang-orang Quraisy berkata kepada orang-orang Yahudi, “Berikanlah kepada
kami sesuatu untuk kami tanyakan kepada lelaki ini (Nabi Muhammad)1”.
Lalu orang-orang Yahudi itu berkata, “Tanyakanlah kepadanya tentang roh”, lalu
orang-orang Quraisy menanyakan kepada Nabi Shollallahu ‘Alaihiwasallam. maka
turunlah firman-Nya, “Dan mereka bertanya kepadamu tentang roh. Katakanlah,
‘Roh itu termasuk urusan Rabbku, dan tidaklah kalian diberi pengetahuan melainkan
sedikit.’” (Q.S. Al Isra: 85). Di kala itu juga orang-orang Yahudi berkata,
“Kami telah diberi ilmu yang banyak.Kami telah diberi kitab Taurat; barang
siapa yang diberi kitab Taurat, maka sungguh ia telah diberi kebaikan yang
banyak.”Maka turunlah firman-Nya menyanggah perkataan mereka, yaitu Surat
Al-Kahfi:109.
f.
Tafsir Tekstual
Allah
SubhaanallahuWata’aalaberfirman, katakanlahhai Muhammad seandainya air
lautitudijadikantintapenauntukdigunakanmenuliskalimat-kalimat Allah
SubhaanallaahuWata’aalahukum-hukum-Nya, ayat-ayat yang menunjukankekuasaan-Nya,
niscayaakanhabis air lautitusebelumpenulisansemuanyaituselesai. ﴿ و لو
جئنا بمثله﴾“Meskipun Kami
datangkantambahansebanyakitu pula”.[1]
Yakni, sepertilaut yang lain, lalu yang lain lagi,
danseterusnyadankemudiandipergunakanuntukmenulissemuanyaitu,
niscayakalimat-kalimat Allah Ta’aalaitutidakakanselesai (habis) ditulis.
Sebagaimana yang DiafirmankandalamsuratLuqman: 27.
Katakanlah
hai Muhammad, kepada mereka bahwa ilmu Allah itu amat luas. “Sekiranya air laut
menjadi tinta untuk menulis kalimat-kalimat Tuhanku dan ilmu-Nya, pastilah air
laut itu habis sebelum seluruh ilmu Allah ditulis.” Bahkan, sekalipun
didatangkan kembali air laut yang berlipat-lipat banyaknya, air laut itu lebih
dahulu
habis sebelum penulisan ilmu Allah
selesai. Hal itu mengherankan, karena ilmu Allah tiada berkesudahan, sedangkan
air laut terrbatas jumlahnya.
Orang-orang
Yahudi bermaksud memperlihatkan adanya pertentangan dalam Al-Qur’an. Berkenaan
dengan itu, Allah menurunkan ayat ini.
Yang
dimaksud dengan “kalimat-kalimat Allah” adalah kalimat penciptaan “kun”
(jadilah). Dengan kata ini Allah menciptakan sesuatu dan terjadilah sesuatu
itu. Penciptaan Allah tidak terbatas dan tidak berpenghujung. Sebab Allah itu
Maha Pencipta, yang senantiasa menciptakan alam dunia dan akhirat, sehingga
sempurnalah nikmat yang diperoleh para mukmin dan terus-menerus memuncaklah
azab yang diderita oleh orang-orang kafir.
Ilmu
pengetahuan sekarang membuktikan bahwa tiap alam, baik alam bumi maupun langit
terdapat nikmat yang tidak dihitung jumlah oleh hamba-Nya.
Katakanlah, "Kalau sekiranya lautan airnya (menjadi
tinta) yaitu sarana untuk menulis (untuk menulis kalimat-kalimat Rabbku) yang
menunjukkan kepada kebijaksanaan-kebijaksanaan dan keajaiban-keajaiban
ciptaan-Nya, seumpamanya hal itu ditulis (sungguh habislah lautan itu) untuk
menulisnya (sebelum habis) dapat dibaca Tanfadza atau Yanfadza, yakni sebelum
habis ditulis (kalimat-kalimat Rabbku, meskipun Kami datangkan sebanyak itu)
lautan yang sama (sebagai tambahan tintanya.") niscaya tambahan ini pun
akan habis pula, sedangkan kalimat-kalimat Rabbku masih belum habis ditulis.
Lafal Madadan dinashabkan karena menjadi Tamyiz.[2]
Lautan
merupakan daerah yang paling luas dan paling berlimpah yang dikenal oleh
manusia. Manusia menulis dengan tinta pada tulisan-tulisannya. Setiap ilmu yang
mereka tuliskan disangka sebagai ilmu yang berlimpah dan luas.
Arahan
redaksi ayat memaparkan kepada manusia tentang lautan yang luas dan berlimpah
dalam bentuk tinta yang digunakan untuk
menulis kalimat-kalimat Allah yang menunjukkan tentang ilmu-Nya. Namun, ait
laut telah habis, sedangkan kalimat-kalimat Allah tidak habis. Kemudian Allah
menyuplai bagi mereka lagi lautan lain, lautan itu pun habis namun
kalimat-kalimat Allah masih menanti tinta lain.[3]
Dengan
pendekatan yang nyata dan gerakan yang terlihat ini, Al-Qur’an mendekatkan
gambaran pemahaman manusia yang terbatas terhadap makna yang tak terbatas.
Sebesar dan seluas apa pun pengetahuan manusia, maka itu relative terbatas.
Sebuah
makna umum akan tetap rancu dan buram dalam persepsi manusia hingga ia
digambarkan dalam bentuk yang nyata. Walaupun akal manusia telah mampu
menganalisis, namun ia tetap membutuhkan sarana-sarana ilustrasi berupa
gambar-gambar, bentuk-bentuk, cirri-ciri, dan contohcontoh. Itulah kondisinya
ketika berinteraksi dengan makna-makna yang terbatas. Lalu, bagaimana dengan
makna-makna yang tak terbatas:
Untuk
itulah, Al-Qur’an banyak memberikan perumpamaan bagi manusia. Al-Qur’an
mendekatkan kepada pancaindra manusia, nilai-nilainya yang besar dengan
meletakkannya dalam gambaran-gambaran dan kejadian-kejadian, berbentuk
gambar-gambar yang nyata, cirri-ciri dengan batasan-batasannya, dan
perumpamaan-perumpamaannyaseperti perumpamaan ini.
Lautan
dalam perumpamaan ini menggambarkan ilmu manusia yang disangkanya luas dan
berlimpah, sedangkan ilmunya ( seluas
apa pun dan seberlimpah apa pun ) tetaplah terbatas. Kalimat-kalimat Allah di
sini menggambarkan ilmu Ilahi yang tak terbatas dan tidak diketahui oleh
manusia puncaknya. Bahkan, tidak mungkin bisa mempelajari dan merekamnya,
apalagi mengiutinya.
Kadangkala
manusia lupa daratan berhasil menyingkap tabir rahasia pada dirinya dan di
angkasa. Sehingga, kebanggaan pencapaian ilmiah itu membuat mereka seolah-olah
telah mengetahui segala sesuatu, atau sedang berada di atas jalan menuju ke
sana.
Tetapi,
perkara-perkara yang majhul masih terus menggoda mereka dengan jangkauan-jangkauannya
yang tak terbatas yang menyadarkan mereka bahwa mereka masih berada di
pinggiran, sementara target masih jauh di hadapan sejauh pandangan mata.
Sesungguhnya apa yang dapat dipelajari dan
direkam oleh manusia dari ilmu Allah sangat sedikit. Karena ilmu manusia sangat
terbatas, sementara ilmu Allah tidak terbatas.
Jadi,
hendaklah manusia berusaha mengetahui apa yang dapat diketahuinya, dan menyingkap
tabir yang dapat disingkapinya. Tetapi, hendaklah ia berhenti dari kesombongan
ilmiahnya, karena tinta yang ada di tangannya belum habis untuk menuliskannya.
Bahkan, bila laut pun habis, maka kalimat-kalimat dan ilmu-ilmu Allah tidak
akan pernah habis. Bahkan, bila Allah pun menyuplai lautan serupa lagi kemudian
habis juga, maka kalimat-kalimat dari ilmu-ilmu Allah tidak pernah akan habis.
Para
ulama berpendapat bahwa ayat ini turun sebagai komentar ucapan sementara orang
Yahudi yang menanggapi firman Allah “Kami diberi pengetahuan kecuali sedikit:
(QS. Al-Isra [17]:85) dengan menyatakan “Kami telah diberi Taurat, dan siapa
yang diberi Taurat maka dia dianugerahi kebajikan yang banyak.” Dalam riwayat
at-Tirmidzi melalui Ibnu Abbas r.a. dinyatakan bahwa tokoh Yahudi, Huyar Ibn
Akhthab, berkata, dalam kitab kamu (Al-Qur’an) dikatakan bahwa “Siapa yang
dianugerahi hikmah maka dia telah dianugerahi kebajikan yang banyak” (QS.
Al-Baqoroh[2]:269). Kemudian, di kali lain dikatakan “Kamu tidak diberi
pengetahuan kecuali sedikitu.” ( Sungguh ini sesuatu yang bertentangan).
“Maka, turunlah ayat ini.[4]
Ayat
ini menurut Thabaththaba’i- boleh jadi turun tidak berkaitan dengan uraian
ayat-ayat yang lalu. Namun demikian, tulisnya, ia mempunyai keterkaitan yang
erat dengan semua uraian surah ini. Ini terlihat jika kita memerhatikan awal
surah ini yang mengisyaratkan sekian banyak hakikat Ilahiah bermula dari
hiburan yang disampaikan kepada Nabi Muhammad Shollallahu ‘alaihiwasallam,
menghadapi pembangkangan kaumnya yang sedang tidur nyenyak. Namun pasti suatu
ketika mereka akan terbangun.
Thabathabi’I
menjelaskan makna kata (كلمات) terdapat dua hal. Pertama, bahwa
kata kalimat dapat menjadi tunggal dan juga jamak, seperti penyebutan kata
kalimat dalam bentuk tunggal pada firman-Nya QS. Al-Imron: 64
قُلْ يَا أَهْلَ
الْكِتَابِ تَعَالَوْا إِلَى كَلِمَةٍ سَوَاءٍ بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمْ أَلَّا
نَعْبُدَ إِلَّا اللَّهَ وَلَا نُشْرِكَ بِهِ شَيْئًا وَلَا يَتَّخِذَ بَعْضُنَا
بَعْضًا أَرْبَابًا مِنْ دُونِ اللَّهِ فَإِنْ تَوَلَّوْا فَقُولُوا اشْهَدُوا
بِأَنَّا مُسْلِمُونَ“Katakanlah:` Hai Ahli Kitab, marilah kepada suatu kalimat
(ketetapan) yang tidak ada perselisihan antara kami dan kamu, bahwa tidak kita
sembah kecuali Allah dan tidak kita persekutukan Dia dengan sesuatupun dan
tidak (pula) sebagian kita menjadikan sebagian yang lain sebagai tuhan selain
daripada Allah. Jika mereka berpaling maka katakanlah kepada mereka:
`Saksikanlah, bahwa kami adalah orang-orang yang menyerahkan diri (kepada Allah”.
Baca
kata (كلمة ) kalimah berbentuk tunggal tetapi mengandung sekian banyak hal.
Dari sini, kalimah dipahami dalam arti firman atau ketetapan-Nya, seperti
firman-Nya (وَتَمَّتْ
كَلِمَتُ رَبِّكَ ) “Telah sempurna
kalimat tuhan-Mu” (QS. Al-A’rof [7]: 137) atau QS. Yunus [10]: 19.
Perlu digarisbawahi Allah Subhaanallahu
Wata’aala tidak berfirman dengan menggunakan mulut. Tetapi, firman-Nya adalah
perbuatan-Nya atau wujud yang dilimpahkan-Nya kepada sesuatu.
انما قولنا
ليشيء اذا اردنه ان نقول له كن فيكون
“ Sesungguhnya
perkataan Kami terhadap sesuatu apabila Kami menghendakinya, Kami hanya
berfirman kepadanya, “Kun (jadilah),” maka jadilah ia” (QS. An-Nahl:[16]:
40). Ini dinamakan “kalimah” karena ia merupakan ayat (tanda) yang
menunjuk kepada wujud dan kebesaran Allah Subhaanallahu Wata’aala. Karena itu,
Al-Masih putra Maryam dinamakan, “kalimah-Nya.” Karena beliau adalah
bukti atau tanda yang sangat jelas bagi wujud dan kuasa Allah Subhaanallahu Wata’aala.
Dengan demikian, tulis Thabathabi’I, tidak ada sesuatu yang wujud atau
peristiwa yang terjadi, yakni dari sisi fungsinya sebagai ayat tanda yang
menunjuk kepada-Nya, kecuali ia adalah kalimat Allah Subhanallahu Wata’aala.
g. Implementasi
Pengaplikasian
atau penerapan ayat tersebut telah dilaksanakan oleh sebagian umat manusia.
Mengapa hanya sebagian? Karena umat manusia memiliki keyakinann dan tingkatan
iman yang berbeda-berbeda. Ada yang sepenuhnya percaya atas kesempurnaan ilmu
hanya milik Allah dan ada juga yang sebenarnya yakin, tetapi mereka tetap kufur
kepadan-Nya.
h. Hikmah
Dari ayat di atas Allah menyampaikan
pesan-Nya, pengetahuan yang dititipkan kepada manusia itu sedikit. Dan dengan
sedikit ilmu, manusia menjadi sombong.
Padahal manusia tidak memiliki ilmu yang sempurna, maka jika Allah berkehendak, Dia dapat
melenyapkannya, sirna tidak berbekas. Lantas apa yang akan kita sombongkan
lagi? Tidak akan ada pembelaan (perlindungan) kecuali atas izin-Nya. Dikunci
dengan penjelasan, bahwa karunia yang dikucurkan-Nya besar. Seperti dijelaskan
pada surat Al Kahfi 109 di atas. Demikian besar nikmat Tuhan.
i.
Rekomendasi
Telah jelas bahwa
Allah-lah pemilik ilmu yang sempurna. Meskipun ilmu kita ditambahkan lagi
bahkan di ibaratkan seperti lautan, itu tidak ada apa-apanya di mata Allah. Dengan memahami maksud ayat di atas, akan menjadikan manusia menemukan
jati dirinya bahwa ia sangat terbatas dalam segala hal.
2. QS. Luqman : 27
a. Ayat dan Terjemah
وَ لَوْ اَنَ مَا فِى الْاَرْضِ مِنْ شَجَرَةٍ اَقْلاَمٌ وَ اْلبَحْرُ
يَمُدُه مِنْ بَعْدِه سَبْعَةُ اَبْحُرٍ مَا نَفِدَتْ كَلِمَاتُ اللهِ اِنَ اللهَ
عَزِيْزٌ حَكِيْمٌ
“Dan seandainya pohon-pohon di bumi menjadi penadanlautan
(menjaditinta), ditambahkankepadanyatujuhlautan (lagi) setelah (kering) nya,
niscaya tidak akan habis-habisnya (dituliskan) kalimat-kalimat Allah.[5]Sesungguhnya
Allah Maha Perkasa, Maha Bijaksana.
b.
Mufrodat
يَمُدُه : menambahkannya dengan
tambahan.
مَا نَفِدَتْ : Tidak akan habis.
كَلِمَاتُ الله : Ilmu-ilmu Allah SWT.
c.
Bahasa (Nahwu, Shorof dan Balaghoh)
و : حرف العطف مبني علي الفتح لا محل له من الاعراب
ما : اسم الموصول
في الارض : جر و مجرور
اقلام : اسم مصد
يمد : فعل مضضارع مرفوع
لتجرده عن الناصب و الجازم و علامة رفعه صمة ظاهرة فى اخره و فاعله ضمىر
مستتر فيه و جوبا تقدىره هو
يمد : اصله يَمْدُدُ على وزن يَفْعُلُ سكنت الدال الاولى بنقل الحركة الى
ما قبلها الساكن , فصار يَمُدْدُ , ثم ادغمت الدال الاولى فى الثانية , فصار
يَمُدُ , و كذا الخ.
ان : حرف النصب و التوكيد مبني على الفتح لا محل له من الاعراب
الله : اسم كان وهو مرفوع و علامة نصبه فتحة ظاهرة في اخره
عزيز : خبر ان وهو مرفوع و علامة رفعه ضمة ظاهرة في اخره
حكيم : بدل
d.
Munasabah
·
Hubungan surat dengan surat sebelumnya
a)
Kedua surat diawali dengan menyebutkan adanya manusia yang iman dan
manusia yang kafir. Perbedaannya, dalam surat Ar-Rum yang ditekankan adalah
kehancuran orang-orang kafir, sedangkan dalam surat Luqman yang ditekankan
adalah keberuntungan yang akan diperoleh oleh orang-orang yang beriman dan
berbuat baik.
b)
Kedua ayat menjelasakan bahwa alam adalah tanda bahwa adanya Allah
dan kekuasaannya.
c)
Kedua sikap sama-sama mengetengahkan sikap kaum kafir terhadap
Al-Qur’an, surat Ar-rum orang kafir menyatakan bahwa Al-Qur’an itu batil
sedangkan Luqman menyatakan sikap orang kafir yang selalu membelakangi
Al-Qur’an dan tidak mau mendengarkannya.
d)
Kedua surat tersebut menegaskan akan kepastian hari kiamat dan
kepastian akan janji-janji Allah.[6]
·
Munasabah surat Luqman dengan surat As-Sajdah
Dalam kedua surat ini banyak menyebutkan
dalil-dalil dan bukti keesaan Allah, selain itu, surat Luqman menyebutkan
keingkaran kaum musyrik terhadap Al-Qur’an, sedangkan as-Sajdah menegaskan
Al-Qur’an itu benar-benar datang dari Allah.[7]
e.
Asbabun Nuzul
Diriwayatkan oleh Ibnu Jarir yang
bersumber dari ‘Ikrimah bahwa ahli kitab bertanya kepada Rasulullah saw.
tentang ruh. Pertanyaan ini dijawab oleh Nabi Muhamad saw. dengan firman Allah,
surat al-Israa ayat 85 yang menegaskan bahwa ruh adalah urusan Allah, dan
manusia hanya diberi ilmu yang sangat sedikit. Ahli kitab berkata: “Engkau
menganggap bahwa kami tidak diberi ilmu kecuali hanya sedikit, padahal kami
telah diberi Taurat. Taurat adalah hikmah.Dan barang siapa yang diberi hikmah,
sesungguhnya ia telah diberi kebaikan yang banyak.” Maka turunlah ayat ini
(Luqman: 27) sebagai penjelasan bahwa ilmu yang diberikan kepada manusia
hanyalah sedikit, sedangkan ilmu Allah tidak mungkin dapat dicatat karena
sangat banyak.
Diriwayatkan oleh Ibnu Ishaq yang
bersumber dari ‘Atha’ bin Yasar. Diriwayatkan pula oleh Ibnu Abi Hatim dari
Sa’id atau ‘Ikrimah yang bersumber dari Ibnu ‘Abbas bahwa ketika Rasulullah
saw.berada di Mekah, turunlah ayat…. Wa maa uutiitum minal ‘ilmi illaa
qaliilaa…( … dan tidaklah kamu diberi pengetahuan melainkan sedikit) (al-Israa:
85). Setelah beliau hijrah ke Madinah, datanglah kepada beliau pendeta-pendeta
Yahudi seraya berkata: “Apakah benar apa yang telah sampai kepada kami ini,
bahwa engkau berkata: ‘hanya sedikit ilmu yang diberikan oleh Allah’. Apakah
perkataan itu ditujukan kepada kami atau kepada kaummu?” Bersabdalah Rasulullah
saw.: “Kami tujukan kepada dua-duanya.” Mereka berkata: “Bukankah engkau telah
membaca (dalam al-Qur’an) bahwa kami telah diberi Taurat yang di dalamnya
terdapat keterangan untuk segala perkara.” Bersabdalah Rasulullah saw: “Semua
itu dibanding dengan ilmu Allah sangatlah sedikit.” Ayat ini (Luqman: 27) turun
berkenaan dengan peristiwa tersebut, yang menegaskan bahwa di muka bumi ini
tidak akan ada alat yang mencukupi untuk melukiskan ilmu Allah.
Diriwayatkan oleh Abusy Syaikh di
dalam kitab al-‘Azhamah, dan Ibnu Jarir, yang bersumber dari Qatadah bahwa kaum
musyrikin berkata: “Hampir habis apa yang dikatakan oleh Muhammad.” Ayat
tersebut (Luqman: 27) turun berkenaan dengan ucapan mereka, yang menegaskan
bahwa ilmu Allah itu tidak akan ada habis-habisnya.
f.
Tafsir Tekstual
Yaitu,
sekalipun seluruh pohon-pohon di bumi menjadi pena dan laut menjadi tinta
ditambahkan kepadanya tujuh lau tbersamanya, lalu dengan itu semua ditulis
kalimat-kalimat Allah yang menunjukkan kebesaran, sifat-sifat keagungan-Nya,
niscaya pena-pena itu akan hancur dan air laut itu akan kering, sekalipun
didatangkan tinta sejumlah bilangan itu pula. Kata tujuh disebutkan untuk
menunjukkan maksimalisasi dan tidak dimaksudkan untuk membatasi.Yaitu,
sekalipun pohon-pohon di bumi menjadi pena dan disertai dengan tujuh lautan
yang ada, niscaya keajaiban-keajaiban Rabb-ku, kebijaksanaan, penciptaan dan pengetahuan-Nya
tidak akan terjangkau.[8]
Ar-Rabi’ bin Anas berkata:
“Sesungguhnya perumpamaan pengetahuan seluruh manusia di dalam Ilmu Allah
adalah seperti setetes air lautan dengan lautan tersebut. Dan Firman-Nya, ان الله عزيز حكيم“Dan sesungguhnya Allah Maha
Perkasa Maha Bijaksana. “Yaitu, Maha Perkasa yang perkasa, memaksa dan
mendominasi segala sesuatu.Tidak ada yang mampu mencegah apa yang
dikehendaki-Nya, tidak ada yang mampu menyelisihi dan menentang
kebijaksanaan-Nya.Dia Maha Bijaksana kepada makhluk-Nya dalam penciptaan,
perintah, perbuatan-perbuatan, perkataan-perkataan, syari’at dan seluruh
keadaan-Nya.
Dan firman Allahمَا
خَلَقَكُمْ وَ لَا بَعْثُكُمْ اِلَا كَنَفْسٍ وَاحِدَةٍ“Tidaklah Allah menciptakan dan membangkitkanmu (dari dalam
kubur) itu, melainkan hanyalah seperti(menciptakan dan membangkitkan) satu jiwa
saja. “Yaitu, (ditinjau dari kekuasaan
Allah, dalam menciptakan seluruh manusia dan membangkitkan mereka kembali pada
hari Kiamat, sama mudahnya dengan menciptakan satu jiwa saja). Seluruhnya amat
mudah bagi-Nya.
اِنَمَا اَمْرُه
اِذَا اَرِاذِ شَئْاً اَنْ يَقُوُلَ لَه كُنْ فَيَكُوْن
“Sesungguh-Nya perintah-Nya apabila
Dia menghendaki sesuatu, hanyalah berkata kepadanya: ‘Jadilah! Maka jadilah ia.
(Qs. Yaasiin: 82).
Yaitu, Dia tidak memerintahkan sesuatu kecuali satu kali, lalu sesuatu itu ada
dan tidak perlu diulang dan diperkuat.Dan firman-Nya﴾ان الله سميع بصير “Sesungguhnya Allah Maha
Mendengar lagi Maha Melihat, yaitu sebagaimana Dia Maha Mendengar
perkataan-perkataan mereka, seperti Dia mendengar dan melihat kepada satu jiwa
saja, maka demikian pula kekuasaan-Nya kepada mereka seperti kekuasaan atas
satu jiwa.
اَلَمْ تَرَ
اَنَ اْلفُلْكَ تَجْرِيْ فىِ الْبَحْرِ بِنِعْمَتِ اللهِ لِيُرِيَكُمْ مِنْ ايته
اِنَ فِيْ ذلِكَ لايتِ لِكُلِ صَبَارٍ شَكُوْرٍ
Tidakkah engkau
memperhatikan bahwa sesungguhnya kapal itu berlayar di lautdengan nikmat Allah,
agar diperhatikan-Nya kepadamu sebagian dari tanda-tanda
(kebesaran)-Nya.Sungguh, pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda (kebesaran)-Nya
bagi setiap orang yang sangat sabar dan banyak bersyukur.
اِنَ اللهَ
عِنْدَه عِلْمُ السَاعَةِ وَ يُنَزِلُ اْلغَيْثَ وَ يَعْلَمُ مَا فىِ الْاَرْحَامِ
وَمَا تَدْرِيْ نَفْسٌ مَا ذَا تَكْسِبُ غَدًا وَ مَا تَدْرِيْ نَفْسٌ بِاَيِ
اَرْضٍ تَمُوْتُ اِنَ اللهَ عَلِيْمٌ خَبِيْرٌ
“Sesungguhnya hanya di sisi Allah
ilmu tentang hari kiamat; dan Dia yang menurunkan hujan, dan mengetahui apa
yang ada dalam Rahim. Dan tidak ada seorang pun yang dapat mengetahui (dengan
pasti) apa yang akan dikerjakannya besok. Dan tidak ada seorang pun yang dapat
mengetahui di bumi mana dia akan mati. Sungguh, Allah MahaMengetahui, Maha
Mengenal.
“Dan
seandainya pohon-pohon di bumi menjadi pena dan laut “ lafal al-bahru diathafkan kepada isimnya anna
(ditambahkan kepadanya tujuh laut sesudahnya) sebagai tambahannya sesudah
keringnya laut (niscaya tidak akan habis-habisnya kalimat Allah) yang
mengungkapkan tentang pengetahuan-pengetahuan-Nya dengan menuliskannya dengan
memakai pena-pena itu dan berikut tambahan tujuh laut sebagai tintanya, serta
tidak pula dengan tambahan yang lebih banyak dari itu, karena pengetahuan Allah
tiada batasnya. (Sesungguhnya Allah Maha Perkasa) tidak ada sesuatu pun yang dapat menghalang-halangi-Nya (lagi Maha
Bijaksana) tidak ada sesuatu pun yang terlepas dari pengetahuan dan
kebijaksanaan-Nya.[9]
g. Implementasi
Pengaplikasian
dalam kehidupan sehari-hari , tidak semuanya menyadari akan kesempurnaan
ilmu-Nya. Hanya orang-orang yang beriman dan bertaqwa yang sepenuhnya menyadari
akan hal ini. Bersyukurlah bagi orang yang beriman dan bertaqwa, karena mereka
adalah orang-orang yang terpilih.
h. Hikmah
Dari
ayat tersebut, kita dapat mengetahui bahwa kesempurnaan ilmu hanya milik Allah
SWT. Dan harus ditanamkan dalam hati
bahwa seluas apapun pengetahuan atau ilmu kita,tidak setara dengan ilmu sang
kholiq. Karena Allah mengetahui apa yang tidak kita ketahui.
i.
Rekomendasi
Ayat ini adalah suatu motifasi terhadap segenap manusia untuk mengakui
bahwa kebesaran Allah swt.tidak ada yang menandinginya.Berbagai mufassir menyatakan
bahwa yang dimaksud dengan ayat di atas adalah menginformasikan kepada mereka
yang bergelut di bidang ilmu pengetahuan kiranya dapat menahan dirinya dari
kesombongan. Betapun ia (mungkin) diakui sebagai orang yang banyak ilmu, tetapi
sebenarnya ia adalah orang memiliki sedikit ilmu. Dalam hal ini, al-Maragi
memberikan komentar bahwa biarpun sampai habis air laut dijadikan tinta untuk
menulis tanda-tanda kebesaran Allah swt.tidak akan terwujud penulisan itu
sampai selesai. Itu disebabkan karena ilmu Allah swt.sangatlah banyak luas
sedangkan ilmu manusia sangat sangatlah sedikit dan sempit.[10]
3. QS.Saba : 1-2
a. Ayat dan terjemah
اَلْحَمْدُ لِلهِ الَذِيْ لَه مَا فِى السَموَاتِ وَ مَا فىِ
الْاَرْضِ وَ لَهُ الْحَمْدُ فىِ الْاخِرَةِ
وَهُوَ الْحَكِىْمُ الْخَبِىْرُ {1}
يَعْلَمُ مَا يَلِجُ فىِ الْاَرْضِ وَ مَا يَخْرُجُ مِنْهَا وَ مَا
يَنْزِلُ مِنَ السَمَاءِ وَ مَا يَعْرُجُ فِيْهَا وَ هُو َالرَحِيْمُ
الْغَفُوْرُ{}
“Segala puji bagi Allah yang memiliki apa yang ada di langit
dan apa yang ada di bumi dan segala puji di akhirat bagi Allah. Dan Dialah Yang
Maha Bijaksana, Maha Teliti.
“Dia mengetahui apa yang masuk kedalam bumi, apa yang keluar
darinya, apa yang turun dari langit dan apa yang naikkepadanya. Dan Dialah Yang
Maha Penyayang, Maha Pengampun”.
b.
Mufrodat
ما يلج : Apa yang masuk
“seperti air dan lain-lain”.
ما يعرج : Apa yang naik seperti
amal-amal perbuatan dan para malaikat. .
c.
Bahasa (Nahwu, Shorof dan Balaghoh).
الحمد : مبتدء وهو مرفوع وعلامة رفعه ضمة ظاهرة في اخره
لله : جر و مجرور في محل خبر
الذي : اسم الموصول
في الارض : جر و مجرور
يعلم : فعل مضارع مرفوع لتجرده عن الناصب و الجازم وعلامة رفعه ضمة
طاهرة في اخره و فاعله ضمير مستتر فيه جوازا تقديره انت
يعلم : عَلِمَ يَعْلَمُ على وزن فَعِلَ يَفْعَلُ
يخرج : خَرَجَ يَخْرُجُ على وزن فَعْلُ يَفْعُلُ
d.
Munasabah
·
Hubungan ayat dengan ayat
Hubungan
kalimat dengan kalimat dalam ayat (ditandai huruf athof)
Ungkapan مَا يَلِجُ فِيْ
الْأَرْضِ وَمَا يَخْرُجُ seolah-olah tidak berhubungan dengan ungkapan
وَمَا يَنْزِلُ
مِنَ السَّمَاءِ وَمَا يَعْرُجُ فِيْهَا sebab yang
pertama berbicara tentang sesuatu yang masuk dan keluar dari bumi sedangkan
yang terakhir berbicara tentang sesuatu yang turun dari langit. Akan tetapi,
kedua ungkapan itu masih berhubungan dan saling terkait antara satu dengan yang
lainnya.Sebab fokus pembicaraannya masalah ilmu tuhan. Dia mengetahui apa saja
yang terjadi di langit dan di bumi, kedua ungkapan itu membicarakan topik yang
sama yaitu ilmu Allah.[11]
·
Hubungan ayat
dengan ayat yang sama
Al-Fatihah :1
“
Kemudian Adam menerima beberapa kalimat dan tuhannya , maka Allah menerima
tibatnya, sesungguhnya Allah maha penerima tobat lagi maha penyayang.” (Q.S Al-Baqarah : 37)
Untuk
menjelaskan kata ‘kalimat’ pada firman Allah Ta’ala di
atas ,nabi mengemukakan ayat.
Keduanya
berkata, : ya Tuhan kami, kami telah menganiaya diri kami sendiri, dan jika
engkau tidak mengampuni rahmat kepada kami, niscaya pastilah kami termasuk
orang-orang merugi.” (Q.S
Al-A’raaf : 23)
e.
Asbabun Nuzul
f.
Tafsir Tekstual
Allah Ta’ala
mengabarkan tentang diri-Nya yang mulia, bahwa Dia memiliki pujian mutlak di
dunia dan di akhirat.Karena sesungguhnya Dia adalah Maha Pemberi nikmat,
pemberi keutamaan kepada penghuni dunia,pemilik dan penguasa terhadap
seluruhnya. Sebagaimana firman-Nya QS.Saba:1 yang artinya“ Segala puji bagi Allah yang memiliki apa yang ada di langit dan
apa yang ada di bumi.”Yakni semuanya adalah milik dan abdi-Nya, serta
di bawah pengurusan dan kekuasaan-Nya.Sebagaimana Allah Ta’ala berfirmanو ان لنا للا خرة و الاولى“Dan sesungguhnya
kepunyaan Kamilah akhirat dan dunia.”(Qs.Al-Lail:13).[12]
Kemudian ayat
selanjutnya yang artinya“ Dan
bagi-Nya (pula) segala puji di akhirat.” Dia Rabb yang diibadati
selama-lamanya serta dipuji sepanjang masa.Selain itu juga Dia adalah Maha
Bijaksana, baik dalam perkataan, perbuatan, syari’at, dan ketentuan-Nya serta
tidak ada satu pun yang samar dan tersembunyi dari-Nya.
Malik berkata dari
Az-Zuhri, Maha Mengetahui dengan ciptaan-Nya dan Maha Bijaksana dengan
perintah-Nya.Untuk itu Allah berfirman dalam ayat 2 yang bermakna bahwa Allah
Maha Mengetahui jumlah hujan yang turun
di sudut-sudut bumi, serta biji yang ditanam di dalamnya. Allah Maha Mengetahui
apa yang keluar darinya, baik kuantitas, kualitas atau pun sifatnya. Kemudiana
pa yang turun dari langit, yaitu berupa hujan dan rizki dan apa yang naik
kesana berupa amal-amal sholih, Maha Penyayang kepada hamba-hamba-Nya, di mana
pelaku maksiat di kalangan mereka tidak segera disiksa. Allah MahaPengampun
terhadap dosa-dosa orang yang bertaubat dan bertawakkal kepada-Nya.
Segala puji bagi
Allah SWT. Memuji diri-Nya dengan kalimat ini, maksudnya ialah pujian
berikut apa yang terkandung di dalamnya yaitu pujian yang bersifat tetap.
Memuji Allah artinya menyanjung-Nya dengan sebutan-sebutan yang baik (yang
memiliki apa yang di langit dan apa yang di bumi) [13]sebagai
milik dan makhluk-Nya (dan bagi-Nya pula segala puji di akhirat) sebagaimana di
dunia, yaitu Dia dipuji oleh kekasih-kekasih-Nya bilamana mereka telah berada
di dalam surga. (Dan Dialah Yang Maha Bijaksana) di dalam perbuatan-Nya (lagi
Maha Mengetahui) tentang makhluk-Nya.
Dia mengetahui apa yang
masuk yang meresap ke dalam bumi seperti air dan lain-lainnya dan apa yang
keluar daripadanyaseperti tumbuh-tumbuhan dan lain-lainnya dan apa yang turun
dari langit berupa rezeki atau hujan dan lain-lainnya dan apa yang naikyakni
yang terangkat (kepadanya) berupa amal perbuatan dan lain-lainnya. Dan Dialah
Yang Maha Penyayang kepada kekasih-kekasih-Nya lagi Maha Pengampun kepada
mereka.
Segala puji kepunyaan Allah [14]yang
memiliki segala yang ada di langit dan di bumi. Dan kepunyaan-Nya juga segala
puji di akhirat kelak. Dia Maha Bijaksana dan Maha Mengetahui.[15]
Dan apa yang keluar dari sana, misalnya hewan-hewan
tumbuh-tumbuhan, gas alam, minyak bumi, mata air, barang-tambang, dan
sebagaonya.
Apa-apa
yang turun dari langit, misalnya malaikat, kitab-kitab, rezeki, hujan dan
petir.
Apa-apa yang naik ke sana, misalnya Malaikat, amal (do’a) hamba
Allah, uap, asap, burung-burung, pesawat ruang angkasa dan sebagainya. [16]
g.
Implementasi
Dalam kehidupan ini, terdapat beberapa kelompok yang tidak percaya
bahwa alam semesta dan isinya ini, diciptakan oleh Allah Subhaanallahu
Wata’aala.Mereka menyatakan bahwa, alam ini sudah semestinya ada karena manusia
hidup di dunia.
h.
Hikmah
Adanya alam semesta dan seluruh
isinya semata-mata atas qudrot dan irodah-Nya.Dengan demikian yang wajib dipuji
hanyalah Allah SWT . Kita dapat memuji-Nya melalui asma-asma-Nya yang baik dan
Dia adalah Maha Segala-galanya.
i.
Rekomendasi
Dalam surat Saba’: 1-2 ini diawali pujian bagi Allah dengan
menyebutkan kekuasaan-Nya. Setelah itu, mengemukakan pengetahuan-Nya yang
universal, kekuasaan-Nya yang menyeluruh pada kehendak-Nya yang bijak.segala-galanya. Maka dari itu, kita wajib
menyembah-Nya dan memuji-Nya sebagai rasa syukur kita kepada-Nya.
BAB
III
PENUTUP
Kesimpulan
Pengetahuan apapun
yang kita miliki, baik ilmu pengetahuan dan teknologi, keterampilan, kesenian,
maupunilmu agama.Kalau kita mengatakan, "Saya beriman dan mengerjakan
rukun Islam" Cukupkah demikian itu menjadi pembelaan di akhirat
kelak?Padahal dijelaskan dalam ayat-ayat di atas, yang demikian itu tiadalah
cukup jika dibandingkan dengan Nikmat-Ku.
DAFTAR
PUSTAKA
Tasir Ibnu Katsir, Tafsir Jalalain,Tafsir Al-Misbah,
Tafsir fi Zhilalil Qur’an,Tafsir Imam Amsyal,Ahmad Mustofa al-Maragiy,Kementriam
agama RI, Qur’an dan Tafsirnya, Tafsir Al-Qur’anul Majid An-Nur.
[1] Tafsir ibnu katsir
[2]Tafsir jalalain
[3] Tafsir fi zhilalil qur’an, jilid 7. Hal 349
[4]Tafsir al-misbah.Jilid 7. Hal 392-394
[5]Ilmu-Nya
dan hikmah-Nya, artinya semua itu tidak cukup untuk menuliskan kalimat Allah.
[6]
Kementrian Agama RI, Qur’an dan Tafsirnya, jilid VII,(Jakarta: Widya
Cahaya, 2011), hal. 533
[8] Tafsir Ibnu Katsir
[9] Tafsir Jalalain
[10] Ahmad Mushtafa al-Maragiy, juz, XXII,op. Cit., Hal. 195
[11]Ibid, 105-106
[12] Tafsir Ibnu Katsir
[13] Tafsir Jalalain
[14]Puji-pujian hanya untuk Allah yang memilii segala yang ada di
langit dan di bumi, bukan untuk yang disembah olek kaum musyrik dan bukan pula
segala yang selain Dia
[15]Mengetahui apa yag masuk ke dalam bumi, misalnya hujan yang meresap
ke dalam tanah pada suatu tempat, kemudian muncul kembali di tempat yang lain,
perbendaharaan yang dipendam, orang-orang mati dan sebagainya.
[16]Az-zikrah terjemah dan tafsir al-qur’an
jilid 5
Tidak ada komentar:
Posting Komentar