MAKALAH
TASAWUF DAN ETOS KERJA
Diajukan untuk memenuhi salah satu tugas
mandiri
Pada mata kuliah Ilmu Tasawuf
Oleh
Rahmatia Sabar 41032124141004
PENDIDIKAN BAHASA ARAB
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS ISLAM NUSANTARA
2016
BANDUNG
KATA PENGANTAR
بسم الله الرحمن الرحيم
السّلام عليكم و رحمة الله و بركاته
Puji syukur kehadirat
Allah SWT karena atas rahmat dan karunia-Nya, saya dapat menyelesaikan makalah
yang berjudul “ Tasawuf dan Etos Kerja”. Sholawat dan salam semoga tetap
tercurah limpahkan kepada kekasih-Nya, Nabi Muhammad SAW, keluarga dan para
sahabatnya.
Adapun tujuan penulisan
makalah ini adalah untuk memenuhi tugas mata kuliah Akhlak Tasawuf dan yang
lebih pentingnya yakni untuk menambah ilmu pengetahuan kepada kita sebagai
mahasiswa tentang ajaran dan kaidah hidup yang Islami.
Makalah ini tentunya
tak luput dari kesalahan dan kekurangan, baik dari segi isinya, bahasa,
analisis maupun yang lainnya. Maka dari itu, komentar maupun kritik dan saran
sangat dibutuhkan oleh penulis untuk memperbaiki hasil karya kedepannya.
Akhir kata, saya ucapkan terima kasih
kepada semua pihak yang telah membantu, terutama kepada dosen pembimbing bapak
Ahmad Khori, M.M.Pd., M.Pd.I yang telah memberikan bimbingan dalam pembuatan
makalah ini.
السّلام عليكم و رحمة الله و بركاته و
Bandung, Mei 2016
Penyususn
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR
DAFTAR ISI
BAB I PENDAHULUAN
a.
Latar
belakang masalah
b.
Pembatasan
makalah
c.
Tujuan
penulisan makalah
BAB
II PEMBAHASAN
a.
Pengertian
tasawuf
b.
Pengertian
etos kerja
c.
Islam
dan pekerjaan
d.
Tasawuf
dan etos kerja
BAB
III KESIMPULAN DAN REKOMENDASI
a.
Kesimpulan
b.
Rekomendasi
DAFTAR
PUSTAKA
BAB I
PENDAHULUAN
a.
Latar
belakang masalah
Hampir di setiap sudut
kehidupan, kita akan menyaksikan begitu banyak orang yang bekerja. Apalagi bagi
seorang muslim bekerja dimaknai sebagai suatu upaya yang sungguh-sungguh,
dengan mengerahkan seluruh aset, pikir, dan dzikirnya untuk mengaktualisasikan atau
menampakkan arti dirinya sebagai hamba Allah SWT yang harus menundukkan dunia
dan menempatkan dirinya sebagai bagian dari masyarakat yang terbaik (khairu ummah) (Tasmara, 2002:25). Atau
dengan kata lain dapat juga kita katakan bahwa dengan hanya bekerja manusia itu
memanusiakan dirinya.
Keberhasilan kerja
seseorang ditentukan oleh adanya etos kerja tinggi yang tertanam dalam dirinya.
Dengan cara memahami dan meyakini ajaran-ajaran agama yang berhubungan dengan
penilaian ajaran agama tersebut terhadap kerja, akan menumbuhkan suatu etos
kerja pada diri seseorang. Pada perkembangan selanjutnya etos kerja ini akan
menjadi pendorong keberhasilan kerjanya. Persoalannya bagaimana konsep etos
kerja dalam Islam yang digali dari Al-Quran dan Hadits.
Mereka yang beretos
kerja memiliki semacam semangat untuk memberikan pengaruh positif kepadanya
bahkan kepada lingkungannya. Keberadaan dirinya diukur oleh sejauh mana potensi
yang dimilikinya memberikan pengaruh mendalam bagi orang lain[1].
b.
Pembatasan
makalah
Makalah ini hanya
membahas tentang Tasawuf dan etos kerja, tidak membahas tasawuf secara umum.
c.
Tujuan
penulisan makalah
Ø Untuk mengetahui pengertian tasawuf
Ø Untuk mengetahui pengertian etos kerja
Ø Untuk mengetahui pembahasan tentang Islam dan pekerjaan
Ø Untuk mengetahui penjelasan tentang tasawuf dan etos kerja
BAB II
PEMBAHASAN
a. Pengertian
Tasawuf
Pengertian tasawuf secara etimologi. Asal
istilah tasawuf merujuk ke beberapa kata:
a) صفى
artinya suci bersih.[2]
Dalam pengertian ini orang yang ingin dekat dengan Allah SWT.,
aktifitasnya banyak diarahkan pada pensucian diri dalam rangka dekat dengan
Allah SWT. Artinya Allah Maha Suci tidak mungkin bisa didekati kecuali
oleh orang-orang yang memelihara kesucian. Bishr bin al-Harith berkata:”sufi
adalah orang yang hatinya suci/tulus kepada Allah.[3]
b) صف artinya
barisan atau barisan terdepan. Orang yang ingin dekat dengan Allah, pasti sudah
kuat imannya. Oleh karena itu selalu ada pada barisan
terdepan dalam hal ibadah.
c) اهل الصفة
artinya penghuni serambi (masjid). Istilah ini disandarkan kepada orang yang
ingin selalu dekat dengan Allah SWT., maka mereka ikut juga hijrah dengan Nabi
dari Mekah ke Madinah. Di Madinah merreka tinggalnya di serambi masjid.
d) صوف
artinya wol, bulu binatang kasar. Orang yang selalu dekat dengan Allah swa.,
hanya memakai alat berpakaian bulu binatang yang kasar, domba, unta dan
sebagainya, ini hanya pandangan saya karena kaum sufi tidak mencirikan dirinya
dengan memakai pakaian dari bulu.
Pendapat yang lain mengatakan bahwa istilah Tasawuf berasal dari bahasa
Yunani yaitu Sophos atau Shofia artinya hikmah atau
bijaksana. Pendapat ini merupakan pendapat mayoritas kaum orientalis.
Ahli-ahli sofia adalah orang yang ahli dalam filsafat atau
kebijaksanaan. Mereka menambahkan bahwa dalam tradisi Arab
kata sofia direduksi menjadi kata shufiya untuk
menunjukkan kepada orang-orang ahli ibadah dan ahli filsafat agama.
Dari lima pendapat di atas, maka secara etimologis kata tasawuf lebih dekat
dengan kata صوف. Sebagaimana pendapat
Ibn Khaldun bahwa kata Sufi merupakan kata jadian dari kata Suf.
Tapi perlu diingat, bukan sekedar karena ia memakai pakaian yang terbuat
dari kain bulu dan wol kasar maka seseorang disebut sufi. Seseorang
menggunakan wol hanya sebagai simbol kesucian, mereka menyiksa dan menekan hawa
nafsu dan berjalan di jalan Nabi.[4]
2.
Pengertian tasawuf secara terminology
Ada banyak definisi yang telah dibuat oleh untuk
menjelaskan pengertian tasawuf secara terminology. Berikut beberapa
diantaranya:
Menurut Abu Qasim al-Qusyaeri (376-466), tasawuf ialah penjabaran
ajaran Al-Quran, sunnah, berjuang mengendalikan hawa nafsu, menjauhi perbuatan
bid’ah, mengendalikan syahwat, dan menghindari sikap meringankan ibadah.[5]
Menurut Ahmad Amin tasawuf ialah
bertekun dalam ibadah, berhubungan langsung dengan Allah SWT., menjauhkan diri
dari kemewahan duniawi, berlaku zuhud terhadap yang diburu oleh orang banyak,
dan menghindari dari mahluk dalam berkhalwat untuk beribadah.
Sedang
tasawuf menurut Zakaria al- Anshari ialah mengajarkan cara untuk mensucikan
diri, meningkatkan akhlak, berlaku zuhud terhadap yang diburu oleh orang
banyak, dan menghindari dari mahluk dalam berkhalwat untuk beribadah
mendekatkan diri kepada Allah dan memperoleh hubungan
langsung dengannya.
Dan
menurut Ibrahim Hilal dalam bukunya ‘Tasawuf Antara Agama dan Filsafat’, bahwa
tasawuf pada umumnya bermakna menempuh kehidupan zuhud, menghindari gemerlap
kehidupan dunia, rela hidup dalam keprihatinan, melakukan berbagai jenis amalan
ibadah, melaparkan diri, mengerjakan shalat malam, dan melakukan berbagai
jenis wirid sampai fisik atau dimensi jasmani seseorang menjadi
lemah dan dimensi jiwa atau ruhani menjadi kuat.[6]
Apabila melihat beberapa definisi di atas, maka
dapat diperoleh ungkapan yang singkat dan padat yang mencakup dua segi
yang keduanya membentuk satu kesatuan yang saling menunjang dalam
mendefinisikan tasawuf yang pertama adalah cara dan yang kedua adalah tujuan. Cara, di antaranya melaksanakan
berbagai rangkaian peribadatan, latihan-latihan rohani sepeerti
zuhud. Sedangkan tujuannya ialah mendekatkan diri kepada sang Khalik yang
puncaknya ialah penyaksian (masyadah).
b.
Pengertian etos kerja
Menurut
Kamus Besar Bahasa Indonesia etos adalah pandangan hidup yang khas dari suatu
golongan sosial. Sedang etos kerja adalah semangat kerja yang menjadi ciri khas
dan keyakinan seseorang atau suatu kelompok.[7]
Sejalan
dengan Franz Magnis-Suseno berpendapat bahwa etos adalah semangat dan sikap
batin tetap seseorang atau sekelompok orang sejauh di dalamnya termuat tekanan
moral dan nilai-nilai moral tertentu. Sedang Clifford Geertz mengartikan etos
sebagai sikap yang mendasar terhadap diri dan dunia yang dipancarkan hidup.
Dengan
demikian, etos menyangkut semangat hidup, termasuk semangat bekerja,
pengetahuan dan keterampilan yang memadai tentang pekerjaan yang ditangani.
c.
Islam dan pekerjaan
Menurut
Franz von Magnis, pekerjaan adalah segala kegiatan yang direncanakan dan
memerlukan pemikiran yang khusus dan tidak dapat dijalankan oleh binatang, yang
dilakukan tidak hanya karena pelaksanaan kegiatan itu sendiri menyenangkan,
tetapi juga karena kita mau dengan sungguh-sungguh mencapai hasil yang kemudian
berdiri sendiri atau sebagai benda, karya, tenaga dan sebagainya atau pelayanan
terhadap masyarakat, termasuk dirinya sendiri. Kegiatan itu dapat berupa
pemakaian tenaga jasmani atau rohani di mana perlu diperhatikan bahwa semua
tindakan bersifat jasmani dan rohani, tetapi tekanannya dapat berbeda-beda.
Sementara George A. Steiner dan John
F. Steiner mendefinisikan pekerjaan sebagai usaha yang berkelanjutan yang direncanakan untuk menghasilkan sesuatu yang
bernilai atau bermanfaat bagi orang
lain.
Dengan
demikian, pekerjaan bertujuan untuk menghasilkan sesuatu guna memenuhi
kebutuhan manusia. Tetapi dalam sejarah kemanusiaan pekerjaan pernah begitu
lama tidak mendapat apresiasi yang memadai, seperti yang terjadi di luar Islam.
Dalam budaya Timur misalnya Jawa, sebagaimana terlihat dalam paham kebatinan,
pekerjaan hanya dipandang sebagai kewajiban demi masyarakat, tetapi bukan sesuatu
yang positif dan merangsang dirinya sendiri. Tujuannya bukan untuk membuat
pekerjaan menjadi manusiawi dan menarik, tetapi untuk menguranginya. Kemudian
filsafat India mementingkan roh dan menegaskan kefanaan hidup di dunia ini,
sehingga tidak melihat suatu nilai di dunia ini.
Lalu
filsafat Barat berabad-abad lamanya memandang rendah pada pekerjaaan. Misalnya
Plato (427-347 SM) yang hanya menganggap filsafat sebagai kegiatan manusia yang
pantas, dan Aristoteles (384-322 SM) yang memasukkan pekerjaan ke dalam
pembuatan sesuatu yang kurang bernilai.[8]
Perhatian
filsafat terhadap pekerjaan baru timbul dan mulai berkembang setelah zaman
industri. Penemuan ilmu-ilmu alam, kemajuan teknik dan penggunaannya secara
komersial membuka suatu cakrawala tak terbatas bagi usaha manusia untuk
menaklukkan alam. Penaklukkan alam dilakukan oleh manusia dalam pekerjaannya.
Lalu
pekerjaan dianggap sebagai kegiatan khas manusiawi yang utama. Dalam konteks
ini John Locke (1632-1704) menemukan bahwa pekerjaan menciptakan hak, yaitu
suatu hak alamiah (natural right) atas milik terhadap benda-benda, atas tanah
serta pekerjaannya memberikan nilai kepada setiap benda. Kemudian Adam Smith
(1723-1790) menguniversalkan pandangan itu. Baginya seluruh kebudayaan dipahami
sebagai hasil pekerjaan manusia, di belakang kekayaan obyektif suatu bangsa
(kekayaan ekonomis, budaya dan sebagainya) terdapat pekerjaan orang yang
memproduksinya.
Apresiasi
Islam terhadap pekerja dan pekerjaan tidak hanya terlihat dalam ajaran normatif
agama ini. Tetapi juga dibuktikan dalam sejarah. Dalam sejarah Islam terhadap
pekerja dan pekerjaan diawali dengan membebaskan mereka yang berstatus budak
kemudian berstatus sebagai pekerja. Perjuangan Islam untuk membebaskan
perbudakan sudah berhasil. Kini tidak ada lagi orang yang berstatus budak,
karena dalam Islam semua orang memiliki derajat yang sama.
Hanya
saja apresiasi yang begitu tinggi terhadap pekerja dan pekerjaan masih jauh
dari realitas kehidupan umat Islam dewasa ini. Umat Islam masih terbelakang di
berbagai bidang kehidupan, khususnya ekonomi, ilmu pengetahuan dan teknologi.
Hal itu diduga karena umat Islam umumnya masih menganut paham teologi Jabariah.
Jabariah adalah paham teologi yang berpendapat bahwa manusia tidak mempunyai
kemerdekaan dan kebebasan dalam menentukan kehendak dan perbuatannya. Manusia
menurut paham ini terikat oleh kehendak mutlak Tuhan. Jabariah disebut juga
fatalisme dan predestinasi.
Jatuhnya
umat Islam ke dalam paham Jabariah mungkin karena pernah dijajah oleh
bangsa-bangsa Barat dalam waktu yang sangat lama. Tetapi dengan kemerdekaan
yang dicapai, berkembangnya pendidikan dan ilmu pengetahuan yang mendorong
manusia berpikir rasional. Sehingga sedikit demi sedikit umat Islam
meninggalkan paham Jabariah dan beralih kepada paham Qodariah.
Bila
umat Islam menganut paham Qodariah, tentunya mereka akan menyadari bahwa
Al-Qur’an dan hadits memerintahkan untuk bekerja keras untuk mencapai
kemakmuran, sekaligus mereka dapat melepaskan diri dari kemiskinan dan
keterbelakangan.[9]
Dalil naqli
yang memerintah untuk bekerja keras.
وَ اَنْ لَيْسَ لِلْاِنْسَانِ اِلّاَ مَاسَعَا
“Dan
bahwasannya seaorang manusia tiada memperoleh selain apa yang diusahakannya” {QS. An-Najm: 39}
Ayat
ini menjelaskan bahwa satu-satunya cara untuk mendapatkan sesuatu dalam hidup
adalah kerja keras. Kemajuan hidup sangat tergantung pada usaha.
Asumsi itu
diperjelas oleh ayat yang lain:
لِلرِّجَالِ نَصِيْبٌ مِمَّا اكْتَسَبُوْا وَ لِلنِّسَاءِ نَصِيْبٌ
مِمَّا اكْتَسَبْنَ
“(Karena) bagi orang
laki-laki ada bahagian dari apa yang mereka usahakan, dan
bagi para wanita (pun) ada bahagian
dari apa yang mereka usahakan”
{QS. An-Nisa: 32}
Ayat
di atas menjelaskan bahwa kehidupan dunia ini tidak mengenal perbedaan antara
pria dan wanita. Setiap orang akan memperoleh sesuai dengan ikhtiar yang
dilakukan. Hal ini dipertegas dengan ayat lain:
ذَالِكَ بِاَنَّ اللهَ لَمْ يَكُ مُغَيّرًا نِعْمَةً اَنْعَمَهَا
عَلَى قَوْمٍ حَتَّى يُغَيِّرُوْا مَا بِاَنْ فُسِهِمْ
“Yang
demikian itu adalah karena sesungguhnya Allah sekali-kali tidak akan mengubah
suatu nikmat yang telah dianugerahkan-Nya kepada suatu kaum, hingga kaum itu
mengubah apa yang ada pada diri mereka sendiri” {QS. Al-Anfal: 53}
Ayat
di atas mempertegas bahwa kemakmuran hanya dapat dicapai dengan kerja keras.
Tidak ada orang yang dapat hidup makmur tanpa usaha yang sungguh-sunguh.
Selain itu
Rosulullaah ﷺ menyatakan apresiasinya
terhadap mereka yang bekerja keras. Sabdanya:
رَحِمَ اللهُ رَجُلاً سَمْحًا اِذَا بَاعَ وَ اِذَا اشْتَرَءَ وَ
اِذَا قْتَضَى
“Allah
mengasihi mereka yang berusaha dan bekerja keras untuk kehidupan mereka” ﴾HR. Ibnu Majah﴿
Bila
orang itu bekerja keras untuk diri sendiri dan keluarganya tanpa menghilangkan
perbuatan jujur, maka ia akan mendapat pahala dari Allah SWT.
Apresiasi
yang tinggi terhadap pekerjaan juga dibuktikan oleh kehidupan para nabi dan
rosul sebelum Rosulullaah ﷺ. Hampir semua nabi dan
rosul bekerja untuk menghidupi diri mereka tak terkecuali Nabi Muhammad ﷺ. Beliau menggembala Kambing dan menasehati orang lain agar
menghidupi diri mereka.
Rosulullaah ﷺ bersabda:
مَا اَكَلَ اَحَدُكُمْ طَعَامَا خَيْرٌ لَهُ مِنْ اَنْ يَاْكُلَ مِنْ
عَمًلٍ يَدِهِ اَنَّ نَبِيَّ اللهِ دَاوُدَ عَلَيْهِ السَّلاَمُ كَانَ يَاْكُلَ
مِنْ عَمَلٍ يَدِهِ اللهِ
“Tidak ada
seorangpun yang dapat mencapai kehidupan yang lebih baik, kecuali orang itu
berusaha dengan tangannya sendiri (bekerja) dan Nabi Daud AS, makan dari
usahanya sendiri” ﴾HR.
Bukhori﴿
Kemudian
Abu Hurairah meriwayatkan sebuah hadits bahwa kaum Anshor pernah meminta
Rosulullaah ﷺ membagi-bagikan pohon
Kurma kepada kaum Muhajirin, Rosulullaah ﷺ tidak mengidzinkan.[10]
Namun ketika kaum Anshor meminta kaum
Muhajirin supaya bekerja dikebun-kebun Kurma mereka dan kemudia hasilnya dibagi
sama. Kaum Muhajirin dan Rosulullaah ﷺ sangat gembira mendengar hal ini.
Di
samping itu ada sebuah hadits yang menjelaskan bahwa pernah salah seorang dari
kaum Anshor datang kepada Rosulullaah ﷺ meminta bantuan amal. Lalu Rosulullaah ﷺ bertanya: Apakah engkau mempunyai harta? Orang itu menjawab
bahwa dia mempunyai sehelai selimut. Lalu Rosulullaah ﷺ meminta selimut itu dibawa ke pasar untuk dijual. Kemudian
selimut terjual dua dirham. Rosulullaah ﷺ menasihatinya agar uang tersebut digunakan untuk membeli kapak.
Rosulullaah ﷺ berkata: pergilah ke
hutan dan ambil kayu, dan Rosulullaah ﷺ meminta tidak dikunjungi selama 15 hari mendatang. Selama 15
hari kayupun terjual dan memperoleh 12 dirham, tak terlupakan uang tersebut ia
telah gunakan membeli beberapa pakaian. Kemudian Rosulullaah ﷺ berkata: ini lebih baik daripada meminta-minta, meminta-minta
itu akan mendapat keaiban di hari kemudian.
Dalam
pandangan Islam semua pekerjaan yang halal dianggap mulia. Yang penting
pekerjaan itu tidak haram, seperti mencuri, korupsi dan merampok.
d.
Tasawuf dan etos kerja
Pada dasarnya tasawuf itu baik dan benar, tetapi
persepsi orang terhadapnya sering keliru. Ini disebabkan oleh mentalitas
masyarakat Indonesia yang sudah rusak akibat berbagai pengalaman sejarah yang
menyakitkan selama ini. Mentalitas masyarakat yang rusak menyebabkan persepsi
terhadap ajaran agama kadang-kadang keliru, seperti persepsi terhadap ajaran
tasawuf.
Karenanya, persepsi yang keliru itu harus dilacak
pada sikap kerusakan sikap mental masyarakat. Mentalitas masyarakat Indonesia mulai rusak ketika mengalami
penjajahan ratusan tahun. Penjajahan inilah yang menyebabkan masyarakat menderita
lahir batin. Seperti hidup miskin, kecewa, frustasi, stress, pesimistis, serta
merasa tidak ada masa depan. Ini kemudian menjungkirbalikkan tatanan masyarakat
serta merusak mentalitas dan cara berpikir. Akibatnya nilai-nilai dari budaya
dan agama sering dipersepsikan secara keliru. Inilah yang telah dialami oleh tasawuf yang sering
dipersepsikan sebagai faktor yang
melemahkan etos kerja. Untuk memperbaiki persepsi yang keliru itu, selain
mentalitas masyarakat perlu dibangun kembali, juga ada baiknya dilakukan
reinterpretasi terhadap sikap-sikap dan ajaran tasawuf.
Menurut ajaran Islam, bekerja itu wajib, setidaknya untuk
memenuhi kebutuhan diri sendiri, keluarga dan umat. Tasawuf pun sejalan dengan
ajaran dasar Islam, sehingga tasawuf tidak melemahkan etos kerja, tetapi malah
dapat memperkuat etos kerja.
Konsep etos
kerja dalam tasawuf
Untuk meningkatkan semangat atau etos kerja dalam diri kita, para
ahli sufi telah mengajarkan kita melalui sikap yang mereka contohkan dalam
kehidupan mereka sesuai dengan ajaran dan konsep tasawuf.[11]
Di antaranya, sikap optimisme, istiqamah, sabar, ikhlas, ridha, qana’ah, takwa,
takut, tawakal, taubat, zuhud, wara’, syukur, cinta, rindu, shidiq, syaja’ah,
takdir, malu, zikir, doa, tafakkur, uzlah, kemiskinan, dan kematian.
1)
Optimisme
Optimisme
atau harapan dalam tasawuf disebut raja’. Raja’ ialah mengharapkan rahmat Allah
SWT yang sesungguhnya selalu mengelilingi kita, tetapi jarang diperhatikan.
Harapan untuk
mendekat dengan Allah SWT didasarkan pada sebuah hadits qudsi yang diriwayatkan
oleh Imam Bukhori.
اَنَا عِنْدَ ظَنِّ عَبْدِى بِى وَ اَنَا مَعَهُ اِذَا ذَكَرَنِي اِنْ
ذَكَرَنِي فِى نَفْسِهِ ذَكَرْتُهُ فِى نَفْسِى وَ اِنْ ذَكَرَنِي فِى مَلَاٍ ذَكَرتُهُ
فِى مَلَاٍ هُوَ خَيْرٌ مِنْهُمْ وَ اِنْ اقْتَرَبَ اِلَى شِبْرًا اقْتَرَبْتُ
اِلَيْهِ ذِرَاعًا وَ اِنِ اقْرَبَ اِلَى ذِرَاعًا اقْتَرَبْتُ اِلَيْهِ بَاعًا وَ
اِنْ اَتَانِى يَمْشِى اَتَيْتُهُ هَرْوَلَةَ
“Aku
akan berada di samping sangkaan hamba-Ku. Jika dia ingat kepada-Ku dalam
dirinya, maka Aku ingat kepadanya dalam diri-Ku. Jika dia ingat kepada-Ku dalam
kerumunan yang ramai, maka Aku ingat kepadanya dalam kerumunan yang lebih baik
daripada mereka. Jika dia mendekat kepada-Ku satu jengkal, maka Aku mendekat
padanya satu lengan, maka Aku mendekat padanya satu depa. Jika dia mendekat
kepada-Ku dengan berjalan, maka Aku akan mendekat kepadanya dengan berlari.”
Sedang harapan
sufi untuk bertemu dengan Allah SWT didasarkan pada ayat-ayat Al-Qur’an yang
artinya:
a.
“Barang
siapa berharap perjumpaan dengan Tuhannya, maka hendaklah ia mengerjakan amal
sholih dan janganlah mempersekutukan seorangpun dalam beribadah kepada-Nya.” {QS. Al-Kahfi: 110}
b.
“Barangsiapa yang mengharap pertemuan dengan Allah SWT, maka
sesungguhnya waktu (yang dijanjikan) Allah SWT itu pasti datang. Dan Dialah
Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.”
{QS. Al-Ankabut: 5}
Harapan
sufi untuk mendekat dan bertemu dengan Allah SWT adalah sang kholiq merupakan
kekasih yang selalu mereka rindukan. Sufi beribadah tidak untuk mendapatkan
pahala dan mengharapkan masuk surga, dan tidak pula karena takut neraka, tetapi
semata-mata untuk mendekat dan bertemu dengan sang kholiq.[12]
Karena
Allah SWT dianggap sebagai kekasih, maka para sufi rela berbuat apa saja untuk
menuruti kehendak-Nya, walaupun masuk neraka sekalipun. Ada sebuah syair sufi
yang menggambarkan hal ini:
“Aku cinta
kepada-Mu tidak untuk mendapatkan pahala
Tetapi aku mencintai-Mu
untuk mendapatkan hukuman
Segala
keinginan telah kudapatkan
Kecuali
merasakan lezatnya azab siksaan.”
Sedang
bagi orang awam atau orang yang bukan sufi, optimisme berarti mengharapkan
kesejahteraan di dunia dan keselamtan di akhirat. Orang yang selamat di akhirat
adalah orang yang mendapat ampunan Allah SWT. Optimimisme dalam kehidupan dunia
berarti berharap untuk mendapatkan kesejahteraan yang baik. Untuk mencapai hal
ini, kita harus bekerja keras dengan cara yang halal.
Manfaat optimisme bagi orang Islam
·
Untuk
membangkitkan gairah hidup dan membangun masa depan yang lebih baik.
·
Allah
SWT mencintai hambanya yang berharap kepadanya. Ibnu Qayyim al-Jauziyah dalam Madarij
as-Salikin (Jenjang Spiritual Para Penempuh Jalan Ruhani, Jilid 2, Jakarta
1999 )
·
Dapat
mendorong kita untuk senantiasa mendekatkan diri kepada Allah SWT.
·
Menimbulkan
rasa cinta dan syukur kepada Allah SWT.
·
Meningkatkan
ma’rifat kepada Allah mengenai nama-namanya (asmaul husna).
Firman Allah
SWT yang artinya:
“Allah
mempunyai asmaul husna, maka bermohonlah kepada-Nya dengan menyebut asmaul
husnaitu”{QS. Al-A’rof: 180}
·
Menimbulkan
rasa khauf (takut) kepada Allah SWT. Itulah sebabnya kata raja’ dalam literatur
tasawuf disebut bersamaan dengan khauf.[13]
Dalam Al-Qur’an
Allah SWT yang artinya:
“Mengapa
kamu tidak mengharapkan kebesaran Allah SWT”
{QS. Nuh: 13}
umumnya ahli
tafsir menjelaskan bahwa makna ayat di atas adalah mengapa kamu tidak takut
kepada kebesaran Allah SWT. Karena setiap orang yang berharap biasanya takut
bila harapannya tidak terkabul.
·
Allah
SWT menginginkan hamba-Nya menyempurnakan ketaatannya kepada Allah SWT dengan
menundukkan diri, tawakkal, khauf, optimisme, sabar dan syukur.
Tasawuf dapat mengajak kita bekerja keras untuk mencapai apa yang
kita inginkan, namun apabila harapan itu tidak tercapai maka kita tidak boleh
berputus asa, karena hal ini sangat bertentangan dengan sikap optimisme. Apapun
pekerjaan yang kita lakukan, maka kita harus tetap memiliki sikap optimisme,
agar apa yang kita harapkan dapat dikabulkan oleh Allah SWT.
Etos kerja
Optimisme jelas mengandung etos kerja yang tinggi, karena untuk
mewujudkan optimisme diperlukan ikhtiar. Bila optimismenya berharap untuk
bertemu dengan Allah SWT, tentulah ia harus mendekatkan diri kepada-Nya.[14]
Jika optimisme diartikan mengharapkan kehidupan duniawi yang lebih
baik, maka yang bersangkutan haruslah bekerja keras, meningkatkan pengetahuan
dan keterampilan agar memiliki kemampuan yang lebih besar untuk mewujudkan
optimisme.
Hal itu berarti bahwa tasawuf sangat mendorong kita untuk bekerja
keras sebagai perwujudan optimisme. Dan jika hasil kerja keras tersebut tidak
sesuai yang diharapkan, maka kita tidak boleh putus asa.
Dengan demikian, marilah kita senantiasa berikhtiar dan bersikap
optimisme terhadap rahmat Allah SWT, baik kesejahteraan di dunia maupun
keselamatan di akhirat.
2)
Istiqomah
Istiqomah
berarti teguh atau konsisten, maksudnya konsisten pada jalan yang lurus dan
benar dalam niat, perkataan dan perbuatan. Istiqomah merupakan salah satu cara
mendekatkan diri pada Tuhan.[15]
Dalil naqli
yang menjelaskan perlunya istiqomah, yang artinya:
a. “Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: Tuhan kami ialah
Allah SWT, kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, maka malaikat akan
turun kepada mereka (dengan mengatakan): Janganlah kamu merasa takut dan
janganlah kamu merasa sedih, dan bergembiralah denga surga yang dijanjikan
kepadamu” {QS. Fushshilat: 30}
b.
“Katakanlah:
bahwasannya aku hanyalah seorang manusia seperti kamu, diwahyukan kepadaku
bahwasannya Tuhan kamu adalah Tuhan Yang Maha Esa, maka tetaplah pada jalan
yang lurus menuju kepada-Nya dan mohonlah ampun kepada-Nya. Dan kecelakaan yang
besarlah bagi orang-orang yang mempersekutukan-Nya” {QS. Fushshilat: 6}
c.
“Sesungguhnya
orang-orang yang mengatakan: Tuhan kami ialah Allah SWT, kemudian mereka tetap
istiqomah, maka tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan mereka tiada (pula)
berduka cita. Mereka itulah penghuni-penghuni surga, mereka kekal di dalamnya,
sebagai balasan atas apa yang telah mereka kerjakan” {QS. Al-Ahqof: 13-14}
Selain itu ada
sejumlah hadits yang menjelaskan perlunya istiqomah, yakni:
a.
“Wahai
Rosulullaah ﷺ,
katakanlah suatu perkataan kepadaku dalam Islam yang tidak akan kuminta kepada
seorangpun selain aku. Rosulullaah ﷺ menjawab: Katakanlah, aku beriman kepada
Allah SWT, kemudian istiqomahlah” ﴾HR. Muslim﴿
b.
“Istiqomahlah
kamu dan jangan kamu menghitung-hitung (amalmu) dan ketahuilah bahwa sebaik-baik
amalmu adalah sholat. Dan tidak ada yang memelihara wudlu’, kecuali orang yang
beriman” ﴾HR.
Ibnu Majah dan Ibnu Hibban﴿
c.
“Berlakuklah
konsisten dan berusahalah untuk mendekatinya. Dan ketahuilah bahwasannya tidak
ada seorangpun di antara kamu yang dapat selamat hanya dengan amalnya. Para
sahabat bertanya, engkau juga tidak wahai Rosulullaah. Beliau menjawab: Aku pun
tidak, kecuali jika Allah SWT mengaruniai aku dengan rahmat dan karunia
dari-Nya.” ﴾HR. Bukhori dan Muslim﴿
Ayat-ayat
Al-Qur’an dan hadits-hadits di atas menunjukkan betapa perlunya sikap
istiqomah. Bagaimana wujud istiqomah itu, sebagian ulama berpendapat bahwa
istiqomah orang awam berbeda dengan istiqomah orang khawas, seperti sufi. Istiqomah
orang awam ialah konsisten mengerjakan perintah dan menjauhi larangan Tuhan.
Sedang istiqomah orang khawas ialah menjauhi hal-hal yang bersifat duniawi dan
hal-hal yang mendorong kepada kepentingan duniawi.[16]
Dari
dua macam pengertian istiqomah itu kita dapat mengikuti definisi yang pertama, yaitu
istiqomah orang awam. Pengertian istiqomah ini dapat dibawa kepada hal-hal yang
bersifat dunaiwi. Yang penting tentapkan menjalankan perintah dan menjauhi
larangan-Nya.
Mengenai
pengertian istiqomah orang awam ada ulama berpendapat bahwa istiqomah itu tidak
hanya konsisten menjalankan perintah dan menjauhi larangan Tuhan, tetapi juga
bersyukur ketika mendapat nikmat dalam kehidupan dunia.
Untuk
mencapai istiqomah, harus memiliki sikap ikhla, bertaubat dan berserah diri
pada Tuhan. Sebagian ulama berpendapat bahwa untuk melaksanakan istiqomah
adalah tidak suka membicarakan kelemahan orang lain, menjauhi prasangka buruk,
tidak menghina orang lain, tidak melihat-lihat hal yang haram, selalu berkata
benar, mendermakan sebagian hartanya di jalan Allah SWT, tidak mubadzir, tidak
gila popularitas dan memelihara sholat lima waktu.
Etos
kerja
Sikap
konsisten merupakan salah satu unsur yang sangat penting dalam pekerjaan.
Pekerjaan memerlukan konsistensi untuk mencapai tujuan. Konsistensi dalam
pekerjaan adalah memenuhi/menepati waktu yang sudah ditentukan. Konsistensi
diperlukan untuk mencapai target yang sudah ditentukn, baik kualitas maupun
kuantitasnya. Namun, jika tidak ada konsistensi dalam bekerja, maka tidak
mencapai target dan akan merugikan perusahaan serta diri sendiri.[17]
Dengan
demikian, istiqomah sangat relevan dengan pengembangan etos kerja. Meskipun
awalnya istiqomah ini untuk menjalankan perintah Tuhan. Sikap istiqomah juga kemudian
dapat diterapkan dalam pekerjaan, karena salah satu perintah Tuhan adalah
mencari nafkah dengan cara yang halal untuk memenuhi kebutuhan hidup.
Istiqomah
di sini konteksnya adalah perbuatan halal, yakni melakukan suatu perbuatan
halal secara konsisten, terus menerus tanpa kenal henti dengan sabar dan ikhlas
untuk mencapai kemaslahatan diri dan umat serta mendekatkan diri pada Tuhan.
3)
Sabar
Sabar
berarti menahan, maksudnya menahan diri dari keluh kesah ketika menjalankan
perintah Tuhan dan sewaktu menghadapi musibah. Jadi, sabar meliputi urusan
duniawi dan ukhrowi. Sabar merupakan salah satu cara mendekatkan diri kepada
Tuhan.[18]
Dalil-dalil
yang menjelaskan perintah Tuhan untuk bersabar:
a.
“Hai orang-orang yang beriman, jadikanlah sabar dan sholat sebagai
penolongmu, sesungguhnya Allah SWT beserta orang-orang yang sabar” {QS. Al-Baqoroh: 153}
b.
“Hai
orang-orang yang beriman, bersabarlah kamu dan kuatkanlah kesabaranmu” {QS. Ali-Imron: 20}
c.
“Bersabarlah
(hai Muhammad) dan tiadalah kesabaranmu itu melainkan dengan pertolongan Allah
SWT” {QS. An-Nahl: 127}
Pada ayat lain
Allah SWT memuji orang-orang yang bersabar, yang artinya yaitu:
a.
“yaitu
orang-orang yang sabar dan orang-orang yang benar, yang tetap ta’at, yang
menafkahkan hartanya (di jalan Allah SWT), dan yang memohon ampun di waktu
sahur” {QS. Ali-Imron: 17}
b.
“Dan orang-orang yang sabar dalam kesempitan, penderitaan dan dalam
peperangan. Mereka itulah orang-orang yang benar (imannya), dan mereka itulah
orang-orang yang bertakwa” {QS.
Al-Baqoroh: 177}
Al-Qur’an juga
menjelaskan bahwa Allah SWT mencintai dan menyertai orang-orang sabar.
a.
“Allah
SWT menyukai orang-orang yang sabar”
{QS. Ali-Imron: 146}
b.
“Sesungguhnya
Allah SWT beserta orang-orang yang sabar” {QS.
Al-Anfal: 46}
Pada ayat lain,
Allah SWT menjelaskan bahwa sikap sabar adalah baik bagi pelakunya sendiri,
yaitu:
“Dan
kesabaran itu lebih baik bagimu” {QS.
An-Nisa: 25}
Lalu Allah SWT
berjanji untuk menolong orang-orang yang sabar, firman-Nya:
“Jika
kamu bersabar dan bersiap siaga dan mereka datang menyerang kamu dengan
seketika itu juga, niscaya Allah SWT menolong kamu dengan lima ribu malaikat
yang memiliki tanda”
{QS. Ali-Imron: 125}
Hadits yang
menjelaskan keutamaan sabar:
a.
“Dan
siapa yang berlatih sabar, maka Allah SWT akan menyabarkannya. Dan tiada
seorang yang mendapat karunia (pemberian) Allah SWT yang lebih baik atau lebih
dari kesabaran” ﴾HR.
Bukhori dan Muslim﴿
b.
“Sangat
mengagumkan keadaan seorang mu’min, sebab segala keadaannya adalah baik dan
tidak mungkin terjadi demikian, kecuali bagi seorang mu’min. Jika mendapat
nikmat ia bersyukur, maka syukur itu lebih baik baginya, dan bila menderita
kesulitan, maka ia bersabar dan kesabaran itu lebih baik baginya” ﴾HR. Muslim﴿
Ayat-ayat
Al-Qur’an dan hadits-hadits di atas selain menjelaskan bahwa Allah SWT
memerintahkan kita untuk selalu bersabar dan memberitahukan hikmahnya. Yakni,
sabar itu bermanfaat bagi diri sendiri.
Sabar,
ada beberapa macam. Pertama, sabar untuk menjauhi larangan Allah SWT. Kedua,
sabar dalam menjalankan ketaatan kepada Allah SWT dan terakhir adalah sabar
ketika mengalami musibah. Kebalikan sikap sabar ialah ghadlab (pemarah).[19]
Etos
kerja
Kesabaran
merupakan salah satu sikap yang sangat penting dalam pengembangan etos kerja.
Kita tidak mampu bekerja disiplin, jika tidak memiliki kesabaran. Dalam
pekerjaan biasanya ada tantangan, seperti lelah, mengurus tenaga dan pikiran
dan sebagainya. Semua ini tidak dapat dilakukan tanpa kesabaran.[20]
Sikap
sabar juga menghendaki upaya meningkatkan pengetahuan mengenai pekerjaan yang
dilakukan supaya dapat mengatasi kendal-kendalanya. Artinya orang yang memiliki
sifat sabar selalu meningkatkan pengetahuan dan keterampilan mengenai
pekerjaannya. Hal ini sangat relevan dengan etos kerja.
Dengan
demikian, sikap sabar mengandung etos kerja yang kuat. Etos kerja harusnya
menjadi lebih kuat lagi bila diingat bahwa untuk sabar dalam melaksanakan
perintah Allah SWT. Jadi, jelaslah bahwa sifat sabar sangat penting dalam
pekerjaan, karena dengan sikap atau sifat ini, akan mudah untuk menyelesaikan
sebagian masalah.
4)
Ikhlas
Ikhlas
berati murni atau bersih, maksudnya suatu amal perbuatan dilakukan bersih dari
pamrih. Amal itu dilaksanakan semata-mata karena Allah SWT atau menegakkan
kebenaran, keadilan dana kejujuran. Dalam tasawuf ikhlas merupakan salah satu
cara mendekatkan diri pada Tuhan.[21]
Dalil-dalil
Al-Qur’an yang memerintahkan untuk bersikap ikhlas, yang artinya:
a.
“Padahal
mereka tidak disuruh kecuali menyembah kepada Allah SWT dengan memurnikan keta’atannya
kepada-Nya dalam (menjalankan) agama dengan lurus” {QS. Al-Bayyinah: 5}
b.
“Sesungguhnya Kami menurunkan kepada kitab (Al-Qur’an) dengan
(membawa) kebenaran. Maka sembahlah Allah SWT dengan memurnikan keta’atan
kepada-Nya. Ingatlah hanya kepunyaan Allah- lah agama yang bersih (dari
syirik)” {QS. Az-Zumar: 2-3}
Hadits-hadits
yang menjelaskan keutamaan ikhlas, yaitu:
a.
“Tuhan
tidak melihat bentuk badan dan rupamu, tetapi langsung melihat/memperhatikan
niat dan keikhlasan hatimu” ﴾HR. Muslim dan
Ibnu Majah﴿
b.
“Allah
SWT berkata: Aku sama sekali tidak membutuhkan sekutu. Barangsiapa yang
melakukan suatu amal dengan mempersekutukan Aku di dalamnya, maka amal yang dia
persekutukan, dan Aku terlepas darinya” ﴾HR. Muslim,,
Ibnu Majah, Ibnu Khuzaimah dan Baihaqi﴿
Jelaslah
bahwa ikhlas itu sangat menentukan diterima tidaknya suatu ibadah oleh sang
kholiq. Jika ibadah dilakukan dengan ikhlas karena Allah SWT, insyaa Allah
diterima oleh Allah SWT. Tetapi jika ibadah disisipi oleh hal-hal yang sifatnya
duniawi, seperti pujian, maka ibdahnya tidak diterima oleh Allah SWT.[22]
Kebalikan
ikhlas adalah riya’. Riya’ dapat terwujud dalam berbagai bentuk, seperti
memperlihatkan badannya lemah, karena ingin disebut sedikit makan dan banyak
beribadah. Apabila mengerjakan sholat sengaja memperlama sholatnya karena ingin
kelihatan khusyu’. Kemudian apabila mempunyai harta selalu berusaha
memperlihatkannya, kalau berbicara selalu ingin kelihatan sangat pandai dan
dalam pergaulan selalu ingin disanjung dan suka memuji diri sendiri.
Etos
kerja
Sikap
ikhlas menghendaki orang melakukan perbuatan atau bekerja. Karena perbuatan
itulah yang dinilai ikhlas atau tidak. Jika tidak ada perbuatan, maka tidak ada
yang bisa dinila ikhlas atau tidak. Sikap ikhlas mengandung etos kerja yang
kuat. Etos kerja yang ditimbulkan oleh sikap ikhlas sangat kuat. Karena
pekerjaan yang didasarkan pada keikhlasan tidak mengharapkan pamrih.[23]
Sikap
ikhlas dapat menjadi dasar etos kerja yang paling ideal. Karena dengan ikhlas,
seberat apapun pekerjaan itu akan terasa ringan dan tak kenal lelah. Sikap
ikhlas juga membuat orang jujur dalam bekerja. Artinya, orang yang bekerja akan
menjaga aset-aset yang dimiliki oleh perusahaannya dan tidak akan merusak atau
mencuri. Sikap ikhlas membuat orang bertanggung jawab terhadap pekerjaannnya, karena
orang tersebut menyadari bahwa pekerjaannya akan berdampak pada konsumen dan
diri sendiri.
Dengan
demikian, sikap ikhlas sangat penting dalam pekerjaan. Meskipun memang
bertujuan untuk mencari uang. Jadi jelaslah bahwa sikap ikhlas merupakan salah
satu unsur yang sangat penting dalam pekerjaan dan etos kerja.
5)
Ridlo
Ridlo
berarti senang, maksudnya senang menjadikan Allah SWT sebagai Tuhan, senang
kepada ajaran dan takdirnya. Orang yang telah mencintai Allah SWT biasanya
senang dengan segala hal yang datang dari Allah SWT.[24]
Dalil-dalil
tentang keutamaan sikap ridlo, yang artinya:
a.
“Allah
SWT berfirman: Ini adalah suatu hari yang bermanfaat bagi orang-orang yang
benar kebenaran mereka. Bagi mereka surga yang di bawahnya mengalir
sungai-sungai, Allah ridlo terhadap mereka dan merekapun ridlo terhadap-Nya.
Itulah keberuntungan yang sangat besar”
{QS. Al-Maidah: 119}
b.
“Hai
jiwa yang tenang. Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi
diridloi-Nya. Maka masuklah ke dalam jama’ah hamba-hamba-Ku, dan masuklah ke
dalam surga-Ku” {QS. Al-Fajr:
27-30}
Haidts-hadits
yang menjelaskan keutamaan ridlo:
a.
“Barang
siapa setiap hari mengucapkan: Aku senang Allah sebagai Tuhan, Islam sebagai
agama dan Muhammad sebagai nabi Allah SWT pasti akan meridloinya pada hari
kiamat” ﴾HR.
Ibnu Majah, Abu Daud, al-Hakim, Ahmad dan Nasai﴿
b.
“Akan
merasakan nikmatnya iman yang ridlo kepada Allah sebagai Tuhan, Islam sebagai
agama dan Muhammad sebagai rosul” ﴾HR. Muslim,
Tirmidzi dan Nasai﴿
Dalil-dalil
di atas dapat dikatakan bahwa ridlo kepada Allah SWT berlangsung beberapa
tahap. Tahap pertama ialah ridlo kepada Allah sebagai Tuhan, maksudnya ialah
Tuhan yang dipercaya hanya Allah dan meng-Esa-kannya serta tidak
mempersekutukannya.
Tahap
kedua ridlo kepada Allah SWT ialah ridlo kepada ajaran Allah SWT yang
diturunkan melalui Nabi Muhammad ﷺ, baik perintah maupun larangan. Pada tahap ini ridlo kepada
Allah SWT berarti senang kepada ajarannya, yaitu senang menjalankan
perintah-Nya dan senang menjauhi larangan-Nya.
Tahap
terakhir kepada Allah SWT ialah ridlo kepada takdirnya, baik dalam keadaan
bahagia atau sengsara. Takdir dialami setelah orang berikhtiar. Karena itu,
kita tidak boleh menunggu takdir datang, tetapi takdir iu harus disongsong
melalui ikhtiar. Setelah berikhtiar atau bekera apapun hasil, bahagia atau
sengsara, itulah takdir.
Etos
kerja
Bekerja
merupakan salah satu wujud ridlo kepada Allah SWT, dan orang yang ridlo akan
menganggap bahwa pekerjaan itu suatu hal yang menyenangkan. Sebab ridlo kepada
Allah SWT berarti senang bekerja dalam upaya memenuhi kebutuhan kewajibannya
mencari nafkah.[25]
Dengan
demikian, ridlo kepada Allah SWT mengandung etos kerja yang kuat. Karena ridlo,
maka orang bekerja keras untuk membuktikan takdir.
6)
Qona’ah
Qona’ah
berarti merasa cukup, maksudnya rizqi yang diperoleh dari Allah SWT dirasa
cukup untuk disyukuri.[26]
Meskipun penghasilannya kecil, namun diterima dengan ikhlas dan sabar, sehingga
tidak terdorong mencari tambahan pendapatan dengan cara yang haram dan percaya
bahwa setiap orang telah ditentukan rizqinya.
Mengenai hal
ini Allah SWT berfirman:
وَ مَا مِنْ دَابَّةٍ فِي الْاَرْضِ اِلَّاَ عَلَي اللهِ رِزْقُهَا
“Dan
tidak ada suatu binatang melatapun di bumi melainkan Allah-lah yang memberi
rizqinya” {QS. Hud: 6}
Yang dimaksud
binatang melata adalah makhluk yang bernyawa.
Qona’ah adalah
kekayaan jiwa, ini lah kekayaan yang sebenarnya. Rosulullah ﷺ bersabda:
a.
“Bukanlah
kekayaan itu banyaknya harta, tetapi kekayaan itu adalah kekayaan jiwa” ﴾HR.
Bukhori dan Muslim﴿
b.
“Sungguh
beruntung orang yang masuk Islam dan rizqinya cukup dan merasa cukup dengan apa
yang diberikan Allah kepadanya” ﴾HR. Muslim﴿
Qona’ah
bertujuan untuk menghilangkan rasa keluh kesah dan menghindarkan dari mengambil
hak orang lain, seperti korupsi. Qona’ah juga dimaksudkan agar orang tidak
meminta-minta kepada orang lain untuk memenuhu keperluannya. Allah SWT
berfirman, yang artinya:
“ Berinfaklah
kepada orang-orang fakir yang terikat (oleh ihad) di jalan Allah SWT, mereka
tidak dapat (berusaha) di bumi, orang yang tidak tahu menyangka mereka orang
kaya, karena memelihara diri dari meminta-minta. Kamu kenal mereka dengan melihat
sifat-siatnya, mereka tidak meminta kepada orang secara mendesak” {QS. Al-Baqoroh: 273}
Selain
itu qona’ah juga bermanfaat, supaya orang merasa tenang dan bahagia dengan apa
yang diperoleh. Orang yang tidak pernah merasa cukup, hidupnya tidak pernah merasa
tenang. Qona’ah termasuk sifat yang terpuji, sebaliknya rakus termasuk sifat
yang tercela.
Etos
kerja
Qona’ah
adalah merasa cukup setelah berikhtiar. Sebaliknya merasa cukup tanpa ikhtiar
itu bukan qona’ah, tetapi disebut malas, dan sikap malas dilarang oleh Allah
SWT.[27]
Firman-Nya, yang artinya:
“Maka
bertebaranlah kamu di muka bumi, dan carilah karunia Allah” {QS.
Al-Jumu’ah: 10}
Dengan
demikian, orang harus bekerja keras
untuk memenuhi kebutuhan hidup, baik itu hasilnya mencukupi atau kurang
mencukupi. Ini berarti qona’ah mengandung etos kerja yang kuat.
7)
Takwa
Takwa
berarti menjaga atau memelihara, artinya memelihara diri dari murka Tuhan
dengan cara menjalankan perintah dan menjauhi larangan-Nya. Menurut sebagian
sufi, takwa adalah membentengi diri dari siksa Tuhan dengan jalan taat
kepadanya. Sedang ahli fiqih berpendapat bahwa takwa adalah menjaga diri dari
segala sesuatu yang melibatkan diri ke dalam perbuatan dosa.[28]
Dalil-dalil
yang menerangkan tentang takwa, yg artinya”
a.
“Sesungguhnya
orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling
bertakwa di antara kamu” {QS.
Al-Hujurot: 13}
b.
“Maka
bertakwalah kamu kepada Allah menurut kesanggupanmu” {QS. At-Taghobun: 16}
Dan masih
banyak ayat yang lain yakni, QS. Al-Ahzab:70, QS. Ali-Imron: 102, QS.
At-Tholaq: 2-3, QS. Al-Anfal: 29.
Adapun
hadit-hadits yang menjelaskan keutamaan takwa, di antaranya:
a.
“Rosulullah ﷺ ditanya tentang siapa yang mulia. Nabi
menjawab: orang yang paling bertakwa”
﴾HR.
Bukhori dan Muslim﴿
b.
“Rosulullah ﷺ berdo’a: Ya Allah, aku mohon kepada
hidayah, jiwa takwa, kesopanan dan kekayaan” ﴾HR. Muslim﴿
Dari
dalil-dalil di atas dapat disimpulkan bahwa takwa itu tidak menyekutukan Allah
SWT dengan yang lain, hanya taat kepada-Nya dan menjauhi larangan-Nya. Orang
yang bertakwa selalu mengharapkan rahmat Allah SWT dan takut terhadap
murka-Nya. Dalam takwa, terdapat unsur zuhud, wara’, raja’ dan khauf.
Adapun
persamaan dan perbedaan antar takwa dengan zuhud, wara’, dan khauf.
Persamaannya adalah menjalankan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya, sedangkan
perbedannya adalah zuhud dan wara’, menekankan kesederhanaan hidup, tidak rakus
terhadap harta dan kekuasaan. Baginya harta dan kekuasaan adalah titipan Allah
SWT yang harus digunakan sebaik-baiknya untuk
kepentingan umat Islam. Sementara takwa tidak menekankan kesederhanaan
hidup, tetapi lebih menekankan terhadap melaksanakan perintah-Nya dan menjauhi
larangan-Nya. Kemudian raja’ dan khauf leebih menekankan pada pengharapan
terhadap rahmat Allah SWT dan takut kepada murka-Nya dengan cara bertakwa.
Etos
kerja
Rasa
takut hanya kepada Allah SWT mengandung pengertian bahwa orang tidak boleh
takut kepada selain Allah SWT.[29]
Dengan demikian, takwa mengandung etos kerja yang kuat. Karena takwa
diwujudkan dengan membangun kehidupan dunia dan tetap menjalankan perintah-Nya.
Dalam membangun kehidupan dunia, ada batas-batas yang tidak boleh dilanggar,
seperti bisnis seks, perjudian dan minuman keras. Kemudian tidak boleh
melakukan hal-hal yang merugikan orang lain.
Jadi
jelaslah bahwa takwa dapat mengembangkan etos kerja yang kuat dan sehat.
Artinya tidak hanya mendorong untuk bekerja keras dalam membangun kehidupan.
Tetapi pembangunan itu didasarkan pada landasan yang kuat, yakni tidak
melakukan hal-hal yang menggerogoti peradaban dan kemudian menghancurkannya
setelah sekian lama dibangun.
8)
Takut
Takut
dalam tasawuf berarti takut kepada siksaan Allah SWT dan takut amalnya ditolak.
Untuk menyebut kata “takut” ada empat istilah dalam Al-Qur’an dan hadits, yaitu
Khauf, Khasyyah, Rahbah dan Wajal.[30]
Tetapi istilah yang sering digunakan dalam tasawuf ialah Khauf sesuai
dengan firman-Nya:
a.
“Lambung
mereka jauh dari tempat tidurnya, sedang mereka berdo’a kepada Tuhannya dengan
rasa takut dan harap” {QS. As-Sajdah: 16}
b.
“Mereka
takut kepada Tuhan mereka yang berkuasa atas mereka dan melaksanakan apa yang
diperintahkan (kepada mereka)”
{QS. An-Nahl: 50}
Selain itu
‘Aisyah pernah bertanya tentang khauf, yaitu:
“Ya
Rosulullah, firman Allah SWT: Dan orang-orang yang memberikan apa yang telah
mereka berikan dengan hati yang takut (karena tahu bahwa) sesungguhnya mereka
akan kembali kepada Tuhan mereka {QS. Al-Mu’minun: 60} adlah dia yang berzina,
khamr dan mencuri? Rosulullah menjawab: bukan ya puteri ash Shiddiq,
tetapi orang yang berpuasa, menunaikan sholat, bershodaqoh dan takut amalnya
tidak diterima” ﴾HR.
Tirmidzi, Ibnu Majah, Ahmad dan al-Hakim﴿
Adapun ayat
Al-Qur’an yang menggunakan istilah khasyyah, yaitu:
اِنَّمَا يَخْش اللهَ مِنْ عِبَاده الْعُلَمَاءُ
“Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya
hanyalah ulama” {QS. Fathir:
28}
Firman Allah
SWT mnggunakan istilah rahbah ialah:
فَاِيَّايَ فَارْهَبُوْنَ
“Maka hendaklah kepada-Ku
saja kamu takut” {QS. An-Nahl:
51}
Firman Allah
SWT menggunakan istilah wajal ialah:
وَ الَّذِيْنَ يُؤْمِنُوْنَ مَا ءَاتَوْا وَ قُلُوْبُهُمْ وَجِلَةٌ
“Dan orang-orang yang
memberikan apa yang telah mereka berikan dengan hati yang takut (karena mereka
tahu bahwa) sesungguhnya mereka akan kembali kepada Tuhan mereka” {QS.
Al-Mu’minun: 60}
Dengan
demikian, istilah khauf, khasyyah, rahbah, dan wajal berarti takut, tetapi
mempunyai makna yang berbeda.[31] Khauf
menurut sebagian ulama, berarti taat kepada Allah SWT dengan sungguh-sungguh,
tetapi takut amalnya ditolak. Kemudian khasyyah mengandung arti yang
lebih sempit, yaitu takut karena pengetahuannya tentang yang ditakuti, msalnya
ulama takut kepada Allah SWT, karena pengetahuannya tentang Allah SWT, seperti
terlihat pada QS. Fathir: 28. Sedang rahbah berarti dengan menghindari sesuat8 yang ditakut,
sepertimenghindari larangan-Nya, karena takut kepada siksaan-Nya. Lalu wajal
berarti gemetar karena takut mengingat atau melihat sesuatu yang menakutkan.
Dari
istilah-istilah di atas, terlihat bahwa takut mengandung banyak arti. Ada rasa
takut dalam pengertian pada umunya, ada rasa takut karena pengetahuan tentang yang
ditakuti, ada rasa gemetar karena takut dan ada pula sikap yang menghindar
karena takut.
Etos
kerja
Implikasi
rasa takut kepada Allah SWT adalah taat kepada-Nya. Rasa takut mendorong orang
untuk berbuat sesuatu, seperti bekerja, dengan niat dalam rangka taat kepada
Allah SWT. Misalnya mencari nafkah untuk memenuhi kebutuhan hidup. Bekerja
adalah suatu aplikasi dari ibadah, dengan bekerja, khususnya orang-orang msulim
dapat mengeluarkan zakat dan menunaikan ibadah haji.[32]
Karena
itu, rasa takut mengandung etos kerja yang kuat. Rasa takut mendorong untuk
bekerja keras secara terus menerus dan tidak putus asa. Rasa takut juga
mendorong untuk menghindari perbuatan curang dalam bekerja, seperti menipu dan
korupsi. Ini berarti rasa takut mendorong etos kerja yang benar. Namun etos
kerja tidak selalu benar, seperti etos kerja penjahat atau orang yang jahat.
Orang yang curang pun mempunyai etos kerja, yaitu etos kerja dalam berbuat
curang dan kejahatan.
9)
Tawakal
Tawakal
berarti berserah diri, maksudnya berserah diri kepada keputusan Allah SWT,
terutama ketika melakukan suatu upaya atau perbuatan. Misalnya untuk hidup
layak orang harus bekerja keras melakukan pekerjaan yang halal. Bagaimana
hasilnya itu diserahkan kepada Allah SWT.
Dalil-dalil
yang memerintahkan kita untuk bersikap tawakal, di antaranya:
a.
“dan
hanya kepada Allah sajalah orang-orang mu’min itu harus bertawakal” {QS. Ali-Imron: 122 dan 160 }
b.
“dan
barang siapa yang bertawakal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan
(keperluan)nya” {QS.
Ath-Tholaq: 3}
Hadits yang
menjelaskan keutamaan tawakal, seperti:
“Diperlihatkan
kepada berbagai umat yang berkumpul. Kemudian aku melihat umatku memenuhi
lembah dan gunung. Mereka jumlahnya banyak dan kehebatannya mengagumkan saya.
Setelah itu aku ditanya, apakah engkau ridlo? Aku menjawab: ya. Bersama mereka
terdapat tujuh puluh ribu orang yang masuk surga tanpa hisab. Mereka tidak
menipu, tidak menghambur-hamburkan harta, tidak mencuri, dan hanya kepada Tuhan
mereka berserah diri” ﴾HR.
Ahmad﴿
Dalil-dalil
di atas menjelaskan perlunya sikap tawakal, bagaimana wujud tawakal dalam
kehidupan Islam.[33]
Terdapat beberapa tingkatan wujud tawakal, di antaranya:
·
Ma’rifat
kepada Tuhan beserta sifat-sifatnya.
·
Ikhtiar
yang didahulukan sebelum berserah diri kepada Allah SWT.
·
Tauhid,
menurut Abu Hamid Al-Ghozali, tauhid itu dasar tawakal. Orang yang bertawakal
harus lebih dahulu meyakini ke-Esa-an Tuhan.
·
Menyandarkan
hati kepada Tuhan dan merasa tenang.
·
Berprasangka
baik kepada Tuhan.
·
Istislam
yakni menyerahkan diri sepenuhnya kepada Tuhan.
·
Ridlo
terhadap apapun yang dialami.
Etos
kerja
Sebagaimana
telah dijelaskan bahwa tawakal adalah berserah diri kepada Tuhan setelah
berikhtiar. Jika telah bekerja keras, tetapi hidupnya tidak mengalami perubahan,
maka harus berserah diri kepada Allah SWT. Karena Allah SWT telah mengatur
segala yang tidak kita ketahui. Berserah diri setelah berikhtiar dimaksudkan
supaya manusia tidak kecewa jika pekerjaannya tidak mendatangkan hasil yang
memuaskan.[34]
Dengan
demikian orang tidak boleh berhenti berikhtiar untuk meraih kesuksesan dalam
hidupnya dan terus bertawakal. Ikhtiar yang terus menerus merupakan etos kerja
yang ditanamkan oleh sikap tawakal.
10)
Taubat
Dalam
tasawuf taubat berarti kembali, yakni kembali dari perbuatan tercela menuju
perbuatan terpuji, sebagimana yang diajarkan dalam Islam. Taubat tidak cukup
hanya dengan ucapan, tetapi harus disertai dengan tindakan.
Menurut
Al- Qusyairi al-Naisaburi, taubat merupakan langkah pertama untuk mendekatkan
diri kepada Allah SWT, sedang Al-Ghozali menyebutnya sebagai langkah kedua.[35]
Langkah pertama menurut Al-Ghozali adalah ilmu dan ma’rifat. Taubat diwajibkan
pada setiap muslim, karena manusia tidak luput dan dosa dan kesalahan.
Dalil-dalil
Al-Qur’an mengenai taubat, di antaranya:
a.
“Hai
orang-orang yang beriman, bertaubatlah kepada Allah dengan taubat yang
semurni-murninya” {QS.
At-Tahrim: 8}
b.
“Dan
bertaubatlah sekalian kepada Allah hai orang-orang yang beriman supaya kamu
beruntung” {QS. An-Nur: 31}
Taubat
yang sesungghunya harus dibuktikan dengan tindakan nyata. Karena perbuatanlah
yang membuktikan bahwa orang yang bertaubat telah meninggalkan perbuatan
tercela. Menurut Al-Ghozali dalam Minhaj al-Abidin (Menuju Mukmin
Sejati, 1986), langkah pertama yang harus dilakukan dalam bertaubat adalah
mengerjakan ibadah yang wajib, seperti sholat lima waktu, shaum di bulan
Romadlon.
Untuk
melaksanakan cara-cara bertaubat, diperlukan beberapa hal. Di antaranya,
menyesali perbuatan dan memperkuat tekad di hati untuk meninggalkan semua
perbuatan tercela untuk selamanya dengan penuh kesadaran.[36]
Kemudian taubat hendaknya dilakukan karena takut kepada Allah semata,
bukan karena faktor lain, seperti takut dipenjara atau malu pada lingkungan di
mana dia berada atau ingin disebut sholeh.
Etos
kerja
Taubat
adalah memperbaiki diri dengan menjalankan kewajiban agama dan menjauhi larangannya.
Di antara kewajiban itu adalah mencari nafkah untuk diri sendiri dan keluarga.
Orang yang bertaubat seharusnya bekerja keras untuk memperoleh pendapatan yang
dapat menenuhi kebutuhan hidupnya. Selain itu, orang yang bertaubat dianjurkan
banyka beramal, tidak hanya melakukan ibadah seperti sholat sunnah, dzikir,
tetapi juga bershodaqoh untuk membantu orang-orang yang kurang mampu. Ini
berati orang yang bertaubat harus bekerja agar mendapatkan rizqi untuk
dishodaqohkan.
Dengan
demikian, taubat mengandung etos kerja, karena pada intinya memperbaiki diri
dengan cara bekerja dan memperoleh harta
dengan cara yang halal untuk memperoleh kebaikan di dunia dan keselamatan di
akhirat. Jadi, orang bertaubat itu tidak harus menghabiskan waktunya untuk
beribadah dan meninggalkan urusan duniawi. Bahkan dalam hal tertentu, orang
yang bekerja keras bertaubat dengan cara memperbanyak shodaqoh dari hasil
pekerjaannya tersebut.[37]
Di
sinilah letak hubungan antara taubat dengan kerja keras. Yakni, taubat tidak
hanya
meminta ampun
kepada Allah SWT, tetapi juga bekerja keras untuk memperbaiki kehidupan
dunianya dan sekaligus untuk beramal dan bershodaqoh untuk membantu orang yang
mengalami kesulitan hidup.
11)
Zuhud
Zuhud
berarti menjauhkan diri dari segala sesuatu yang berkaitan dengan dunia. Tetapi
para ulama memberikan definisi yang berbeda-beda mengenai zuhud.[38]
Ibnu Taimiyah misalnya, berpendapat bahwa zuhud adalah meninggalkan segala hal
yang tidak bermanfaat bagi kehidupan akhirat kelak. Ada juga yang berkata bahwa
zuhud adalah menghilangkan rasa cinta selain kepada Allah SWT.
Dalil-dalil
tentang zuhud, di antarnya:
a.
“Apa
yang di sisimu akan lenyap, dan apa yang di sisi Allah adalah kekal” {QS. An-Nahl: 96}
b.
“Katakanlah:
Kesenangan di dunia ini hanya sebentar di akhirat itu lebih baik untuk
orang-orang yang bertakwa” {QS. An-Nisa’:
77}
c.
“Tetapi
kamu (orang-orang kafir) memilih kehidupan duniawi. Sedang kehidupan akhirat
adalah lebih baik dan lebih kekal” {QS.
Al-A’laa: 16-17}
Ayat-ayat
di atas mengingatkan agar manusia tidak terpukau kepada hal-hal yang bersifat
duniawi, seperti harta dan tahta. Bila ia mendapatkannya, maka ia bersyukur,
sebaliknya, bila ia kehilangan harta dan tahta, maka ia tidak kecewa dan putus
asa. Ini tidak berarti bahwa zuhud harus miskin. Zahid (orang yang zuhud) boleh saja kaya raya dan berkuasa. Yang
penting ia memperoleh kekayaan dan kekuasaan dengan cara yang dan
memanfaatkannya secara benar.
Dengan
demikian, zuhud mengandung arti
sederhana dalam arti yng seluas-luasnya. Misalnya Hamka, dalam bukunya Falsafah
Hidup (1970) menguraikan berbagai bentuk sikap hidup sederhana, di antaranya
sederhana niat dan tujuan. Maksudnya tidak melakukan sesuatu dengan cara yang berlebihan walau halal.
Sedangkan jika yang dilakukan itu adalah syubhat atau haram, maka jelas bukan
zuhud. Menurut Syekh Harawi, seperti yang diktuip oleh Ibnu Qayyim al Jauziyah
dalam Madarij al Salikin (Jenjang Spiritual Para Penempuh Jalan Ruhani,
1999) ada tiga tingkatan zuhud.
Pertama, meninggalkan segala hal yang syubhat.
Kedua, tidak melakukan sesuatu secara berlebihan, walaupun halal, seperti
makan, minum dan berpakaian. Maksudnya agar peluang untuk bersenang-senang
dengan kehidupan duniawi tidak memalingkan perhatiannya dari Allah SWT.
Ketiga,
bersikap zuhud terhadap zuhud. Artinya tidak menganggap zuhud itu
sebagai suatu hal yang perlu dibanggakan. Sebab membanggakan zuhud itu bukan
sikap zuhud.
Etos
kerja
Dalam
konteks perkerjaan zuhud berarti mengerjakan pekerjaan halal dan hasilnya tidak
dihambur-hamburkan atau digunakan dalam perbuatan maksiat. Selain menjauhi
pekerjaan syubhat dan haram, zuhud juga menghendaki kita melakukan kewajiban,
termasuk mencari nafkah untuk memenuhi kebutuhan hidup. Dilihat dari ini, zuhud
mengandung etos kerja yang tinggi.[39]
Dengan
demikian, zuhud tidak melemahkan etos kerja, sebaliknya zuhud dapat meningkatkan etos kerja. Inilah
pemahaman zuhud yang perlu dikembangkan oleh kita untuk keluar dari krisis yang
berkepanjangan saat ini.
12)
Wara’
Wara’
berarti berpantang, maksudnya berpantang atau meninggalkan hal-hal yang syubhat
dan yang tidak bermanfaat. Hal ini didasarkan pada sebuah hadits, yaitu
“sebagian dari kesempurnaan Islam seseorang ialah meninggalkan hal-hal yang
tidak bermanfaat” ﴾HR.
Malik, Tirmidzi dan Ibnu Majah﴿
Hadits-hadits
tentang wara’, di antaranya:
a.
“Jadilah
orang-orang yang wara’ agar engkau menjadi orang yang paling banyak ibadahnya
di antara manusia” ﴾HR.
Ibnu Majah dan At Thabrani﴿
b.
“Sesungguhnya
yang halal itu jelas dan yang haram juga jelas dan di antara keduanya ada hal-hal
yang syubhat yang tidak diketahui oleh kebanyakan orang. Barang siapa yang
berhati-hati dari syubhat, maka akan bersih agamanya dan kehormatannya, dan
barang siapa yang terjerumus ke dalam perkara syubhat, maka akan terjerumus ke
dalam perbuatan haram”﴾HR.
Ibnu Majah dan At Thabrani﴿
Kemudian ada
ayat Al-Qur’an yang menerangkan sikap wara’, yaitu:
“Hai
rosul-rosul, makanlah dari makanan yang baik-baik, dan kerjakanlah amal sholih.
Sesunggunya Aku Mengetahui apa yang kamu kerjakan” {QS. Al-Mu’minun: 51}
Dalam
kajian tentang tasawuf wara’ biasanya disebut sesudah zuhud. Karean wara’ adalah
tingkat tertinggi dalam sikap zuhud. Sebagaimana telah dijelaskan bahwa zuhud
adalah meninggalkan hal-hal yang haram dan syubhat serta akhirnya meninggalkan
hal-hal yang tidak bermanfaat meskipun halal. Wara’ harus dilakukan secara
ikhlas.
Wara’
dapat dilakukan dengan beberapa tahap, di antaranya:
Pertama, memelihara iman agar tidak ternoda oleh maksiat, karena iman itu
dapat bertambah dan berkurang.
Kedua, menghindari perbuatan yang sebenarnya halal, tetapi dikhawatirkan
jatuh kepada perbuatan haram. Misalnya tidak masuk bar, karena khawatir tergoda
meminum minuman keras dan melakukan perbuatan maksiat lainnya.
Ketiga,
selalu ingat Allah SWT dan kegiatannya sehari-hari hanya ditujukan
kepada Allah SWT. Tahap ini kelihatanya, sama sekali sudah meninggalkna unsur
duniawi. Jika masih menangani urusan duniawi itu semata-mata untuk beribadah
kepada Allah SWT.
Etos
kerja
Tahap
wara’ yang terakhir tampaknya tidak mengandung etos kerja, karena orang (sufi)
yang telah mencapai tahap demikian mengurus duniawi. Namun terdapat dua tahap
yang mendorong orang bekerja untuk memenuhi kebutuhn hidup, dan yang penting
tidak mengerjakan perbuatan yang dilarang oleh Allah SWT.[40]
Dilihat
dari segi ini, wara’ masih mengandung etos kerja yang kuat. Karena pekerjaan
yang halal terbuka luas, sehingga untuk hidup makmur tidak harus melakukan
perbuatan haram. Dengan demikian orang yang wara’ seharusnya bekerja keras
untuk memenuhi kebutuhan hidup dan memberi kontribusi yang jelas kepada
pengembangan Islam dan kaum muslimin. Usaha seperti ini juga merupakan bukti
etos kerja yang kuat dalam sikap wara’.
13)
Syukur
Syukur
berarti terima kasih, maksudnya berterima kasih kepada Allah SWT atas nikmat
yang telah dilimpahkan kepada manusia.[41] Syukur dapat dilakukan dengan hati, lisan dan badan. Syukur dengan
hati ialah selalu ingat kepada Allah SWT (dzikir), syukur dengan lisan ialah
mengucapkan tahmid (pujian) kepada-Nya, dan syukur dengan badan ial.ah
menaati ajaran Allah SWT.
Dalil-dalil
Al-Qur’an tentang syukur, di antaranya:
a.
“Dan
bersyukurlah kepada Allah jika benar-benar kepada-Nya saja kamu menyembah” {QS. Al-Baqoroh: 172}
b.
“Dan
Allah aknn memberi balasan kepada orang-orang yang bersyukur” {QS. Ali-Imron: 144}
Kemudian ada
sejumlah hadits yang menjelaskan keutamaan syukur, di antaranya:
a.
Nabi
Muhammad ﷺ melakukan sholat malam
hingga kedua kakinya bengkak lalu ditanya: mengapa engkau lakukan ini, padahal
Allah telah mengampuni dosamu yang telah lalu dan yang akan datang. Lalu Nabi
bersabda:
“Tidak
bolehkah aku menjadi hamba yang banyak bersyukur” ﴾HR. Bukhri dan Muslim﴿
b.
Nabi
Muhammad ﷺ berkata kepada Mu’adz:
“Demi
Allah hai Mu’adz, sesungguhnya aku benar-benar mencintaimu. Maka janganlah
engkau lupa setiap kali usai sholat untuk mengucapkan: Ya Allah tolonglah aku
untuk mengingatmu, bersyukur dan beribadah kepadamu dengan baik” ﴾HR.
Bukhori dan Muslim﴿
Dalil-dalil
di atas menjelaskan keutamaan bersyukur, manusia akan bersyukur bila
merenungkan kelebihan-kelebihan yang dilimpahkan oleh Allah SWT kepadanya.
Misalnya manusia memiliki martabat yang lebih tinggi dibandingkan dengan
makhluk yang lain. Dengan martabat yang tinggi, kecerdasan dan hati nurani
manusia mendapat mandat dari Allah SWT menjadi khalifah di muka bumi untuk
mengelola dan memakmurkan kehidupan di dunia.
Lebih
dari itu manusia diberi nikmat iman dan Islam yang memungkinkan mereka mengetahui
hidup sesudah mati, yakni bahwa hidup di dunia ini hanya sementara, sedang
kehidupan yang lebih kekal adalah di akhirat. Kemudian dengan iman dan Islam
manusia dapat menjalani hidup dengan
selamat dari dunia dan akhirat.
Etos
kerja
Hakikat
syukur adalah pengakuan terhadap nikmat Allah SWT dengan hati dan tindakan.[42] Pengakuan dengan hati ialah beriman
kepadanya, dan pengakuan dengan tindakan ialah taat kepadanya. Oleh karena itu,
pekerjaan tidak boleh dinodai dengan hal-hal yang dilarang oleh Allah SWT. Etos
kerja hanya boleh diwujudkan dalam pekerjaan yang halal dan dilarang
dikembangkan dalam pekerjaan yang haram.
Dengan
demikian, etos kerja yang diharapkan tumbuh dari rasa syukur ialah etos kerja
yang sehat, yang memajukan kepentingan bersama dan kebersamaan itu tidak boleh
dinodai dengan hal-hal yang destruktif, seperti menipu dan korupsi.
14)
Cinta
Cinta
dalam tasawuf disebut mahabbah, maksudnya mahabbah kepada Allah SWT untuk
mendekatkan diri kepada-Nya.[43] Selain cinta
kepada Allah SWT ada pula cinta kepada diri sendiri yang diketahui melalui
ma’rifat yang selanjutnya ma’rifat kepada Allah SWT. Kemudian, tulis Haidar
Al-Kufi, ada cinta kepada kedua orang tua yang di dalamnya untuk mengetahui
kesadarannya tentang sejauh mana keharusan untuk berbuat baik kepada kedua
orang tua, sehingga Allah SWT ridlo kepadanya.
Jelaslah
bahwa cinta yang paling tinggi adalah cinta kepada Allah SWT. Sedang cinta
kepada selain Allah SWT, yaitu diri sendiri, orang tua, anak-anak, saudara,
kerabat dan kehidupan dunia adalah perwujudan cinta kepada Allah SWT.
Keutamaan cinta
kepada Allah SWT dijelaskan dalam Al-Qur’an:
a.
“Hai
orang-orang yang beriman, barang siapa di antara kamu yang murtad dari
agamanya,maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai
mereka dan merekapun mencintai-Nya”{QS.
Al-Maidah: 54}
b.
“Adapun
orang-orang yang beriman amat sangat cintanya kepada Allah SWT” {QS. Al-Baqoroh: 165}
Hadits-hadits
yangmenjelaskan perlunya cinta kepada Allah SWT:
a.
“Barang
siapa yang senang dengan bertemu dengan Allah, maka Allah juga senang bertemu
dengannya. Barang siapa yang tidak sennag bertemu dengan Allah, maka Allah juga
tidak senang bertemu dengannya” ﴾HR. Bukhori﴿
b.
“Barang
siapa yang telah Aku cintai, maka aku akan mendengar, melihat, menolong dan
mendukngnya” ﴾HR.
Al-Hakim, Ibnu Marduwaih, Abu Nua’im dan Ibnu Asakir﴿
Untuk
dapat mencintai Allah SWT diperlukan syrat-syarat. Di antaranya ialah ma’rifat
kepada Allah SWT, dzikrullah, taat, takut dan selalu bersyukur kepada-Nya. Dan
syarat terakhir adalah sabar menghadapi
apa yang diwajibkan dan dilarang kepadanya. Dengan kesabaran terjadilah
kepribadian dan takwa seorang hamba yang mencintai Allah SWT, dan tidak akan
goyah dalam mengahdapi ujian dan ujian yang dihadapi.
Dalam
tasawuf sufi yang sangat terkenal dengan ajaran cintanya ialah Rabi’ah
al’Adawiyah (w. 185 H/801 M). Dia pernah mengatakan bahwa dia beribadah kepada
Allah SWT bukan karena ingin surga dan takut neraka, tetapi semata-mata karena
cinta kepada Allah SWT.
Etos
kerja
Telah
dijelaskan bahwa cinta kepada Allah SWT merupakan cinta yang paling tinggi
nilainya. Sedang mencintai selain Allah SWT ditempatkan di bawah cinta
kepada Allah SWT. Kita dianjurkan mencintai keluarga dan
kehidupan dalam rangka mencintai Allah SWT. Wujud cinta kepada keluarga adalah
memenuhi kebutuhannya, fisik maupun mental. Untuk itu, diperlukan biaya,
sehingga diwajibkan mencari nafkah.[44]
Dengan
demikian, maka bekerja itu wajib dan cinta mengandung eots kerja yang kuat.
Sebenarnya tidak diwajibkanpun umumnya orang bekerja keras mencari nafkah untuk
memenuhi kebutuhan keluarganya karena dorongan cinta kepada merka. Tetapi jika
dia muslim, maka dorongan itu datang dari dua arah, yaitu cinta Allah SWT dan
cinta keluarga, begitupun cinta yang lain.
15)
Rindu
Rindu
dalam tasawuf disebut syauq,[45] maksudnya rindu kepada Allah SWT. Syauq adalah kerinduan untuk
melihat sang kekasih dan kerinduan untuk dekat dengan kekasih, kerinduan untuk
bersatu dengan kekasih, kerinduan yang intens untuk meningkatkan kerinduan.
Rindu
adalah sebuah buah cinta. Rasa rindu muncul setelah ada rasa cinta. Orang yang
mencintai Allah SWT akan selalu rindu kepadanya. Sebagian ulama berpendapat
bahwa rindu adalah damainya hati, senang bertemu dan berada didekatnya.
Mengenai hal ini Allah SWT berfirman:
مَنْ كَانَ يَرْجُوْ لِقَاءَ اللهِ فَاِنَّ اَجَلَ اللهِ لَاتٍ
“Barang siapa yang
mengharap pertemuan dengan Allah, maka sesungguhnya waktu (yang dijanjikan)
Allah pasti datang” {QS.
Al-Ankabut: 5}
Kemudian
ada sebuah hadits dari Atha’ bin as Sa’ib dari ayahnya dikatakan bahwa “pernah
Ammar bin Yasir melakukan sholat bersama kami. Sholatnya sangat singkat. Lalu
aku berkata kepadanya: Hai Abul Yaqzhan, kamu mengentengkan sholat. Jawab Ammar
(Abul Yaqzhan): aku tidak bisa lbih dari
itu. Sungguh aku telah berdo’a kepada Allah dengan do’a-do’a yang pernah aku
dengar dari Rosulullah. Ketika Ammar brdiri, dia diikuti oleh seorang pria,
lalu menanyakan do’a-do’a itu, maka Ammar menjawabnya: Ya Allah dengan
pengetahuan-Mu tentang hal yang ghaib dan kekuasaan-Mu terhadap makhluk, maka
berilah aku kehidupan yang menurut-Mu kematian itu lebih baik bagiku. Ya Allah
aku mohon kepadamu rasa takut kepadamu di tempat tertutup dan terbuka, dan aku
mohon kepada-Mu ucapan yang benar di kala senang dan marah. Aku mohon kepada-Mu
kesederhanaan di kala kaya dan miskin. Aku mohon kepada-Mu kenikmatan yang
tidak punah dan kesenangan yang tidak putus dan aku mohon kepada-Mu sifat ridlo
jika telah datang takdir-Mu dan kehidupan yang sejuk setelah kematian. Aku
mohon kepada-Mu dapat melihat wajah-Mu yang mulia. Aku rindu untuk bertemu
dengan-Mu tanpa mengalami penderitaan yang mencelakakan atau ujian yang
menyesatkan. Ya Allah hiasilah kami dengan iman. Ya Allah jadikanlah kami sebagai
petunjuk bagi orang-orang yang mencari petunjuk.
Rindu
kepada Allah SWT sebenarnya bukan hal baru setelah datangnya Nabi Muhammad ﷺ, tetapi nabi terdahulu. Di antara tanda rindu kepada Allah SWT
adalah tidak mengeluh di kala susah dan minta mati tatkala senang, seperti yang
dialami nabi Yusuf. Ketika nabi Yusuf dilempar ke dalam sumur dia tidak
berkata: matikanlah aku. Juga ketika dimasukkan ke dalam penjara, dia tidak
mengatakan: matikanlah aku. Tetapi
sewaktu orang tua dan saudara-saudaranya datang kepadanya, dia berkata:
matikanlah aku dalam keadaan Islam.
Etos
kerja
Telah
dijelaskan bahwa rindu adalah buah cinta. Orang yang mencintai Allah SWT akan
selalu rindu kepada-Nya. Begitu pula orang yang mencintai keluarganya tentu
sennatiasa rindunya kepada mereka. Rasa rindu mendorong orang untuk selalu
bersikap aktif, baik dalam urusan agama maupun urusan duniawi.
Dengan
demikian, rindu mengandung etos kerja yang kuat.[46] Karena
keluarga, orang mau bekerja tanpa lelah dan terus mencari nafkah, meski harus
meninggalkan kampung halaman. Kesungguhan
bekerja tidak dapat dilepaskan dari rasa rindu kepada keluarga. Tetapi
rasa rindu kepada keluarga tidak boleh melebihi rindu kepada Allah SWT.
16)
Shiddiq
Shiddiq
berarti benar atu jujur, maksudnya benar atau jujur dalam perkataan dan
perbuatan. Membiasakan sikap shiddiq merupakan salah satu cara mendekatkan diri
kepada Allah SWT dan bersikap shiddiq merupakan nilai hidup yang sangat penting
dalam hubungan sesama manusia, sekaligus menjadi sendi kemajuan manusia sebagai
pribadi dan kelompok.[47]
Dalil-dalil Al-Qur’an yang memerintahkan manusia bersikap jujur, di
antaranya:
a.
“Hai
orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah, dan hendaklah kamu bersama
orang-orang yang benar” {QS.
At-Taubah: 119}
b.
“Tetapi
jikalau mereka benar (imannya) terhadap Allah, niscaya yang demikian itu lebih
baik bagi mereka” {QS. Muhammad:
21}
Hadits yang menyatakan perlunya sikap jujur,
di antaranya:
a.
“Sesungguhnya
kebenaran itu membawa kepada kebaikan dan kebaikan membawa ke surga. Seseorang
yang membiasakan diri bersikap benar akan dicatat di sisi Allah sebagai orang
benar” ﴾HR. Bukhori dan Muslim﴿
Demikianlah dalil-dalil yang mengharuskan manusia untuk selalu
berkata dan berbuat benar atau jujur. Artinya manusia harus menghindari sikap
curang, seperti berbohong, dan perbuatan yang melanggar hukum dan etika,
seperti korupsi.
Allah SWT menjamin masyarakat dan negara yang menegakkan kebenaran
dan kejujuran dengan kehidupan yang aman dan damai, dan sebaliknya membiarkan
orang-orang yang terbiasa bersikap curang dalam kesesatan dan kehancuran.
Shiddiq berkait erat dengan sikap amanah, yakni jujur melaksanakan sesuatu yang
dipercayakan kepadanya berupa harta benda, rahasia dan tugas. Jadi, ada
persamaan dan perbedaan antara shiddiq dan amanah. Persamaannya adalah kedua
istilah itu berarti benar atau jujur, Sedang perbedannya adalah shiddiq bisa
berarti bersikap benar kepada Allah SWT dan benar kepada manusia. Sedang amanah
hanya benar dalam konteks hubungan dengan sesama manusia.
Etos
kerja
Sikap shiddiq menghendaki orang bekerja dengan jujur.[48] Jadi shiddiq
mengandung etos kerja yang kuat. Karena jujur tidaknya seseorang dapat dilihat
pada pekerjaannya, yaitu apakah dia melakukan pekerjaannya secara jujur atau
tidak. Cara lain melihat kejujuran orang adalah memperhatikan ucapannya.
Bekerja secara jujur dan benar adalah bekerja sesuai dengan
peraturan yang berlaku di tempat kerja. Hal ini membuktikan bahwa shiddiq mengandung
etos kerja yang kuat.
17)
Syaja’ah
Syaja’ah
berarti berani, maksudnya berani melakukan tindakan yang benar walaupun harus
menanggung resiko yang berat. Ini sesuai dengan ungkapan yang mengatakan bahwa
“berani karena benar, takut karena salah”.
Sikap berani
harus ditunjang oleh sikap mental di mana seseorang dapat menguasai dirinya dan
berbuat sebagaimana mestinya. Rosulullaah ﷺ bersabda:
“Bukanlah
yang disebut pemberani adalah orang yang kuat bergulat. Sesungguhnya pemberani
adalah orang dapat menguasai hawa nafsunya di kala marah” ﴾HR.
Bukhori dan Muslim﴿
Sikap
berani dapat dilihat pada stabilnya pikiran seseorang sewaktu menghadapi
bahaya.[49] Ia tetap melakukan pekerjaan dengan hati yang teguh dan akal yang
sehat serta tidak gentar menghadapi ancaman dan celaan sebagai konsekuensi
tindakannya. Hal ini sudah ditunjukkan oleh Rosulullah ﷺ dan para sahabatnya
ketika menyebarkan Islam. Allah SWT berfirman:
“(yaitu)orang-orang
nyampaikan risalayang menyampaikan risalah-risalah Allah, mereka takut kepada-Nya dan mereka tidak
merasa takut kepada seorang (pun) selain kepada Allah. Dan cukuplah Allah
sebagai pembuat perhitungan” {QS.
Al-Ahzab: 39}
Sikap
berani pada awalnya merupakan sikap mental yang berasal dari masyarakat Arab
jahiliah pra Islam. Orang-orang Arab yang tinggal di Padang Pasir sering
mengalami perampokan dan perang antar suku. Untuk mempertahankan diri, mereka
memerlukan sikap berani untuk melawan perampok dan menghadapi perang. Inilah
sebabnya kemudian sikap berani menjadi akhlak yang sangat terpuji di kalangan
masyarakat Arab.
Ketika
Islam datang, sikap berani tetap mendapat kedudukan yang tinggi sebagai akhlak
mahmudah (terpuji), karena sikap inilah yang menunjang penyebaran Islam. Tanpa
sikap berani orang-orang Islam tidak mudah menyebar ke seluruh masyarakat Arab,
apalagi ke seluruh dunia.
Etos
kerja
Telah
terbukti dalam sejarah Islam bahwa keberanian yang dimiliki oleh para pejuang
Islam sangat menentukan pengembangan agama Islam di masa lalu. Ini berarti
bahwa keberanian dapat membawa kemajuan Islam, berbagai kehidupan masyarakat
dan dalam dunia kerja. Hal ini terlihat misalnya munculnya kreasi-kreasi baru
yang berguna bagi kehidupan manusia.[50] Munculnya temuan-temuan baru di bidang IPTEK didorong oleh
keberanian untuk melakukan eksperimen. Ini berarti bahwa syaja’ah mengandung
etos kerja yang kuat.
Selain
itu, sikap berani sangat berguna dalam dunia kerja atau pekerjaan. Dalam
pekerjaan kadang-kadang mengalami kesulitan, dan kesulitan itu di antara lain
disebabkan oleh rasa takut, sehingga bisa di atasi dengan sikap berani.
Kemudian sikap berani menimbulkan suasana hati yang bermanfaat dalam pekerjaan,
yaitu rasa tenteram.
18)
Takdir
Takdir
adalah ketetapan dan ketentuan Allah SWT tentang keadaan segala sesuatu sebelum
terwujud di dunia ini. Takdir disebut juga qadha dan qadar. Takdir merupakan
salah satu rukun iman, berdasarkan sabda Rosulullah:
“Hendaklah
engkau beriman kepada Allah, para malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, para rosul-Nya
dan hari akhir, dan hendaklah engkau beriman kepada takdir, baik dan buruknya” ﴾HR.
Muslim﴿
Takdir
menyangkut tiga hal.[51] Pertama, keteraturan alam semesta, seperti peredaran
galaksi, pergerakan bintang, hembusan angin. Semua itu terjadi atas kehendak
Allah SWT dan sama sekali tidak ada peranan manusia di dalamnya.
Kedua, takdir menyangkut kehidupan manusia yang
bersuku-suku,berbangsa-bangsa dengan warna kulit yang saling berbeda dan postur
tubuh yang berbeda pula.
Ketiga,
takdir berkaitan dengan akal pikiran, kemampuan, kemauan dan
kebebasan manusia untuk berbuat. Artinya manusia diberi akal pikiran,
kemampuan, kemauan dan kebebasan untuk mewujudkan perbuatannya.
Dengan
demikian, akal pikiran, kemampuan, kemauan dan kebebasan manusia adalah takdir,
sementara binatang tidak mendapatkan takdir semacam ini. Tetapi dalam hal akal
pikiran, kemampuan, kemauan dan kebebasan itu dipergunakan untuk kebaikan dan
keburukan. Itu adalah hak manusia untuk melakukannya sebagai konsekuensi
kebebasan yang diberikan kepadanya.
Takdir
juga bisa berubah karena do’a. Manusia diperintahkan berdo’a dan Allah telah
berjanji menerima do’a hambanya. Selain, itu ikhtiar dapat mengubah takdir
Tuhan. Misalnya, ada orang yang ditakdirkan miskin, tetapi karena orang ini
bekerja keras dan sukses, maka hidupnya sejahtera.
Etos
kerja
Manusia
ditakdirkan memiliki akal pikiran, kemampuan, kemauan dan kebebasan dimaksudkan
untuk bekerja guna memenuhi kebutuhan diri dan keluarganya serta memajukan
kehidupan umat dan bangsanya. Ini berarti konsep takdir mengandung etos kerja
yang kuat. [52]
19)
Malu
Rasa
malu dalam tasawuf disebut haya’, maksudnya malu kepada Allah dan diri
sendiri ketika akan melanggar ajaran Islam, yaitu meninggalkan perintah-Nya dan
menjauhi larangan-Nya. Rasa malu dapat menjadi pembimbing kepada jalan
keselamatan dan mencegah perbuatan buruk.[53] Hadits-hadits yang menjelaskan perlunya rasa malu dan
keutamaannya. Di antaranya:
a.
“Malu
tidaak membuahkan sesuatu kecuali kebaikan” ﴾HR. Bukhori dan
Muslim﴿
b.
“Malu
adalah sebagian dari iman” ﴾HR.
Tirmidzi﴿
c.
“Kalau
tidak malu berbuatlah apa yang engkau inginkan” ﴾HR. Bukhori﴿
Hadits-hadits
di atas menjelaskan perlunya rasa malu, yaitu malu berbuat salah dan dosa. Meskipun kita bisa menghindar dari
penglihatan manusia, tetapi tidak bisa lepas dari penglihatan Allah SWT.
Mengenai hal ini Allah SWT berfirman:
“Tidakkah
dia mengetahui bahwa sesungguhnya Allah melihat segala perbuatannya” {QS. Al-‘Alaq: 14}
Rasa
malu sangat penting dalam hidup ini. Sebab rasa malu berbuat jahat akan
menghindarkan orang dari perbuatan salah dan dosa. Sebaliknya, jika rasa malu
berbuat jahat tidak ada lagi, maka orang akan cenderung berbuat jahat, walaupun
tidak terpaksa dengan keadaan. Merajalelanya korupsi selama ini di Indonesia
sampai era reformasi sekarang disebabkan olleh tidak adanya rasa malu di
kalangan penyelenggara negara (eksekutif, legislatif, yudikatif). Selain itu
rasa malu, jika prestasi belajarnya rendah bagi pelajar dan mahasiswa dapat
ditumbuhkan dengan bergaul bersama pelajar dan mahasiswa yang berprestasi.
Etos
kerja
Malu
berbuat jahat mendorong orang untuk selau berbuat baik. Begitu pula malu
berpresprestasi rendah dalam pekerjaan, mendorong pekerja berusaha untuk
mencapai prestasi yang tinggi. Untuk meraih prestasi yang tinggi dalam
pekerjaan diperlukan kerja keras. Ini berarti bahwa rasa malu mengandung etos
kerja yang kuat.[54]
20)
Wirid
Wirid
merupakan latihan spiritual dengan menyebut nama-nama Tuhan, mengerjakan sholat
sunnah, membaca Al-Qur’an, dzikir, do’a dan tafakkur.[55] Dalam tarekat
pengamalan wirid melahirkan transformasi batin secara bertahap. Namun kadar
transformasi spiritual ini tergantung pada rahmat Allah SWT dan juga kesucian
niat dan ketulusan.
Perlunya wirid
dengan menyebut nama-nama Tuhan ditegaskan Al-Qur’an:
وَ اذْكُرِ اسْمَ رَبِّكَ وَ تَبَتَّلْ اِلَيْهِ تَبْتِيْلاً
“Sebutlah nama Tuhanmu,
dan beribadahlah kepada-Nya dengan penuh ketekunan” {QS. Al-Muzzammil: 8}
وَ اذْكُرِ اسْمَ رَبِّكَ بُكْرَةً وَّ أَصِيْلاً
“Dan sebutlah nama
Tuhanmu pada (waktu) pagi dan petang” {QS.
Al-Insan: 25}
Wirid
juga bisa berupa sholat sunnah, seperti sholat tahajud, sholat rawatib, sholat
witir dan lain-lain serta juga bisa berupa asmaa ulhusna. Sholat tahajud
disebut juga sholatullail (sholat malam), sesuai dengan firman-Nya:
“Dan
pada sebahagian malam hari bersembahyang tahajudlah kamu sebagai suatu ibadah
tambahan bagimu, mudah-mudahan Tuhanmu mengangkat kamu ke tempat yang terpuji” {QS. Al-Isra’: 79}
Selain
itu juga, wirid dapat dilakukan dengan membaca Al-Qur’an dan lebih baik sambil
memperhatikan maknanya agar dapat mengamalkan dalam kehidupan sehari-hari.
Etos
kerja
Menyebut
nama-nama Tuhan, mengerjakan sholat sunnah, membaca Al-Qur’an, dzikir, do’a dan
tafakkur selain mendatangkan pahala bagi yang melakukannya juga dapat
menimbulkan ketenangan hati dan pikiran.
Ketenangan
hati dan pikiran sangat penting dalam bekerja. Orang yang hati dan pikirannya
dapat bekerja dengan baik dan bisa menyusun strategi kerja yang tepat untuk
mencapai hasil yang maksimal. Ini berarti bahwa ketenangan hati, pikiran,
wirid, dzikir, do’a, membaca Al-Qur’an, dan sholat sangat penting dalam
mengembangkan etos kerja.[56]
21)
Dzikir
Dzikir
berarti mengingat, menyebut atau mengagungkan Allah dengan mengulang-ulang
salah satu namanya. Dzikir yang hakiki ialah sebuah keadaan spiritual di mana
seseorang yang mengingat Allah (dzakir) memusatkan segenap fisik dan
spiritualnya kepada Allah, sehingga seluruh wujudnya bisa bersatu dengan Yang
Maha Mutlak.[57]
Dzikir
dapat dilakukan dengan berbagai cara, seperti dzikir jahar (dzikir
dengan bersuara), dzikir khafi (dzikir dengan diam), dzikir lisan
(dzikir dengan lidah), dzikir nafs (dzikir tanpa suara, tetapi dengan
gerakan dan perasaan batin), dzikir qalb (dzikir dengan hati ketika
merenungkan keindahan dan keagungan Allah dalam relung hati), dzikir sirr
(dzikir dalam hati yang paling dalam ketika tersingkap berbagai misteri ilahi),
dan dzikrullah (mengingat Allah melalui salah satu namanya atau
firmannya).
Dzikrullah
yang sempurna di mana Allah menjadi penglihatan, pendengaran, pembicaraan dan
pemahaman sang dzakir, dicapai bila setiap atom dalam diri sang dzakir terserap
dan lenyap dalam mengingat Allah.
Perlunya dzikir
dan keutamaannya dijelaskan dalam Al-Qur’an:
a.
“Maka
berdzikirlah dengan menyebut Allah, sebagaimana kamu menyebut-nyebut (membangga-banggakan)
nenek moyangmu atau (bahkan) berdzikir lebih banyak dari itu” {QS. Al-Baqoroh: 200}
b.
“Karena
itu, ingatlah kamu kepada-Ku niscaya Aku ingat (pula) kepadamu” {QS. Al-Baqoroh: 152}
c.
“Hai
orang-orang yang beriman, berdzikirlah (dengan menyebut nama) Allah, dzikir
sebanyak-banyaknya” {QS. Al-Ahzab:
41}
Selain itu
perlunya dzikir dan keutamaannya juga dijelaskan dalam sejumlah hadits:
a.
“Rosulullah
berdzikir kepada Allah setiap saat” ﴾HR. Muslim﴿
b.
“Perumpaan
orang yang berdzikir kepada Allah dengan orang yang tidak berdzikir bagaikan
perbedaan antara orang hidup dengan orang mati” ﴾HR.
Bukhori﴿
Itulah
dalil-dalil yang menjelaskan perlunya dzikir dan keutamaannya. Dengan dzikir
orang mengakui keagungan Allah dan menyadari kerendahan dirinya serta bersikap
lemah lembut dan peduli kepada sesama.
Etos
kerja
Dengan
dzikir orang akan selalu ingat perintah Allah SWT, ini berarti dzikir
mengandung etos kerja yang kuat. Kemudian dzikir juga dapat menimbulkan
ketenangan jiwa dan pikiran. Dalam masyarakat modern, persaingan dalam
pekerjaan berlangsung sangat ketat, orang mudah mengalami stress yang
selanjutnya mengganggu jiwa dan pikiran.
Sebaliknya,
ketenangan jiwa dan pikiran dapat menghilangkan stress, sikap malas dan putus
asa. Orang yang jiwanya tenang dapat mengerjakan pekerjaannya dengan mudah,
tekun dan penuh semangat. Ini juga berarti bahwa dzikir mengandung etos kerja
yang kuat.[58]
22)
Do’a
Do’a
berarti permintaan atau permohonan, yaitu permohonan manusia kepada Allah untuk
mendapatkan kebaikan di dunia dan
keselamatan di akhirat. Kebaikan di dunia adalah kesehatan, kemakmuran,
memiliki pengetahuan dan terhindar dari musibah. Sedang keselamatan di akhirat
adalah masuk surga.
Do’a
merupakan kesempatan manusia mencurahkan hatinya kepada Tuhan, menyatakan
kerinduan, ketakutan dan kebutuhan manusia kepada Tuhan.[59] Mengenai hal ini Allah SWT berfirman:
a.
“Katakanlah:
Berdo’alah kepada mereka yang kamu anggap Tuhan selain Allah, maka mereka tidak
akan mempunyai kekuasaan untuk menghilangkan bahaya dari kalian, dan tidak pula
memindahkannya” {QS. Al-Isro’:
56}
b.
“Allah
mempunyai nama-nama baik (asmaul husna), maka berdo’alah kepada-Nya dengan
menyebut nma-nama itu” {QS. Al-A’rof: 180}
Selain itu
terdapat beberapa hadits yang menjelaskan keutamaan do’a:
a.
“Do’a
itu adalah otak ibadah” ﴾HR.
Tirmidzi﴿
b.
“Rosulullah
suka do’a yang singkat, tetapi isinya mencakup semua maksud dalam do’a dan
meninggalkan selainnya” ﴾HR. Abu Dawud﴿
Dalil-dalil
di atas menjelaskan perlunya do’a dan keutamaannya. Do’a biasanya berkaitan
dengan ikhtiar. Do’a dan ikhtiar merupakan dua hal yang penting dalam kehidupan
manusia. Manusia perlu berdo’a, karena ikhtiar yang dilakukan ada batasnya, dan
manusia juga perlu berikhtiar, karena hal itu merupakan jalan untuk mencapai
tujuan.
Etos
kerja
Jelaslah
bahwa do’a tidak dapat berdiri sendiri, tetapi harus disertai dengan ikhtiar.[60] Artinya orang
tidak boleh hanya berdo’a, tetapi juga harus berikhtiar untuk mencapai hal-hal
yang diminta dalam do’a. Ha lini berarti bahwa do’a mengandung etos kerja yang
kuat.
Do’a
mengandung harapan, orang yang berharap tentu selalu terdorong melakukan
ikhtiar untuk mewujudkan harapannya. Sebaliknya, orang yang putus asa tidak
akan berikhtiar, karena tidak ada dorongan. Harapan merupakan semangat hidup
yang mengandunt etos kerja.
23)
Tafakkur
Tafakkur
berarti renungan, yakni merenungkan ciptaan Allah, kekuasaan-Nya yang nyata dan
tersembunyi serta kebesarannya di seluruh langit dan bumi.[61] Tafakkur termasuk wirid yang dilakukan dalam rangka mendekatkan
diri kepada Tuhan.
Tafakkur
sebaiknya dilakukan setiap hari, terutama pada tengah malam. Karena saat tengah
malam adalaah saat yang paling baik, jernih dan tepat untuk pensucian jiwa.
Perlunya
tafakkur tentang ciptaan Allah dalam Al-Qur’an dijelaskan:
a.
“Dan
mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): Ya Tuhan
kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia” {QS. Ali-Imron: 191}
b.
“Katakanlah:
Perhatikanlah apa yang ada di langit dan di bumi” {QS. Yunus: 101}
c.
“Maka
ingatlah nikmat-nikmat Allah dan janganlah kamu merajalela di muka bumi membuat
kerusakan” {QS. Al-A’rof:
74}
Adapun
beberapa macam tafakkur yang dianjurkan dalam Al-Qur’an, yakni, bertafakkur tentang
ciptaan Allah,bertafakkur karunia, kemurahan dan nikmat, bertafakkur mengenai
luasnya pengetahuan Allah SWT, bertafakkur supaya tidak lalai, bertafakkur
mengenai kefanaan kehidupan dunia dan kekalnya kehidupan akhirat, bertafakkur
mengenai amal sholih dan perbuatan salah serta ganjarannya terhadapnya.
Tazakkur
Selain
istilah tafakkur dalam tasawuf juga ada istilah tazakkur. Adapun persamaan dan
peerbedaan antara kedua istilah ini. Persamaannya adalah memiliki arti yang
sama yakni renungan. Sedang perbedannya menurut sebagian ulama ialah, tafakkur
merupakan cara atau jalan menuju tazakkur,
sedang tafakkur adalah wujud tafakkur.
Etos
kerja
Tafakkur
dan tazakkur menghasilkan kerinduan untuk selalu dekat dengan Allah SWT,
mendorong untuk beribadah, beramal sholih, berbuat baik, dan menghindari
perbuatan salah dan dosa. Salah satu perbuatan baik adalah bekerja mencari
rizqi untuk diri memenuhi kebutuhan hidup. Hal ini berarti, tafakkur dan
tazakkur mengandung etos kerja yang kuat.[62]
Tafakkur
dan tazakkur membawa ketenangan pada hati dan pikiran dan ini sangat penting
dalam bekerja. Orang yang hati dan pikirannya tenang, maka dia dapat bekerja
dengan hasil yang maksimal.
24)
Uzlah
Uzlah
berarti mengasingkan diri, yaitu mengasingkan diri dari pergaulan dengan
masyarakat untuk menghindari maksiat dan kejahatan serta melatih jiwa dengan melakukan ibadah, dzikir, do’a dan
tafakkur tentang kebesaran Allah SWT dalam mendekatkan diri kepada-Nya.[63]
Uzlah
juga disebut khalwat. Kemudian uzlah dan khalwat memiliki arti yang hampir sama
dengan tajrid, tafarrud atau infirad dan hijrah. Tajrid
berarti menghilangkan segala sifat dan sebab yang dapat membawa diri kepada
maksiat dan menyerahkan seluruh nasibnya kepada Allah SWT. Tetapi caranya tidak
harus memisahkan diri dari pergaulan masyarakat.
Lalu
infirad berarti memisahkan diri dari pergaulan masyarakat agar terhindar
dari maksiat dan kejahatan yang sedang terjadi dalam masyarakat supaya
keburukan budi pekertinya tidak membawa akibat buruk kepada masyarakat.
Sedang
hijrah berarti memisahkan diri secara sosial dan politis dari suatu masyarakat
untuk melanjutkan perjuangan.
Dengan
demikian, tindakah pengasingan atau pemisahan diri dalam Islam ada beberapa
macam, tergantung keperluan dan tujuannya. Selain itu dalam tasawuf uzlah
dapat dilakukan dengan dua tahap. Tahap pertama ialah membatasi diri dari
pergaulan masyarakat. Misalnya hubungan dengan masyarakat dibatasi pada ibadah
yang dikerjakan secara bersama-sama, dan melakukan pekerjaan secara kolektif.
Apabila
cara pertama tidak berhasil mencegah diri dari maksiat dan kejahatan, makaa
perlu menempuh cara kedua, yaitu sama sekali memisahkan diri dari pergaulan
masyarakat dengan pergi ke tempat yang terpencil, seperti gunung, hutan, dan
sebagainya.
Praktek
uzlah didasarkan pada perbuatan Nabi Muhammad ﷺ yang sering melakukan khalwat ke Gua Hira di Jabar Nur, sekitar
3 mil di luar kota Mekah. Nabi Muhammad ﷺ melakukan hal ini sebelum diangkat menjadi rosul untuk
menghindari pergaulan masyarakat Quraisy yang kala itu sangat bejat. Di sinilah
beliau memperoleh wahyu yang pertama dan diperintahkan berdakwah mengajak
masyarakat kemabali ke jalan yang benar.
Dalil
Al-Qur’an yang menceritakan uzlah yang pernah dilakukan oleh Nabi Musa,
firman Allah SWT:
“Dan
telah Kami janjikan kepada Musa (memberikan Taurat) sesudah berlalu waktu tiga
puluh malam, dan Kami sempurnakan jumlah malam itu dengan sepuluh (malam lagi),
maka sempurnalah waktu yang telah ditentukan Tuhannya empat puluh malam. Dan
berkata Musa kepada saudaranya yaitu Harun: Gantikanlah aku dalam (memimpin)
kaumku, dan perbaikilah, dan janganlah kamu mengikuti jalan orang-orang yang
membuat kerusakan” {QS. Al-A’rof:
142}
Dalam
melakukan uzlah selain menghindari maksiat dan kejahatan juga beribadah,
berdzikir, berdo’a dan bertafakkur tentang kebesaran Allah SWT dalam rangka
mendekatkan diri kepada-Nya.
Etos
kerja
Mengasingkan
diri tidak hanya dianjurkan, sebagaimana diajarkan dalam tasawuf, tetapi juga
merupakan naluri manusia. Manusia selalu cenderung mengasingkan diri untuk mencari
ketenangan hidup.[64] Itulah sebabnya misalnya tempat-tempat peristirahatan ramai
dikunjungi pada saat libur. Hanya saja bedanya dengan uzlah adalah orang yang
mengunjungi tempat-tempat peritirahatan itu semata-mata untuk beristirahat
melepaskan diri dari pekerjaan sehari-hari.
Sedang
uzlah adalah melepaskan diri dari pekerjaan sehari-hari tetapi untuk beribadah
dan bertafakkur tentang kebesaran Allah SWT yang tentunya akan mendatangkan
ketenangan hidup. Ketenangan hidup akan menimbulkan sikap mental dan semangat
hidup yang kuat dalam menghadapi kehidupan pada umumnya dan pekerjaan
khususnya. Ini berarti uzlah mengandung etos kerja yang tinggi.
25)
Kemiskinan
Dalam
tasawuf kemiskinan disebut faqr.[65] Maksudnya, pada dasarnya manusia itu miskin, baik secara spiritual
maupun material. Miskin spiritual berarti manusia tidak dekat dengan Tuhan dan
berusaha mendekatkan diri kepada Tuhan dengan menjalankan perintah dan menjauhi
larangan-Nya. Sedang miskin secara material adalah pada dasarnya manusia itu
miskin, tidak memiliki apa-apa. Semua harta/barang berharga adalah titipan
Allah SWT yang harus dipergunakan sebaik-baiknya
Orang
miskin yang tetap beribadah dan beramal sholih dipuji oleh Allah SWT dengan janji
akan lebih dahulu masuk surga. Rosulullah ﷺ bersabda:
“Orang-orang
miskin akan masuk surga sebelum orang-orang kaya dengan jangka waktu lima ratus
tahun setengah hari” ﴾HR.
Tirmidzi﴿
Pujian
terhadap orang miskin yang bersabar dan beramal sholih menyebabkan banyak sufi
lebih suka hidup miskin daripada berkecukupan.[66] Dengan alasan
bahwa jika kita hidup berkecukupan, maka yang akan dikhawatirkan adalah harta
dan lalai terhadap Allah SWT. Kecenderungan sufi untuk hidup miskin terlihat
pada kainnya yang sangat sederhana, yaitu wol (shuf) yang kasar. Pada awal
perkembangan Islam shuf yang kasar adalah pakaian orang miskin. Sedang orang
kaya biasanya memakai pakaian yang terbuat dari sutra.
Namun
hal itu tidak berarti orang Islam tidak perlu kaya. Menjadi kayaitu boleh dan
dianjurkan bila tujuannya untuk membela kepentingan Islam. Mengenai hal ini
Allah SWT berfirman:
“
(Berinfaklah) kepada orang-orang fakir yang terikat (oleh jihad) di jalan
Allah, mereka tidak dapat (berusaha) di bumi, orang yang tidak tahu menyangka
merekaorang kaya karea memelihara diri dari meminta-minta. Kamu kenal mereka
dengan melihat sifat-sifatnya, mereka tidak memintakepada orang secara
mendesak. Dan apa saja harta yang baik kamu nafkahka (di jalan Allah), maka
sesungguhnya Allah Maha Mengetahui” {QS.
Al-Baqoroh: 235}
Selain
ayat di atas, Allah SWT menyebut orang yang tidak peduli dengan orang mikin
sebagai orang yang mendustakan agama, dengan firmna-Nya:
“Tahukah
kamu (orang) yang mendusrakan agama? Itulah orang yang menghardik anak yatim,
dan tidak menganjurkan memberi makan orang miskin” {QS. Al-Ma’uun: 1-3}
Jelaslah
bahwa dalil-dalil di atas sangat menganjurkan kita untuk memperhatikan orang
miskin. Orang kaya yang hendak masuk surga harus mengasihi orang miskin. Orang
miskin juga akan masuk surga bila bersabar dalam kemiskinannya dan mengerjakan
perintah Allah SWT. Untuk mengasihi orang miskin, dapat dilakukan dengan
memberikan zakat, infaq dan shodaqoh.
Etos
kerja
Untuk
menjadi orang kaya agar dapat mengasihi orang miskin tentu saja harus bekerja untuk
mendapatkan rizqi yang halal dan banyak. Keharusan bekerja keras untuk mencari
rizqi menunjukkan bahwa konsep faqr dalam tasawuf mengandung etos kerja yang
kuat.[67] Sebab biasanya untuk menjadi orang kaya harus bekerja keras.
Orang
miskin sebaiknya tidak meminta-minta untuk memenuhi keperluan, tetapi harus
bekerja untuk mendapat rizqi yang memadai. Ini juga menunjukkan adanya etos
kerja dalam konsep faqr.
26)
Kematian
Dalam
tasawuf kematian ada dua macam, yaitu mati secara fisik dan spiritual.[68] Secara fisik
berarti berpisahnya roh dari badan. Sedang kematian secara spiritual ada empat
macam. Pertama, kematian merah, yang berkaitan dengan pengendalian
amarah dan menjauhi dendam dalam diri sendiri. Kedua, kematian putih,
yang berkenaan dengan rasa lapar, asketisme dan gaya hidup sederhana. Ketiga,
kematian hijau, yang bertalian dengan mencampakkan hiasan diri lahiriah dan
menyandang hiasan batiniah dengan segenap akhlak mulia. Keempat,
kematian hitam, yang berhubungan dengan sikap tidak mementingkan diri sendiri
berupa cinta dan kasih sayang kepada sesama makhluk.
Namun yang
dimaksud kematian di sini adalah kematian secara fisik. Allah SWT berfirman:
a.
“Tiap-tiap
yang berjiwa akan merasakan mati. Kemudian hanyalah kepada Kami kamu
dikembalikan” {QS.
Al-Ankabut: 57}
b.
“Di
mana saja kamu berada, kematian akan mendapatkan kamu, kendatipum kamu di dalam
benteng yang tinggi lagi kokoh”{QS.
An-Nisa’: 78}
Ayat-ayat di atas menjelaskan bahwa kematian tidak bisa ditolak dan
pasti akan dialami oleh setiap orang.[69] Kematian harus selalu diingat supaya beribadah, beramal sholih dan
menjauhi larangan-Nya. Oleh karena itu, kita diperintahkan untuk selalu ingat
kematian sebelum terlambat. Sebagaiman firman Allah SWT:
“(Demikianlah
keadaan orang-orang kafir itu), hingga apabila datang kematian kepada seseorang
dari mereka, dia berkata: Ya Tuhanku kembalikanlah aku (ke dunia),agar aku
berbuat amal sholih terhadap apa yang telah aku tinggalkan. Sesungguhnya itu
adalah perkataan yang diucapkannya saja.
dihadapan mereka ada dinding sampai hari dibangkitkan” {QS. Al-Mu’minun: 99-100}
Ingat
akan mati biasanya disertai dengan ingat akan siksa neraka. Siksa neraka akan
dialami oleh setiap orang yang berdosa. Sedang kehidupan di dunia sering
bergelimang dengan dosa. Inilah sebabnya manusia apabila ingat akan kematian,
mereka tidak mau menangani urusan dunia.
Etos
kerja
Jelaslah
bahwa ingat akan kematian tidak harus diwujudkan dengan menjauhi urusan dunia, tetapi melakukan tindakan nyata dalam
kehidupan dunia. Dalam melakukan tindakan nyata yang didorong oleh ingat akan
kematian dapat menimbulkan sikap berani mati.[70]
Sikap
berani mati dalam berbuat menumbuhkan etos kerja yang kuat. Karena sikap
seperti ini menimbulkan semangat kerja yang tak pernah kendur sampai akhir
hayat orang yang memiliki sikap tadi. Semangat kerja yang terus menyala bukan
untuk memperkaya diri sendiri, tetapi untuk menegakkan keadilan, kebenaran,
kejujuran dan kemakmuran bagi kesejahteraan bersama.
BAB III
KESIMPULAN DAN REKOMENDASI
a.
Kesimpulan
Menurut Abu Qasim
al-Qusyaeri (376-466), tasawuf ialah penjabaran ajaran Al-Quran, sunnah,
berjuang mengendalikan hawa nafsu, menjauhi perbuatan bid’ah, mengendalikan syahwat,
dan menghindari sikap meringankan ibadah. Dan Menurut
Kamus Besar Bahasa Indonesia etos kerja adalah semangat kerja yang menjadi ciri
khas dan keyakinan seseorang atau suatu kelompok.
Menurut ajaran Islam, bekerja itu wajib, setidaknya untuk memenuhi
kebutuhan diri sendiri, keluarga dan umat. Tasawuf pun sejalan dengan ajaran
dasar Islam, sehingga tasawuf tidak melemahkan etos kerja, tetapi malah dapat
memperkuat etos kerja.
Untuk meningkatkan semangat atau etos kerja dalam diri kita, para
ahli sufi telah mengajarkan kita melalui sikap yang mereka contohkan dalam
kehidupan mereka sesuai dengan ajaran dan konsep tasawuf. Di antaranya, sikap
optimisme, istiqamah, sabar, ikhlas, ridha, qana’ah, takwa, takut, tawakal,
tobat, zuhud, wara’, syukur, cinta, rindu, hidiq, syaja’ah, takdir, malu,
zikir, doa, tafakkur, uzlah, kemiskinan, dan kematian.
b.
Rekomendasi
Berdasarkan
kesimpulan yang telah dipaparkan, maka penulis mengajukan rekomendasi yang
dipandang berguna agar dapat meningkatkan pengetahuan para pembaca, khusunya
mahasiswa. Yakni, pada zaman sekarang pastilah sulit untuk mengaplikasikan
kehidupan tasawuf dalam suatu pekerjaan. Namun, tidak ada salahnya jika kita mencoba
mempraktikannya. Karena jika semua diawali dengan niat yang benar dan
sungguh-sungguh pasti semua terasa mudah. Dunia ini hanyalah sebagai tempat
sendau gurau dan main-main, jadi jika penuh dengan kekayaan atau kebanyakan
harta memungkinkan manusia dekat pada kejahatan. Untuk itu tidak ada salahnya
kita sama-sama belajar mengaplikasikan
kehidupan tasawuf pada suatu pekerjaan dengan tujuan mendekatkan diri kepada
Allah SWT.
Daftar Pustaka
Prof. Dr. Harun Nasution, Falsafat dan Mistisme dalam Islam, Jakarta
: Bulan Bintang, 1995.
Sudirman Tebba, Membangun Etos
Kerja dalam Perspektif Tasawuf, Bandung:
Pustaka Nusantara, 2003.
[2]. Prof. Dr.
Harun Nasution, Falsafat dan Mistisme dalam Islam, (Jakarta : Bulan Bintang),
1995, hlm. 64
3. Ahmad
Warson Munawir, Al-Munawir : Kamus Arab – Indonesia, PP. Al-Munawiwir,
Yogyakarta, 1984, hlm. 626
[7].
Sudirman Tebba, Membangun Etos Kerja dalam Perspektif Tasawuf, Bandung: Pustaka Nusantara, 2003, hlm. 1
[8].
Ibid., hlm. 2
[9].
Ibid., hlm. 4
[10].
Ibid., hlm. 8
[11]. Ibid.,
hlm. 15
[12].
Ibid., hlm. 17
[13].
Ibid., hlm. 20
[14].
Ibid., hlm. 20-21
15. Ibid., hlm. 22
[16].
Ibid., hlm. 24
[17].
Ibid., hlm. 25-26
[18].
Ibid., hlm. 27
[19].
Ibid., hlm. 30
[20].
Ibid., hlm. 31-32
[21].
Ibid., hlm. 33
[22].
Ibid., hlm. 35
[23].
Ibid., hlm. 36 -37
[24].
Ibid., hlm. 38-40
[25].
Ibid., hlm. 42
[26].
Ibid., hlm. 44
[27].
Ibid., hlm. 46
[28].
Ibid., hlm. 48
[29].
Ibid., hlm. 51-52
[30].
Ibid., hlm. 53
[31].
Ibid., hlm. 55
[32].
Ibid., hlm. 56-57
[33].
Ibid., hlm. 60
[34].
Ibid., hlm. 61
[35].
Ibid., hlm. 63
[36].
Ibid., hlm. 65
[37].
Ibid., hlm. 67
[38].
Ibid., hlm. 68
[39].
Ibid., hlm. 74
[40].
Ibid., hlm. 78
[41].
Ibid., hlm. 80
[42].
Ibid., hlm. 84
[43].
Ibid., hlm. 86
[44].
Ibid., hlm. 91
[45].
Ibid., hlm. 93
[46].
Ibid., hlm. 95
[47].
Ibid., hlm. 96
[48].
Ibid., hlm. 101
[49].
Ibid., hlm. 103
[50]. Ibid.,
hlm. 106
[51].
Ibid., hlm. 108
[52].
Ibid., hlm. 112
[53].
Ibid., hlm. 113
[54].
Ibid., hlm. 116
[55].
Ibid., hlm. 117
[56].
Ibid., hlm. 122
[57].
Ibid., hlm. 123
[58].
Ibid., hlm. 129
[60].
Ibid., hlm. 135
[61].
Ibid., hlm. 136
[62].
Ibid., hlm. 144
[63].
Ibid., hlm. 145
[64].
Ibid., hlm. 148
[65].
Ibid., hlm. 150
[66].
Ibid., hlm. 151
[67].
Ibid., hlm. 153
[68].
Ibid., hlm. 155
[69].
Ibid., hlm. 156
[70].
Ibid., hlm. 158
Tidak ada komentar:
Posting Komentar