Senin, 24 April 2017

Makalah Tasawuf dan Etos Kerja




MAKALAH
TASAWUF DAN ETOS KERJA

Diajukan untuk memenuhi salah satu tugas mandiri
Pada mata kuliah Ilmu Tasawuf


         Oleh
                  Rahmatia Sabar              41032124141004
                    


PENDIDIKAN BAHASA ARAB
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS ISLAM NUSANTARA
2016
BANDUNG




KATA PENGANTAR
بسم الله الرحمن الرحيم
السّلام عليكم و رحمة الله و بركاته
Puji syukur kehadirat Allah SWT karena atas rahmat dan karunia-Nya, saya dapat menyelesaikan makalah yang berjudul “ Tasawuf dan Etos Kerja”. Sholawat dan salam semoga tetap tercurah limpahkan kepada kekasih-Nya, Nabi Muhammad SAW, keluarga dan para sahabatnya.
Adapun tujuan penulisan makalah ini adalah untuk memenuhi tugas mata kuliah Akhlak Tasawuf dan yang lebih pentingnya yakni untuk menambah ilmu pengetahuan kepada kita sebagai mahasiswa tentang ajaran dan kaidah hidup yang Islami.
Makalah ini tentunya tak luput dari kesalahan dan kekurangan, baik dari segi isinya, bahasa, analisis maupun yang lainnya. Maka dari itu, komentar maupun kritik dan saran sangat dibutuhkan oleh penulis untuk memperbaiki hasil karya kedepannya.
Akhir kata, saya ucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu, terutama kepada dosen pembimbing bapak Ahmad Khori, M.M.Pd., M.Pd.I yang telah memberikan bimbingan dalam pembuatan makalah ini.

السّلام عليكم و رحمة الله و بركاته و
Bandung, Mei 2016

Penyususn











DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR
DAFTAR ISI
BAB I PENDAHULUAN
a.       Latar belakang masalah
b.      Pembatasan makalah
c.       Tujuan penulisan makalah
BAB II PEMBAHASAN
a.     Pengertian tasawuf
b.    Pengertian etos kerja
c.     Islam dan pekerjaan
d.    Tasawuf dan etos kerja
BAB III KESIMPULAN DAN REKOMENDASI
a.     Kesimpulan
b.    Rekomendasi
DAFTAR PUSTAKA
















BAB I
PENDAHULUAN

a.       Latar belakang masalah
Hampir di setiap sudut kehidupan, kita akan menyaksikan begitu banyak orang yang bekerja. Apalagi bagi seorang muslim bekerja dimaknai sebagai suatu upaya yang sungguh-sungguh, dengan mengerahkan seluruh aset, pikir, dan dzikirnya untuk mengaktualisasikan atau menampakkan arti dirinya sebagai hamba Allah SWT yang harus menundukkan dunia dan menempatkan dirinya sebagai bagian dari masyarakat yang terbaik (khairu ummah) (Tasmara, 2002:25). Atau dengan kata lain dapat juga kita katakan bahwa dengan hanya bekerja manusia itu memanusiakan dirinya.
Keberhasilan kerja seseorang ditentukan oleh adanya etos kerja tinggi yang tertanam dalam dirinya. Dengan cara memahami dan meyakini ajaran-ajaran agama yang berhubungan dengan penilaian ajaran agama tersebut terhadap kerja, akan menumbuhkan suatu etos kerja pada diri seseorang. Pada perkembangan selanjutnya etos kerja ini akan menjadi pendorong keberhasilan kerjanya. Persoalannya bagaimana konsep etos kerja dalam Islam yang digali dari Al-Quran dan Hadits.
Mereka yang beretos kerja memiliki semacam semangat untuk memberikan pengaruh positif kepadanya bahkan kepada lingkungannya. Keberadaan dirinya diukur oleh sejauh mana potensi yang dimilikinya memberikan pengaruh mendalam bagi orang lain[1].
b.      Pembatasan makalah
Makalah ini hanya membahas tentang Tasawuf dan etos kerja, tidak membahas tasawuf secara umum.
c.       Tujuan penulisan makalah
Ø  Untuk mengetahui pengertian tasawuf
Ø  Untuk mengetahui pengertian etos kerja
Ø  Untuk mengetahui pembahasan tentang Islam dan pekerjaan
Ø  Untuk mengetahui penjelasan tentang tasawuf dan etos kerja

BAB II
PEMBAHASAN
a.      Pengertian Tasawuf       
   Pengertian tasawuf secara etimologi. Asal istilah tasawuf merujuk ke beberapa kata:
a)     صفى     artinya suci bersih.[2] Dalam pengertian ini orang  yang ingin dekat dengan Allah SWT., aktifitasnya banyak diarahkan pada pensucian diri dalam rangka dekat dengan Allah SWT. Artinya Allah Maha Suci tidak mungkin bisa didekati kecuali oleh orang-orang yang memelihara kesucian. Bishr bin al-Harith berkata:”sufi adalah orang yang hatinya suci/tulus kepada Allah.[3]
b)    صف   artinya barisan atau barisan terdepan. Orang yang ingin dekat dengan Allah, pasti sudah kuat imannya. Oleh karena itu selalu ada pada barisan terdepan dalam hal ibadah.
c)     اهل الصفة  artinya penghuni serambi (masjid). Istilah ini disandarkan kepada orang yang ingin selalu dekat dengan Allah SWT., maka mereka ikut juga hijrah dengan Nabi dari Mekah ke Madinah. Di Madinah merreka tinggalnya di serambi masjid.
d)   صوف     artinya wol, bulu binatang kasar. Orang yang selalu dekat dengan Allah swa., hanya memakai alat berpakaian bulu binatang yang kasar, domba, unta dan sebagainya, ini hanya pandangan saya karena kaum sufi tidak mencirikan dirinya dengan memakai pakaian dari bulu.
Pendapat yang lain mengatakan bahwa istilah Tasawuf berasal dari bahasa Yunani yaitu Sophos atau Shofia artinya hikmah atau  bijaksana. Pendapat ini  merupakan pendapat mayoritas  kaum orientalis. Ahli-ahli sofia adalah orang  yang ahli  dalam filsafat atau kebijaksanaan. Mereka  menambahkan  bahwa dalam  tradisi Arab kata sofia  direduksi menjadi kata shufiya  untuk menunjukkan  kepada orang-orang  ahli ibadah dan ahli filsafat agama.
Dari lima pendapat di atas, maka secara etimologis kata tasawuf lebih dekat dengan kata صوف. Sebagaimana pendapat Ibn Khaldun bahwa kata Sufi  merupakan kata  jadian dari kata Suf. Tapi perlu diingat, bukan sekedar karena ia memakai pakaian yang terbuat dari kain bulu dan wol kasar maka seseorang disebut sufi. Seseorang  menggunakan wol hanya sebagai simbol kesucian, mereka menyiksa dan menekan hawa nafsu dan berjalan di jalan Nabi.[4]

2.        Pengertian tasawuf secara terminology
Ada banyak definisi yang telah dibuat oleh untuk menjelaskan pengertian tasawuf secara terminology. Berikut  beberapa diantaranya: 
Menurut Abu Qasim al-Qusyaeri  (376-466), tasawuf ialah penjabaran ajaran Al-Quran, sunnah, berjuang mengendalikan hawa nafsu, menjauhi perbuatan bid’ah, mengendalikan syahwat, dan menghindari sikap meringankan ibadah.[5]
            Menurut Ahmad Amin tasawuf ialah bertekun dalam ibadah, berhubungan langsung dengan Allah SWT., menjauhkan diri dari kemewahan duniawi, berlaku zuhud terhadap yang diburu oleh orang banyak, dan menghindari dari mahluk dalam berkhalwat untuk beribadah.
            Sedang tasawuf menurut Zakaria al- Anshari ialah mengajarkan cara untuk mensucikan diri, meningkatkan akhlak, berlaku zuhud terhadap yang diburu oleh orang banyak, dan menghindari dari mahluk dalam berkhalwat untuk beribadah mendekatkan diri kepada Allah dan memperoleh hubungan langsung dengannya.
            Dan menurut Ibrahim Hilal dalam bukunya ‘Tasawuf Antara Agama dan Filsafat’, bahwa tasawuf pada umumnya bermakna menempuh kehidupan zuhud, menghindari gemerlap kehidupan dunia, rela hidup dalam keprihatinan, melakukan berbagai jenis amalan ibadah, melaparkan diri, mengerjakan  shalat malam, dan melakukan berbagai jenis wirid sampai fisik  atau dimensi jasmani seseorang  menjadi lemah dan dimensi jiwa atau ruhani menjadi kuat.[6]
            Apabila melihat beberapa definisi di atas, maka dapat diperoleh ungkapan yang singkat dan padat yang mencakup  dua segi yang keduanya membentuk satu kesatuan yang saling menunjang dalam mendefinisikan tasawuf yang pertama adalah cara dan yang kedua adalah tujuan. Cara, di antaranya melaksanakan berbagai rangkaian peribadatan, latihan-latihan rohani  sepeerti zuhud.  Sedangkan tujuannya ialah mendekatkan diri kepada sang Khalik yang puncaknya ialah penyaksian (masyadah).



b.      Pengertian etos kerja
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia etos adalah pandangan hidup yang khas dari suatu golongan sosial. Sedang etos kerja adalah semangat kerja yang menjadi ciri khas dan keyakinan seseorang atau suatu kelompok.[7]
Sejalan dengan Franz Magnis-Suseno berpendapat bahwa etos adalah semangat dan sikap batin tetap seseorang atau sekelompok orang sejauh di dalamnya termuat tekanan moral dan nilai-nilai moral tertentu. Sedang Clifford Geertz mengartikan etos sebagai sikap yang mendasar terhadap diri dan dunia yang dipancarkan hidup.
Dengan demikian, etos menyangkut semangat hidup, termasuk semangat bekerja, pengetahuan dan keterampilan yang memadai tentang pekerjaan yang ditangani.
                                    
c.                   Islam dan pekerjaan
Menurut Franz von Magnis, pekerjaan adalah segala kegiatan yang direncanakan dan memerlukan pemikiran yang khusus dan tidak dapat dijalankan oleh binatang, yang dilakukan tidak hanya karena pelaksanaan kegiatan itu sendiri menyenangkan, tetapi juga karena kita mau dengan sungguh-sungguh mencapai hasil yang kemudian berdiri sendiri atau sebagai benda, karya, tenaga dan sebagainya atau pelayanan terhadap masyarakat, termasuk dirinya sendiri. Kegiatan itu dapat berupa pemakaian tenaga jasmani atau rohani di mana perlu diperhatikan bahwa semua tindakan bersifat jasmani dan rohani, tetapi tekanannya dapat berbeda-beda.
            Sementara George A. Steiner dan John F. Steiner mendefinisikan pekerjaan sebagai usaha yang berkelanjutan yang  direncanakan untuk menghasilkan sesuatu yang bernilai  atau bermanfaat bagi orang lain.
Dengan demikian, pekerjaan bertujuan untuk menghasilkan sesuatu guna memenuhi kebutuhan manusia. Tetapi dalam sejarah kemanusiaan pekerjaan pernah begitu lama tidak mendapat apresiasi yang memadai, seperti yang terjadi di luar Islam. Dalam budaya Timur misalnya Jawa, sebagaimana terlihat dalam paham kebatinan, pekerjaan hanya dipandang sebagai kewajiban demi masyarakat, tetapi bukan sesuatu yang positif dan merangsang dirinya sendiri. Tujuannya bukan untuk membuat pekerjaan menjadi manusiawi dan menarik, tetapi untuk menguranginya. Kemudian filsafat India mementingkan roh dan menegaskan kefanaan hidup di dunia ini, sehingga tidak melihat suatu nilai di dunia ini.
Lalu filsafat Barat berabad-abad lamanya memandang rendah pada pekerjaaan. Misalnya Plato (427-347 SM) yang hanya menganggap filsafat sebagai kegiatan manusia yang pantas, dan Aristoteles (384-322 SM) yang memasukkan pekerjaan ke dalam pembuatan sesuatu yang kurang bernilai.[8]
Perhatian filsafat terhadap pekerjaan baru timbul dan mulai berkembang setelah zaman industri. Penemuan ilmu-ilmu alam, kemajuan teknik dan penggunaannya secara komersial membuka suatu cakrawala tak terbatas bagi usaha manusia untuk menaklukkan alam. Penaklukkan alam dilakukan oleh manusia dalam pekerjaannya.
Lalu pekerjaan dianggap sebagai kegiatan khas manusiawi yang utama. Dalam konteks ini John Locke (1632-1704) menemukan bahwa pekerjaan menciptakan hak, yaitu suatu hak alamiah (natural right) atas milik terhadap benda-benda, atas tanah serta pekerjaannya memberikan nilai kepada setiap benda. Kemudian Adam Smith (1723-1790) menguniversalkan pandangan itu. Baginya seluruh kebudayaan dipahami sebagai hasil pekerjaan manusia, di belakang kekayaan obyektif suatu bangsa (kekayaan ekonomis, budaya dan sebagainya) terdapat pekerjaan orang yang memproduksinya.
Apresiasi Islam terhadap pekerja dan pekerjaan tidak hanya terlihat dalam ajaran normatif agama ini. Tetapi juga dibuktikan dalam sejarah. Dalam sejarah Islam terhadap pekerja dan pekerjaan diawali dengan membebaskan mereka yang berstatus budak kemudian berstatus sebagai pekerja. Perjuangan Islam untuk membebaskan perbudakan sudah berhasil. Kini tidak ada lagi orang yang berstatus budak, karena dalam Islam semua orang memiliki derajat yang sama.
Hanya saja apresiasi yang begitu tinggi terhadap pekerja dan pekerjaan masih jauh dari realitas kehidupan umat Islam dewasa ini. Umat Islam masih terbelakang di berbagai bidang kehidupan, khususnya ekonomi, ilmu pengetahuan dan teknologi. Hal itu diduga karena umat Islam umumnya masih menganut paham teologi Jabariah. Jabariah adalah paham teologi yang berpendapat bahwa manusia tidak mempunyai kemerdekaan dan kebebasan dalam menentukan kehendak dan perbuatannya. Manusia menurut paham ini terikat oleh kehendak mutlak Tuhan. Jabariah disebut juga fatalisme dan predestinasi.
Jatuhnya umat Islam ke dalam paham Jabariah mungkin karena pernah dijajah oleh bangsa-bangsa Barat dalam waktu yang sangat lama. Tetapi dengan kemerdekaan yang dicapai, berkembangnya pendidikan dan ilmu pengetahuan yang mendorong manusia berpikir rasional. Sehingga sedikit demi sedikit umat Islam meninggalkan paham Jabariah dan beralih kepada paham Qodariah.
Bila umat Islam menganut paham Qodariah, tentunya mereka akan menyadari bahwa Al-Qur’an dan hadits memerintahkan untuk bekerja keras untuk mencapai kemakmuran, sekaligus mereka dapat melepaskan diri dari kemiskinan dan keterbelakangan.[9]
Dalil naqli yang memerintah untuk bekerja keras.
وَ اَنْ لَيْسَ لِلْاِنْسَانِ اِلّاَ مَاسَعَا
“Dan bahwasannya seaorang manusia tiada memperoleh selain apa yang diusahakannya” {QS. An-Najm: 39}
Ayat ini menjelaskan bahwa satu-satunya cara untuk mendapatkan sesuatu dalam hidup adalah kerja keras. Kemajuan hidup sangat tergantung pada usaha.
Asumsi itu diperjelas oleh ayat yang lain:
لِلرِّجَالِ نَصِيْبٌ مِمَّا اكْتَسَبُوْا وَ لِلنِّسَاءِ نَصِيْبٌ مِمَّا اكْتَسَبْنَ
“(Karena) bagi orang laki-laki ada bahagian dari apa yang mereka usahakan, dan bagi para wanita        (pun) ada bahagian dari apa yang mereka usahakan” {QS. An-Nisa: 32}
Ayat di atas menjelaskan bahwa kehidupan dunia ini tidak mengenal perbedaan antara pria dan wanita. Setiap orang akan memperoleh sesuai dengan ikhtiar yang dilakukan. Hal ini dipertegas dengan ayat lain:
ذَالِكَ بِاَنَّ اللهَ لَمْ يَكُ مُغَيّرًا نِعْمَةً اَنْعَمَهَا عَلَى قَوْمٍ حَتَّى يُغَيِّرُوْا مَا بِاَنْ فُسِهِمْ
 “Yang demikian itu adalah karena sesungguhnya Allah sekali-kali tidak akan mengubah suatu nikmat yang telah dianugerahkan-Nya kepada suatu kaum, hingga kaum itu mengubah apa yang ada pada diri mereka sendiri” {QS. Al-Anfal: 53}
Ayat di atas mempertegas bahwa kemakmuran hanya dapat dicapai dengan kerja keras. Tidak ada orang yang dapat hidup makmur tanpa usaha yang sungguh-sunguh.
Selain itu Rosulullaah menyatakan apresiasinya terhadap mereka yang bekerja keras. Sabdanya:

رَحِمَ اللهُ رَجُلاً سَمْحًا اِذَا بَاعَ وَ اِذَا اشْتَرَءَ وَ اِذَا قْتَضَى
Allah mengasihi mereka yang berusaha dan bekerja keras untuk kehidupan merekaHR. Ibnu Majah﴿
Bila orang itu bekerja keras untuk diri sendiri dan keluarganya tanpa menghilangkan perbuatan jujur, maka ia akan mendapat pahala dari Allah SWT.
Apresiasi yang tinggi terhadap pekerjaan juga dibuktikan oleh kehidupan para nabi dan rosul sebelum Rosulullaah . Hampir semua nabi dan rosul bekerja untuk menghidupi diri mereka tak terkecuali Nabi Muhammad  . Beliau menggembala Kambing dan menasehati orang lain agar menghidupi diri mereka.
Rosulullaah bersabda:
مَا اَكَلَ اَحَدُكُمْ طَعَامَا خَيْرٌ لَهُ مِنْ اَنْ يَاْكُلَ مِنْ عَمًلٍ يَدِهِ اَنَّ نَبِيَّ اللهِ دَاوُدَ عَلَيْهِ السَّلاَمُ كَانَ يَاْكُلَ مِنْ عَمَلٍ يَدِهِ اللهِ

Tidak ada seorangpun yang dapat mencapai kehidupan yang lebih baik, kecuali orang itu berusaha dengan tangannya sendiri (bekerja) dan Nabi Daud AS, makan dari usahanya sendiri” HR. Bukhori﴿
Kemudian Abu Hurairah meriwayatkan sebuah hadits bahwa kaum Anshor pernah meminta Rosulullaah membagi-bagikan pohon Kurma kepada kaum Muhajirin, Rosulullaah tidak mengidzinkan.[10] Namun  ketika kaum Anshor meminta kaum Muhajirin supaya bekerja dikebun-kebun Kurma mereka dan kemudia hasilnya dibagi sama. Kaum Muhajirin dan Rosulullaah sangat gembira mendengar hal ini.
Di samping itu ada sebuah hadits yang menjelaskan bahwa pernah salah seorang dari kaum Anshor datang kepada Rosulullaah meminta bantuan amal. Lalu Rosulullaah bertanya: Apakah engkau mempunyai harta? Orang itu menjawab bahwa dia mempunyai sehelai selimut. Lalu Rosulullaah meminta selimut itu dibawa ke pasar untuk dijual. Kemudian selimut terjual dua dirham.  Rosulullaah menasihatinya agar uang tersebut digunakan untuk membeli kapak. Rosulullaah berkata: pergilah ke hutan dan ambil kayu, dan Rosulullaah meminta tidak dikunjungi selama 15 hari mendatang. Selama 15 hari kayupun terjual dan memperoleh 12 dirham, tak terlupakan uang tersebut ia telah gunakan membeli beberapa pakaian. Kemudian Rosulullaah berkata: ini lebih baik daripada meminta-minta, meminta-minta itu akan mendapat keaiban di hari kemudian.
Dalam pandangan Islam semua pekerjaan yang halal dianggap mulia. Yang penting pekerjaan itu tidak haram, seperti mencuri, korupsi dan merampok.




d.      Tasawuf dan etos kerja
Pada dasarnya tasawuf itu baik dan benar, tetapi persepsi orang terhadapnya sering keliru. Ini disebabkan oleh mentalitas masyarakat Indonesia yang sudah rusak akibat berbagai pengalaman sejarah yang menyakitkan selama ini. Mentalitas masyarakat yang rusak menyebabkan persepsi terhadap ajaran agama kadang-kadang keliru, seperti persepsi terhadap ajaran tasawuf.
Karenanya, persepsi yang keliru itu harus dilacak pada sikap kerusakan sikap mental masyarakat. Mentalitas masyarakat Indonesia mulai rusak ketika mengalami penjajahan ratusan tahun. Penjajahan inilah yang menyebabkan masyarakat menderita lahir batin. Seperti hidup miskin, kecewa, frustasi, stress, pesimistis, serta merasa tidak ada masa depan. Ini kemudian menjungkirbalikkan tatanan masyarakat serta merusak mentalitas dan cara berpikir. Akibatnya nilai-nilai dari budaya dan agama sering dipersepsikan secara keliru. Inilah yang telah dialami oleh tasawuf yang sering dipersepsikan sebagai  faktor yang melemahkan etos kerja. Untuk memperbaiki persepsi yang keliru itu, selain mentalitas masyarakat perlu dibangun kembali, juga ada baiknya dilakukan reinterpretasi terhadap sikap-sikap dan ajaran tasawuf.
            Menurut ajaran Islam, bekerja itu wajib, setidaknya untuk memenuhi kebutuhan diri sendiri, keluarga dan umat. Tasawuf pun sejalan dengan ajaran dasar Islam, sehingga tasawuf tidak melemahkan etos kerja, tetapi malah dapat memperkuat etos kerja.
Konsep etos kerja dalam tasawuf
Untuk meningkatkan semangat atau etos kerja dalam diri kita, para ahli sufi telah mengajarkan kita melalui sikap yang mereka contohkan dalam kehidupan mereka sesuai dengan ajaran dan konsep tasawuf.[11] Di antaranya, sikap optimisme, istiqamah, sabar, ikhlas, ridha, qana’ah, takwa, takut, tawakal, taubat, zuhud, wara’, syukur, cinta, rindu, shidiq, syaja’ah, takdir, malu, zikir, doa, tafakkur, uzlah, kemiskinan, dan kematian.
1)                  Optimisme
Optimisme atau harapan dalam tasawuf disebut raja’. Raja’ ialah mengharapkan rahmat Allah SWT yang sesungguhnya selalu mengelilingi kita, tetapi jarang diperhatikan.
Harapan untuk mendekat dengan Allah SWT didasarkan pada sebuah hadits qudsi yang diriwayatkan oleh Imam Bukhori.
اَنَا عِنْدَ ظَنِّ عَبْدِى بِى وَ اَنَا مَعَهُ اِذَا ذَكَرَنِي اِنْ ذَكَرَنِي فِى نَفْسِهِ ذَكَرْتُهُ فِى نَفْسِى وَ اِنْ ذَكَرَنِي فِى مَلَاٍ ذَكَرتُهُ فِى مَلَاٍ هُوَ خَيْرٌ مِنْهُمْ وَ اِنْ اقْتَرَبَ اِلَى شِبْرًا اقْتَرَبْتُ اِلَيْهِ ذِرَاعًا وَ اِنِ اقْرَبَ اِلَى ذِرَاعًا اقْتَرَبْتُ اِلَيْهِ بَاعًا وَ اِنْ اَتَانِى يَمْشِى اَتَيْتُهُ هَرْوَلَةَ

“Aku akan berada di samping sangkaan hamba-Ku. Jika dia ingat kepada-Ku dalam dirinya, maka Aku ingat kepadanya dalam diri-Ku. Jika dia ingat kepada-Ku dalam kerumunan yang ramai, maka Aku ingat kepadanya dalam kerumunan yang lebih baik daripada mereka. Jika dia mendekat kepada-Ku satu jengkal, maka Aku mendekat padanya satu lengan, maka Aku mendekat padanya satu depa. Jika dia mendekat kepada-Ku dengan berjalan, maka Aku akan mendekat kepadanya dengan berlari.”  
Sedang harapan sufi untuk bertemu dengan Allah SWT didasarkan pada ayat-ayat Al-Qur’an yang artinya:
a.       “Barang siapa berharap perjumpaan dengan Tuhannya, maka hendaklah ia mengerjakan amal sholih dan janganlah mempersekutukan seorangpun dalam beribadah kepada-Nya.” {QS. Al-Kahfi: 110}
b.      “Barangsiapa yang mengharap pertemuan dengan Allah SWT, maka sesungguhnya waktu (yang dijanjikan) Allah SWT itu pasti datang. Dan Dialah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” {QS. Al-Ankabut: 5}
Harapan sufi untuk mendekat dan bertemu dengan Allah SWT adalah sang kholiq merupakan kekasih yang selalu mereka rindukan. Sufi beribadah tidak untuk mendapatkan pahala dan mengharapkan masuk surga, dan tidak pula karena takut neraka, tetapi semata-mata untuk mendekat dan bertemu dengan sang kholiq.[12]
Karena Allah SWT dianggap sebagai kekasih, maka para sufi rela berbuat apa saja untuk menuruti kehendak-Nya, walaupun masuk neraka sekalipun. Ada sebuah syair sufi yang menggambarkan hal ini:
“Aku cinta kepada-Mu tidak untuk mendapatkan pahala
Tetapi aku mencintai-Mu untuk mendapatkan hukuman
Segala keinginan telah kudapatkan
Kecuali merasakan lezatnya azab siksaan.”

Sedang bagi orang awam atau orang yang bukan sufi, optimisme berarti mengharapkan kesejahteraan di dunia dan keselamtan di akhirat. Orang yang selamat di akhirat adalah orang yang mendapat ampunan Allah SWT. Optimimisme dalam kehidupan dunia berarti berharap untuk mendapatkan kesejahteraan yang baik. Untuk mencapai hal ini, kita harus bekerja keras dengan cara yang halal.
Manfaat  optimisme bagi orang Islam
·         Untuk membangkitkan gairah hidup dan membangun masa depan yang lebih baik.
·         Allah SWT mencintai hambanya yang berharap kepadanya. Ibnu Qayyim al-Jauziyah dalam Madarij as-Salikin (Jenjang Spiritual Para Penempuh Jalan Ruhani, Jilid 2, Jakarta 1999 )
·         Dapat mendorong kita untuk senantiasa mendekatkan diri kepada Allah SWT.
·         Menimbulkan rasa cinta dan syukur kepada Allah SWT.  
·         Meningkatkan ma’rifat kepada Allah mengenai nama-namanya (asmaul husna).
Firman Allah SWT yang artinya:
“Allah mempunyai asmaul husna, maka bermohonlah kepada-Nya dengan menyebut asmaul husnaitu”{QS. Al-A’rof: 180}
·         Menimbulkan rasa khauf (takut) kepada Allah SWT. Itulah sebabnya kata raja’ dalam literatur tasawuf disebut bersamaan dengan khauf.[13]
Dalam Al-Qur’an Allah SWT yang artinya:
“Mengapa kamu tidak mengharapkan kebesaran Allah SWT” {QS. Nuh: 13}
umumnya ahli tafsir menjelaskan bahwa makna ayat di atas adalah mengapa kamu tidak takut kepada kebesaran Allah SWT. Karena setiap orang yang berharap biasanya takut bila harapannya tidak terkabul.
·         Allah SWT menginginkan hamba-Nya menyempurnakan ketaatannya kepada Allah SWT dengan menundukkan diri, tawakkal, khauf, optimisme, sabar dan syukur.
Tasawuf dapat mengajak kita bekerja keras untuk mencapai apa yang kita inginkan, namun apabila harapan itu tidak tercapai maka kita tidak boleh berputus asa, karena hal ini sangat bertentangan dengan sikap optimisme. Apapun pekerjaan yang kita lakukan, maka kita harus tetap memiliki sikap optimisme, agar apa yang kita harapkan dapat dikabulkan oleh Allah SWT.


Etos kerja
Optimisme jelas mengandung etos kerja yang tinggi, karena untuk mewujudkan optimisme diperlukan ikhtiar. Bila optimismenya berharap untuk bertemu dengan Allah SWT, tentulah ia harus mendekatkan diri kepada-Nya.[14]
Jika optimisme diartikan mengharapkan kehidupan duniawi yang lebih baik, maka yang bersangkutan haruslah bekerja keras, meningkatkan pengetahuan dan keterampilan agar memiliki kemampuan yang lebih besar untuk mewujudkan optimisme.
Hal itu berarti bahwa tasawuf sangat mendorong kita untuk bekerja keras sebagai perwujudan optimisme. Dan jika hasil kerja keras tersebut tidak sesuai yang diharapkan, maka kita tidak boleh putus asa.
Dengan demikian, marilah kita senantiasa berikhtiar dan bersikap optimisme terhadap rahmat Allah SWT, baik kesejahteraan di dunia maupun keselamatan di akhirat.
2)                  Istiqomah
Istiqomah berarti teguh atau konsisten, maksudnya konsisten pada jalan yang lurus dan benar dalam niat, perkataan dan perbuatan. Istiqomah merupakan salah satu cara mendekatkan diri pada Tuhan.[15]
Dalil naqli yang menjelaskan perlunya istiqomah, yang artinya:
a.       Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: Tuhan kami ialah Allah SWT, kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, maka malaikat akan turun kepada mereka (dengan mengatakan): Janganlah kamu merasa takut dan janganlah kamu merasa sedih, dan bergembiralah denga surga yang dijanjikan kepadamu” {QS. Fushshilat: 30}
b.      Katakanlah: bahwasannya aku hanyalah seorang manusia seperti kamu, diwahyukan kepadaku bahwasannya Tuhan kamu adalah Tuhan Yang Maha Esa, maka tetaplah pada jalan yang lurus menuju kepada-Nya dan mohonlah ampun kepada-Nya. Dan kecelakaan yang besarlah bagi orang-orang yang mempersekutukan-Nya” {QS. Fushshilat: 6}
c.       Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: Tuhan kami ialah Allah SWT, kemudian mereka tetap istiqomah, maka tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan mereka tiada (pula) berduka cita. Mereka itulah penghuni-penghuni surga, mereka kekal di dalamnya, sebagai balasan atas apa yang telah mereka kerjakan” {QS. Al-Ahqof: 13-14}
Selain itu ada sejumlah hadits yang menjelaskan perlunya istiqomah, yakni:
a.       Wahai Rosulullaah , katakanlah suatu perkataan kepadaku dalam Islam yang tidak akan kuminta kepada seorangpun selain aku.  Rosulullaah menjawab: Katakanlah, aku beriman kepada Allah SWT, kemudian istiqomahlah” HR. Muslim﴿
b.      “Istiqomahlah kamu dan jangan kamu menghitung-hitung (amalmu) dan ketahuilah bahwa sebaik-baik amalmu adalah sholat. Dan tidak ada yang memelihara wudlu’, kecuali orang yang beriman” HR. Ibnu Majah dan  Ibnu Hibban﴿
c.       “Berlakuklah konsisten dan berusahalah untuk mendekatinya. Dan ketahuilah bahwasannya tidak ada seorangpun di antara kamu yang dapat selamat hanya dengan amalnya. Para sahabat bertanya, engkau juga tidak wahai Rosulullaah. Beliau menjawab: Aku pun tidak, kecuali jika Allah SWT mengaruniai aku dengan rahmat dan karunia dari-Nya.” HR. Bukhori dan Muslim﴿
Ayat-ayat Al-Qur’an dan hadits-hadits di atas menunjukkan betapa perlunya sikap istiqomah. Bagaimana wujud istiqomah itu, sebagian ulama berpendapat bahwa istiqomah orang awam berbeda dengan istiqomah orang khawas, seperti sufi. Istiqomah orang awam ialah konsisten mengerjakan perintah dan menjauhi larangan Tuhan. Sedang istiqomah orang khawas ialah menjauhi hal-hal yang bersifat duniawi dan hal-hal yang mendorong kepada kepentingan duniawi.[16]
Dari dua macam pengertian istiqomah itu kita dapat mengikuti definisi yang pertama, yaitu istiqomah orang awam. Pengertian istiqomah ini dapat dibawa kepada hal-hal yang bersifat dunaiwi. Yang penting tentapkan menjalankan perintah dan menjauhi larangan-Nya.
Mengenai pengertian istiqomah orang awam ada ulama berpendapat bahwa istiqomah itu tidak hanya konsisten menjalankan perintah dan menjauhi larangan Tuhan, tetapi juga bersyukur ketika mendapat nikmat dalam kehidupan dunia.
Untuk mencapai istiqomah, harus memiliki sikap ikhla, bertaubat dan berserah diri pada Tuhan. Sebagian ulama berpendapat bahwa untuk melaksanakan istiqomah adalah tidak suka membicarakan kelemahan orang lain, menjauhi prasangka buruk, tidak menghina orang lain, tidak melihat-lihat hal yang haram, selalu berkata benar, mendermakan sebagian hartanya di jalan Allah SWT, tidak mubadzir, tidak gila popularitas dan memelihara sholat lima waktu.

Etos kerja   
Sikap konsisten merupakan salah satu unsur yang sangat penting dalam pekerjaan. Pekerjaan memerlukan konsistensi untuk mencapai tujuan. Konsistensi dalam pekerjaan adalah memenuhi/menepati waktu yang sudah ditentukan. Konsistensi diperlukan untuk mencapai target yang sudah ditentukn, baik kualitas maupun kuantitasnya. Namun, jika tidak ada konsistensi dalam bekerja, maka tidak mencapai target dan akan merugikan perusahaan serta diri sendiri.[17]
Dengan demikian, istiqomah sangat relevan dengan pengembangan etos kerja. Meskipun awalnya istiqomah ini untuk menjalankan perintah Tuhan. Sikap istiqomah juga kemudian dapat diterapkan dalam pekerjaan, karena salah satu perintah Tuhan adalah mencari nafkah dengan cara yang halal untuk memenuhi kebutuhan hidup.
Istiqomah di sini konteksnya adalah perbuatan halal, yakni melakukan suatu perbuatan halal secara konsisten, terus menerus tanpa kenal henti dengan sabar dan ikhlas untuk mencapai kemaslahatan diri dan umat serta mendekatkan diri pada Tuhan.

3)                  Sabar
Sabar berarti menahan, maksudnya menahan diri dari keluh kesah ketika menjalankan perintah Tuhan dan sewaktu menghadapi musibah. Jadi, sabar meliputi urusan duniawi dan ukhrowi. Sabar merupakan salah satu cara mendekatkan diri kepada Tuhan.[18]
Dalil-dalil yang menjelaskan perintah Tuhan untuk bersabar:
a.    “Hai orang-orang yang beriman, jadikanlah sabar dan sholat sebagai penolongmu, sesungguhnya Allah SWT beserta orang-orang yang sabar” {QS. Al-Baqoroh: 153}
b.    “Hai orang-orang yang beriman, bersabarlah kamu dan kuatkanlah kesabaranmu” {QS. Ali-Imron: 20}
c.     “Bersabarlah (hai Muhammad) dan tiadalah kesabaranmu itu melainkan dengan pertolongan Allah SWT” {QS. An-Nahl: 127}
Pada ayat lain Allah SWT memuji orang-orang yang bersabar, yang artinya yaitu:
a.       “yaitu orang-orang yang sabar dan orang-orang yang benar, yang tetap ta’at, yang menafkahkan hartanya (di jalan Allah SWT), dan yang memohon ampun di waktu sahur” {QS. Ali-Imron: 17}
b.      “Dan orang-orang yang sabar dalam kesempitan, penderitaan dan dalam peperangan. Mereka itulah orang-orang yang benar (imannya), dan mereka itulah orang-orang yang bertakwa” {QS. Al-Baqoroh: 177}
Al-Qur’an juga menjelaskan bahwa Allah SWT mencintai dan menyertai orang-orang sabar.
a.     “Allah SWT menyukai orang-orang yang sabar” {QS. Ali-Imron: 146}
b.    “Sesungguhnya Allah SWT beserta orang-orang yang sabar” {QS. Al-Anfal: 46}
Pada ayat lain, Allah SWT menjelaskan bahwa sikap sabar adalah baik bagi pelakunya sendiri, yaitu:
“Dan kesabaran itu lebih baik bagimu” {QS. An-Nisa: 25}
Lalu Allah SWT berjanji untuk menolong orang-orang yang sabar, firman-Nya:
“Jika kamu bersabar dan bersiap siaga dan mereka datang menyerang kamu dengan seketika itu juga, niscaya Allah SWT menolong kamu dengan lima ribu malaikat yang memiliki tanda” {QS. Ali-Imron: 125}

Hadits yang menjelaskan keutamaan sabar:
a.     Dan siapa yang berlatih sabar, maka Allah SWT akan menyabarkannya. Dan tiada seorang yang mendapat karunia (pemberian) Allah SWT yang lebih baik atau lebih dari kesabaran”  HR. Bukhori dan Muslim﴿
b.    “Sangat mengagumkan keadaan seorang mu’min, sebab segala keadaannya adalah baik dan tidak mungkin terjadi demikian, kecuali bagi seorang mu’min. Jika mendapat nikmat ia bersyukur, maka syukur itu lebih baik baginya, dan bila menderita kesulitan, maka ia bersabar dan kesabaran itu lebih baik baginya” HR. Muslim﴿
Ayat-ayat Al-Qur’an dan hadits-hadits di atas selain menjelaskan bahwa Allah SWT memerintahkan kita untuk selalu bersabar dan memberitahukan hikmahnya. Yakni, sabar itu bermanfaat bagi diri sendiri. 
Sabar, ada beberapa macam. Pertama, sabar untuk menjauhi larangan Allah SWT. Kedua, sabar dalam menjalankan ketaatan kepada Allah SWT dan terakhir adalah sabar ketika mengalami musibah. Kebalikan sikap sabar ialah ghadlab (pemarah).[19]


Etos kerja
Kesabaran merupakan salah satu sikap yang sangat penting dalam pengembangan etos kerja. Kita tidak mampu bekerja disiplin, jika tidak memiliki kesabaran. Dalam pekerjaan biasanya ada tantangan, seperti lelah, mengurus tenaga dan pikiran dan sebagainya. Semua ini tidak dapat dilakukan tanpa kesabaran.[20]
Sikap sabar juga menghendaki upaya meningkatkan pengetahuan mengenai pekerjaan yang dilakukan supaya dapat mengatasi kendal-kendalanya. Artinya orang yang memiliki sifat sabar selalu meningkatkan pengetahuan dan keterampilan mengenai pekerjaannya. Hal ini sangat relevan dengan etos kerja.
Dengan demikian, sikap sabar mengandung etos kerja yang kuat. Etos kerja harusnya menjadi lebih kuat lagi bila diingat bahwa untuk sabar dalam melaksanakan perintah Allah SWT. Jadi, jelaslah bahwa sifat sabar sangat penting dalam pekerjaan, karena dengan sikap atau sifat ini, akan mudah untuk menyelesaikan sebagian masalah.

4)                   Ikhlas
Ikhlas berati murni atau bersih, maksudnya suatu amal perbuatan dilakukan bersih dari pamrih. Amal itu dilaksanakan semata-mata karena Allah SWT atau menegakkan kebenaran, keadilan dana kejujuran. Dalam tasawuf ikhlas merupakan salah satu cara mendekatkan diri pada Tuhan.[21]
Dalil-dalil Al-Qur’an yang memerintahkan untuk bersikap ikhlas, yang artinya:
a.       “Padahal mereka tidak disuruh kecuali menyembah kepada Allah SWT dengan memurnikan keta’atannya kepada-Nya dalam (menjalankan) agama dengan lurus” {QS. Al-Bayyinah: 5}
b.                  “Sesungguhnya Kami menurunkan kepada kitab (Al-Qur’an) dengan (membawa) kebenaran. Maka sembahlah Allah SWT dengan memurnikan keta’atan kepada-Nya. Ingatlah hanya kepunyaan Allah- lah agama yang bersih (dari syirik)” {QS. Az-Zumar: 2-3}
Hadits-hadits yang menjelaskan keutamaan ikhlas, yaitu:
a.       “Tuhan tidak melihat bentuk badan dan rupamu, tetapi langsung melihat/memperhatikan niat dan keikhlasan hatimu” HR. Muslim dan Ibnu Majah﴿
b.      “Allah SWT berkata: Aku sama sekali tidak membutuhkan sekutu. Barangsiapa yang melakukan suatu amal dengan mempersekutukan Aku di dalamnya, maka amal yang dia persekutukan, dan Aku terlepas darinya” HR. Muslim,, Ibnu Majah, Ibnu Khuzaimah dan Baihaqi﴿
Jelaslah bahwa ikhlas itu sangat menentukan diterima tidaknya suatu ibadah oleh sang kholiq. Jika ibadah dilakukan dengan ikhlas karena Allah SWT, insyaa Allah diterima oleh Allah SWT. Tetapi jika ibadah disisipi oleh hal-hal yang sifatnya duniawi, seperti pujian, maka ibdahnya tidak diterima oleh Allah SWT.[22]
Kebalikan ikhlas adalah riya’. Riya’ dapat terwujud dalam berbagai bentuk, seperti memperlihatkan badannya lemah, karena ingin disebut sedikit makan dan banyak beribadah. Apabila mengerjakan sholat sengaja memperlama sholatnya karena ingin kelihatan khusyu’. Kemudian apabila mempunyai harta selalu berusaha memperlihatkannya, kalau berbicara selalu ingin kelihatan sangat pandai dan dalam pergaulan selalu ingin disanjung dan suka memuji diri sendiri.

Etos kerja
Sikap ikhlas menghendaki orang melakukan perbuatan atau bekerja. Karena perbuatan itulah yang dinilai ikhlas atau tidak. Jika tidak ada perbuatan, maka tidak ada yang bisa dinila ikhlas atau tidak. Sikap ikhlas mengandung etos kerja yang kuat. Etos kerja yang ditimbulkan oleh sikap ikhlas sangat kuat. Karena pekerjaan yang didasarkan pada keikhlasan tidak mengharapkan pamrih.[23]
Sikap ikhlas dapat menjadi dasar etos kerja yang paling ideal. Karena dengan ikhlas, seberat apapun pekerjaan itu akan terasa ringan dan tak kenal lelah. Sikap ikhlas juga membuat orang jujur dalam bekerja. Artinya, orang yang bekerja akan menjaga aset-aset yang dimiliki oleh perusahaannya dan tidak akan merusak atau mencuri. Sikap ikhlas membuat orang bertanggung jawab terhadap pekerjaannnya, karena orang tersebut menyadari bahwa pekerjaannya akan berdampak pada konsumen dan diri sendiri.
Dengan demikian, sikap ikhlas sangat penting dalam pekerjaan. Meskipun memang bertujuan untuk mencari uang. Jadi jelaslah bahwa sikap ikhlas merupakan salah satu unsur yang sangat penting dalam pekerjaan dan etos kerja.




5)      Ridlo
Ridlo berarti senang, maksudnya senang menjadikan Allah SWT sebagai Tuhan, senang kepada ajaran dan takdirnya. Orang yang telah mencintai Allah SWT biasanya senang dengan segala hal yang datang dari Allah SWT.[24]
Dalil-dalil tentang keutamaan sikap ridlo, yang artinya:
a.       “Allah SWT berfirman: Ini adalah suatu hari yang bermanfaat bagi orang-orang yang benar kebenaran mereka. Bagi mereka surga yang di bawahnya mengalir sungai-sungai, Allah ridlo terhadap mereka dan merekapun ridlo terhadap-Nya. Itulah keberuntungan yang sangat besar” {QS. Al-Maidah: 119}
b.      “Hai jiwa yang tenang. Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridloi-Nya. Maka masuklah ke dalam jama’ah hamba-hamba-Ku, dan masuklah ke dalam surga-Ku” {QS. Al-Fajr: 27-30}
Haidts-hadits yang menjelaskan keutamaan ridlo:
a.       “Barang siapa setiap hari mengucapkan: Aku senang Allah sebagai Tuhan, Islam sebagai agama dan Muhammad sebagai nabi Allah SWT pasti akan meridloinya pada hari kiamat” HR. Ibnu Majah, Abu Daud, al-Hakim, Ahmad dan Nasai﴿
b.      “Akan merasakan nikmatnya iman yang ridlo kepada Allah sebagai Tuhan, Islam sebagai agama dan Muhammad sebagai rosul” HR. Muslim, Tirmidzi dan Nasai﴿
Dalil-dalil di atas dapat dikatakan bahwa ridlo kepada Allah SWT berlangsung beberapa tahap. Tahap pertama ialah ridlo kepada Allah sebagai Tuhan, maksudnya ialah Tuhan yang dipercaya hanya Allah dan meng-Esa-kannya serta tidak mempersekutukannya.
Tahap kedua ridlo kepada Allah SWT ialah ridlo kepada ajaran Allah SWT yang diturunkan melalui Nabi Muhammad , baik perintah maupun larangan. Pada tahap ini ridlo kepada Allah SWT berarti senang kepada ajarannya, yaitu senang menjalankan perintah-Nya dan senang menjauhi larangan-Nya.
Tahap terakhir kepada Allah SWT ialah ridlo kepada takdirnya, baik dalam keadaan bahagia atau sengsara. Takdir dialami setelah orang berikhtiar. Karena itu, kita tidak boleh menunggu takdir datang, tetapi takdir iu harus disongsong melalui ikhtiar. Setelah berikhtiar atau bekera apapun hasil, bahagia atau sengsara, itulah takdir.



Etos kerja
Bekerja merupakan salah satu wujud ridlo kepada Allah SWT, dan orang yang ridlo akan menganggap bahwa pekerjaan itu suatu hal yang menyenangkan. Sebab ridlo kepada Allah SWT berarti senang bekerja dalam upaya memenuhi kebutuhan kewajibannya mencari nafkah.[25]
Dengan demikian, ridlo kepada Allah SWT mengandung etos kerja yang kuat. Karena ridlo, maka orang bekerja keras untuk membuktikan takdir.

6)      Qona’ah
Qona’ah berarti merasa cukup, maksudnya rizqi yang diperoleh dari Allah SWT dirasa cukup untuk disyukuri.[26] Meskipun penghasilannya kecil, namun diterima dengan ikhlas dan sabar, sehingga tidak terdorong mencari tambahan pendapatan dengan cara yang haram dan percaya bahwa setiap orang telah ditentukan rizqinya.
Mengenai hal ini Allah SWT berfirman:
وَ مَا مِنْ دَابَّةٍ فِي الْاَرْضِ اِلَّاَ عَلَي اللهِ رِزْقُهَا 
“Dan tidak ada suatu binatang melatapun di bumi melainkan Allah-lah yang memberi rizqinya” {QS. Hud: 6}
Yang dimaksud binatang melata adalah makhluk yang bernyawa.
Qona’ah adalah kekayaan jiwa, ini lah kekayaan yang sebenarnya. Rosulullah bersabda:
a.        “Bukanlah kekayaan itu banyaknya harta, tetapi kekayaan itu adalah kekayaan jiwa” HR. Bukhori dan Muslim﴿
b.        “Sungguh beruntung orang yang masuk Islam dan rizqinya cukup dan merasa cukup dengan apa yang diberikan Allah kepadanya” HR. Muslim﴿
Qona’ah bertujuan untuk menghilangkan rasa keluh kesah dan menghindarkan dari mengambil hak orang lain, seperti korupsi. Qona’ah juga dimaksudkan agar orang tidak meminta-minta kepada orang lain untuk memenuhu keperluannya. Allah SWT berfirman, yang artinya:
“ Berinfaklah kepada orang-orang fakir yang terikat (oleh ihad) di jalan Allah SWT, mereka tidak dapat (berusaha) di bumi, orang yang tidak tahu menyangka mereka orang kaya, karena memelihara diri dari meminta-minta. Kamu kenal mereka dengan melihat sifat-siatnya, mereka tidak meminta kepada orang secara mendesak” {QS. Al-Baqoroh: 273}
Selain itu qona’ah juga bermanfaat, supaya orang merasa tenang dan bahagia dengan apa yang diperoleh. Orang yang tidak pernah merasa cukup, hidupnya tidak pernah merasa tenang. Qona’ah termasuk sifat yang terpuji, sebaliknya rakus termasuk sifat yang tercela.

Etos kerja
Qona’ah adalah merasa cukup setelah berikhtiar. Sebaliknya merasa cukup tanpa ikhtiar itu bukan qona’ah, tetapi disebut malas, dan sikap malas dilarang oleh Allah SWT.[27] Firman-Nya, yang artinya:
Maka bertebaranlah kamu di muka bumi, dan carilah karunia Allah” {QS. Al-Jumu’ah: 10}
Dengan demikian,  orang harus bekerja keras untuk memenuhi kebutuhan hidup, baik itu hasilnya mencukupi atau kurang mencukupi. Ini berarti qona’ah mengandung etos kerja yang kuat. 

7)      Takwa
Takwa berarti menjaga atau memelihara, artinya memelihara diri dari murka Tuhan dengan cara menjalankan perintah dan menjauhi larangan-Nya. Menurut sebagian sufi, takwa adalah membentengi diri dari siksa Tuhan dengan jalan taat kepadanya. Sedang ahli fiqih berpendapat bahwa takwa adalah menjaga diri dari segala sesuatu yang melibatkan diri ke dalam perbuatan dosa.[28]
Dalil-dalil yang menerangkan tentang takwa, yg artinya”
a.       “Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa di antara kamu” {QS. Al-Hujurot: 13}
b.      “Maka bertakwalah kamu kepada Allah menurut kesanggupanmu” {QS. At-Taghobun: 16}
Dan masih banyak ayat yang lain yakni, QS. Al-Ahzab:70, QS. Ali-Imron: 102, QS. At-Tholaq: 2-3, QS. Al-Anfal: 29.
Adapun hadit-hadits yang menjelaskan keutamaan takwa, di antaranya:
a.        “Rosulullah ditanya tentang siapa yang mulia. Nabi menjawab: orang yang paling bertakwa” HR. Bukhori dan Muslim﴿
b.        “Rosulullah berdo’a: Ya Allah, aku mohon kepada hidayah, jiwa takwa, kesopanan dan kekayaan” HR. Muslim﴿
Dari dalil-dalil di atas dapat disimpulkan bahwa takwa itu tidak menyekutukan Allah SWT dengan yang lain, hanya taat kepada-Nya dan menjauhi larangan-Nya. Orang yang bertakwa selalu mengharapkan rahmat Allah SWT dan takut terhadap murka-Nya. Dalam takwa, terdapat unsur zuhud, wara’, raja’ dan khauf.
Adapun persamaan dan perbedaan antar takwa dengan zuhud, wara’, dan khauf. Persamaannya adalah menjalankan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya, sedangkan perbedannya adalah zuhud dan wara’, menekankan kesederhanaan hidup, tidak rakus terhadap harta dan kekuasaan. Baginya harta dan kekuasaan adalah titipan Allah SWT yang harus digunakan sebaik-baiknya untuk  kepentingan umat Islam. Sementara takwa tidak menekankan kesederhanaan hidup, tetapi lebih menekankan terhadap melaksanakan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya. Kemudian raja’ dan khauf leebih menekankan pada pengharapan terhadap rahmat Allah SWT dan takut kepada murka-Nya dengan cara bertakwa.

Etos kerja
Rasa takut hanya kepada Allah SWT mengandung pengertian bahwa orang tidak boleh takut kepada selain Allah SWT.[29] Dengan demikian, takwa mengandung etos kerja yang kuat. Karena takwa diwujudkan dengan membangun kehidupan dunia dan tetap menjalankan perintah-Nya. Dalam membangun kehidupan dunia, ada batas-batas yang tidak boleh dilanggar, seperti bisnis seks, perjudian dan minuman keras. Kemudian tidak boleh melakukan hal-hal yang merugikan orang lain.
Jadi jelaslah bahwa takwa dapat mengembangkan etos kerja yang kuat dan sehat. Artinya tidak hanya mendorong untuk bekerja keras dalam membangun kehidupan. Tetapi pembangunan itu didasarkan pada landasan yang kuat, yakni tidak melakukan hal-hal yang menggerogoti peradaban dan kemudian menghancurkannya setelah sekian lama dibangun.

8)      Takut
Takut dalam tasawuf berarti takut kepada siksaan Allah SWT dan takut amalnya ditolak. Untuk menyebut kata “takut” ada empat istilah dalam Al-Qur’an dan hadits, yaitu Khauf, Khasyyah, Rahbah dan Wajal.[30] Tetapi istilah yang sering digunakan dalam tasawuf ialah Khauf sesuai dengan firman-Nya:
a.       Lambung mereka jauh dari tempat tidurnya, sedang mereka berdo’a kepada Tuhannya dengan rasa takut dan harap” {QS. As-Sajdah: 16}
b.      “Mereka takut kepada Tuhan mereka yang berkuasa atas mereka dan melaksanakan apa yang diperintahkan (kepada mereka)” {QS. An-Nahl: 50}
Selain itu ‘Aisyah pernah bertanya tentang khauf, yaitu:
Ya Rosulullah, firman Allah SWT: Dan orang-orang yang memberikan apa yang telah mereka berikan dengan hati yang takut (karena tahu bahwa) sesungguhnya mereka akan kembali kepada Tuhan mereka {QS. Al-Mu’minun: 60} adlah dia yang berzina, khamr dan mencuri? Rosulullah menjawab: bukan ya puteri ash Shiddiq, tetapi orang yang berpuasa, menunaikan sholat, bershodaqoh dan takut amalnya tidak diterima” HR. Tirmidzi, Ibnu Majah, Ahmad dan al-Hakim﴿
Adapun ayat Al-Qur’an yang menggunakan istilah khasyyah, yaitu:
اِنَّمَا يَخْش اللهَ مِنْ عِبَاده الْعُلَمَاءُ
Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya hanyalah ulama” {QS. Fathir: 28}
Firman Allah SWT mnggunakan istilah rahbah ialah:
فَاِيَّايَ فَارْهَبُوْنَ
“Maka hendaklah kepada-Ku saja kamu takut” {QS. An-Nahl: 51}
Firman Allah SWT menggunakan istilah wajal ialah:
وَ الَّذِيْنَ يُؤْمِنُوْنَ مَا ءَاتَوْا وَ قُلُوْبُهُمْ وَجِلَةٌ
Dan orang-orang yang memberikan apa yang telah mereka berikan dengan hati yang takut (karena mereka tahu bahwa) sesungguhnya mereka akan kembali kepada Tuhan mereka” {QS. Al-Mu’minun: 60}
Dengan demikian, istilah khauf, khasyyah, rahbah, dan wajal berarti takut, tetapi mempunyai makna yang berbeda.[31] Khauf menurut sebagian ulama, berarti taat kepada Allah SWT dengan sungguh-sungguh, tetapi takut amalnya ditolak. Kemudian khasyyah mengandung arti yang lebih sempit, yaitu takut karena pengetahuannya tentang yang ditakuti, msalnya ulama takut kepada Allah SWT, karena pengetahuannya tentang Allah SWT, seperti terlihat pada QS. Fathir: 28. Sedang rahbah berarti  dengan menghindari sesuat8 yang ditakut, sepertimenghindari larangan-Nya, karena takut kepada siksaan-Nya. Lalu wajal berarti gemetar karena takut mengingat atau melihat sesuatu yang menakutkan.
Dari istilah-istilah di atas, terlihat bahwa takut mengandung banyak arti. Ada rasa takut dalam pengertian pada umunya, ada rasa takut karena pengetahuan tentang yang ditakuti, ada rasa gemetar karena takut dan ada pula sikap yang menghindar karena takut.

Etos kerja
Implikasi rasa takut kepada Allah SWT adalah taat kepada-Nya. Rasa takut mendorong orang untuk berbuat sesuatu, seperti bekerja, dengan niat dalam rangka taat kepada Allah SWT. Misalnya mencari nafkah untuk memenuhi kebutuhan hidup. Bekerja adalah suatu aplikasi dari ibadah, dengan bekerja, khususnya orang-orang msulim dapat mengeluarkan zakat dan menunaikan ibadah haji.[32]
Karena itu, rasa takut mengandung etos kerja yang kuat. Rasa takut mendorong untuk bekerja keras secara terus menerus dan tidak putus asa. Rasa takut juga mendorong untuk menghindari perbuatan curang dalam bekerja, seperti menipu dan korupsi. Ini berarti rasa takut mendorong etos kerja yang benar. Namun etos kerja tidak selalu benar, seperti etos kerja penjahat atau orang yang jahat. Orang yang curang pun mempunyai etos kerja, yaitu etos kerja dalam berbuat curang dan kejahatan.

9)      Tawakal
Tawakal berarti berserah diri, maksudnya berserah diri kepada keputusan Allah SWT, terutama ketika melakukan suatu upaya atau perbuatan. Misalnya untuk hidup layak orang harus bekerja keras melakukan pekerjaan yang halal. Bagaimana hasilnya itu diserahkan kepada Allah SWT.
Dalil-dalil yang memerintahkan kita untuk bersikap tawakal, di antaranya:
a.       “dan hanya kepada Allah sajalah orang-orang mu’min itu harus bertawakal” {QS. Ali-Imron: 122 dan 160 }
b.      “dan barang siapa yang bertawakal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya” {QS. Ath-Tholaq: 3}
Hadits yang menjelaskan keutamaan tawakal, seperti:
“Diperlihatkan kepada berbagai umat yang berkumpul. Kemudian aku melihat umatku memenuhi lembah dan gunung. Mereka jumlahnya banyak dan kehebatannya mengagumkan saya. Setelah itu aku ditanya, apakah engkau ridlo? Aku menjawab: ya. Bersama mereka terdapat tujuh puluh ribu orang yang masuk surga tanpa hisab. Mereka tidak menipu, tidak menghambur-hamburkan harta, tidak mencuri, dan hanya kepada Tuhan mereka berserah diri” HR. Ahmad﴿
Dalil-dalil di atas menjelaskan perlunya sikap tawakal, bagaimana wujud tawakal dalam kehidupan Islam.[33] Terdapat beberapa tingkatan wujud tawakal, di antaranya:
·         Ma’rifat kepada Tuhan beserta sifat-sifatnya.
·         Ikhtiar yang didahulukan sebelum berserah diri kepada Allah SWT.
·         Tauhid, menurut Abu Hamid Al-Ghozali, tauhid itu dasar tawakal. Orang yang bertawakal harus lebih dahulu meyakini ke-Esa-an Tuhan.
·         Menyandarkan hati kepada Tuhan dan merasa tenang.
·         Berprasangka baik kepada Tuhan.
·         Istislam yakni menyerahkan diri sepenuhnya kepada Tuhan.
·         Ridlo terhadap apapun yang dialami.

Etos kerja
Sebagaimana telah dijelaskan bahwa tawakal adalah berserah diri kepada Tuhan setelah berikhtiar. Jika telah bekerja keras, tetapi hidupnya tidak mengalami perubahan, maka harus berserah diri kepada Allah SWT. Karena Allah SWT telah mengatur segala yang tidak kita ketahui. Berserah diri setelah berikhtiar dimaksudkan supaya manusia tidak kecewa jika pekerjaannya tidak mendatangkan hasil yang memuaskan.[34]
Dengan demikian orang tidak boleh berhenti berikhtiar untuk meraih kesuksesan dalam hidupnya dan terus bertawakal. Ikhtiar yang terus menerus merupakan etos kerja yang ditanamkan oleh sikap  tawakal.

10)  Taubat
Dalam tasawuf taubat berarti kembali, yakni kembali dari perbuatan tercela menuju perbuatan terpuji, sebagimana yang diajarkan dalam Islam. Taubat tidak cukup hanya dengan ucapan, tetapi harus disertai dengan tindakan.
Menurut Al- Qusyairi al-Naisaburi, taubat merupakan langkah pertama untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT, sedang Al-Ghozali menyebutnya sebagai langkah kedua.[35] Langkah pertama menurut Al-Ghozali adalah ilmu dan ma’rifat. Taubat diwajibkan pada setiap muslim, karena manusia tidak luput dan dosa dan kesalahan.
Dalil-dalil Al-Qur’an mengenai taubat, di antaranya: 
a.       “Hai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kepada Allah dengan taubat yang semurni-murninya” {QS. At-Tahrim: 8}
b.      Dan bertaubatlah sekalian kepada Allah hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung” {QS. An-Nur: 31}
Taubat yang sesungghunya harus dibuktikan dengan tindakan nyata. Karena perbuatanlah yang membuktikan bahwa orang yang bertaubat telah meninggalkan perbuatan tercela. Menurut Al-Ghozali dalam Minhaj al-Abidin (Menuju Mukmin Sejati, 1986), langkah pertama yang harus dilakukan dalam bertaubat adalah mengerjakan ibadah yang wajib, seperti sholat lima waktu, shaum di bulan Romadlon.
Untuk melaksanakan cara-cara bertaubat, diperlukan beberapa hal. Di antaranya, menyesali perbuatan dan memperkuat tekad di hati untuk meninggalkan semua perbuatan tercela untuk selamanya dengan penuh kesadaran.[36] Kemudian taubat hendaknya dilakukan karena takut kepada Allah semata, bukan karena faktor lain, seperti takut dipenjara atau malu pada lingkungan di mana dia berada atau ingin disebut sholeh.

Etos kerja
Taubat adalah memperbaiki diri dengan menjalankan kewajiban agama dan menjauhi larangannya. Di antara kewajiban itu adalah mencari nafkah untuk diri sendiri dan keluarga. Orang yang bertaubat seharusnya bekerja keras untuk memperoleh pendapatan yang dapat menenuhi kebutuhan hidupnya. Selain itu, orang yang bertaubat dianjurkan banyka beramal, tidak hanya melakukan ibadah seperti sholat sunnah, dzikir, tetapi juga bershodaqoh untuk membantu orang-orang yang kurang mampu. Ini berati orang yang bertaubat harus bekerja agar mendapatkan rizqi untuk dishodaqohkan.
Dengan demikian, taubat mengandung etos kerja, karena pada intinya memperbaiki diri dengan cara  bekerja dan memperoleh harta dengan cara yang halal untuk memperoleh kebaikan di dunia dan keselamatan di akhirat. Jadi, orang bertaubat itu tidak harus menghabiskan waktunya untuk beribadah dan meninggalkan urusan duniawi. Bahkan dalam hal tertentu, orang yang bekerja keras bertaubat dengan cara memperbanyak shodaqoh dari hasil pekerjaannya tersebut.[37]
Di sinilah letak hubungan antara taubat dengan kerja keras. Yakni, taubat tidak hanya
meminta ampun kepada Allah SWT, tetapi juga bekerja keras untuk memperbaiki kehidupan dunianya dan sekaligus untuk beramal dan bershodaqoh untuk membantu orang yang mengalami kesulitan hidup.

11)  Zuhud 
Zuhud berarti menjauhkan diri dari segala sesuatu yang berkaitan dengan dunia. Tetapi para ulama memberikan definisi yang berbeda-beda mengenai zuhud.[38] Ibnu Taimiyah misalnya, berpendapat bahwa zuhud adalah meninggalkan segala hal yang tidak bermanfaat bagi kehidupan akhirat kelak. Ada juga yang berkata bahwa zuhud adalah menghilangkan rasa cinta selain kepada Allah SWT.
Dalil-dalil tentang zuhud, di antarnya:
a.       “Apa yang di sisimu akan lenyap, dan apa yang di sisi Allah adalah kekal” {QS. An-Nahl: 96}
b.      “Katakanlah: Kesenangan di dunia ini hanya sebentar di akhirat itu lebih baik untuk orang-orang yang bertakwa” {QS. An-Nisa’: 77}
c.       “Tetapi kamu (orang-orang kafir) memilih kehidupan duniawi. Sedang kehidupan akhirat adalah lebih baik dan lebih kekal” {QS. Al-A’laa: 16-17}
Ayat-ayat di atas mengingatkan agar manusia tidak terpukau kepada hal-hal yang bersifat duniawi, seperti harta dan tahta. Bila ia mendapatkannya, maka ia bersyukur, sebaliknya, bila ia kehilangan harta dan tahta, maka ia tidak kecewa dan putus asa. Ini tidak berarti bahwa zuhud harus miskin. Zahid (orang yang zuhud)  boleh saja kaya raya dan berkuasa. Yang penting ia memperoleh kekayaan dan kekuasaan dengan cara yang dan memanfaatkannya secara benar.
Dengan demikian, zuhud mengandung  arti sederhana dalam arti yng seluas-luasnya. Misalnya Hamka, dalam bukunya Falsafah Hidup (1970) menguraikan berbagai bentuk sikap hidup sederhana, di antaranya sederhana niat dan tujuan. Maksudnya tidak melakukan sesuatu      dengan cara yang berlebihan walau halal. Sedangkan jika yang dilakukan itu adalah syubhat atau haram, maka jelas bukan zuhud. Menurut Syekh Harawi, seperti yang diktuip oleh Ibnu Qayyim al Jauziyah dalam Madarij al Salikin (Jenjang Spiritual Para Penempuh Jalan Ruhani, 1999) ada tiga tingkatan zuhud.
Pertama, meninggalkan segala hal yang syubhat.
Kedua, tidak melakukan sesuatu secara berlebihan, walaupun halal, seperti makan, minum dan berpakaian. Maksudnya agar peluang untuk bersenang-senang dengan kehidupan duniawi tidak memalingkan perhatiannya dari Allah SWT.
Ketiga, bersikap zuhud terhadap zuhud. Artinya tidak menganggap zuhud itu sebagai suatu hal yang perlu dibanggakan. Sebab membanggakan zuhud itu bukan sikap zuhud.

Etos kerja
Dalam konteks perkerjaan zuhud berarti mengerjakan pekerjaan halal dan hasilnya tidak dihambur-hamburkan atau digunakan dalam perbuatan maksiat. Selain menjauhi pekerjaan syubhat dan haram, zuhud juga menghendaki kita melakukan kewajiban, termasuk mencari nafkah untuk memenuhi kebutuhan hidup. Dilihat dari ini, zuhud mengandung etos kerja yang tinggi.[39]
Dengan demikian, zuhud tidak melemahkan etos kerja, sebaliknya  zuhud dapat meningkatkan etos kerja. Inilah pemahaman zuhud yang perlu dikembangkan oleh kita untuk keluar dari krisis yang berkepanjangan saat ini.

12)    Wara’
Wara’ berarti berpantang, maksudnya berpantang atau meninggalkan hal-hal yang syubhat dan yang tidak bermanfaat. Hal ini didasarkan pada sebuah hadits, yaitu “sebagian dari kesempurnaan Islam seseorang ialah meninggalkan hal-hal yang tidak bermanfaat” HR. Malik, Tirmidzi dan Ibnu Majah﴿
Hadits-hadits tentang wara’, di antaranya:
a.       “Jadilah orang-orang yang wara’ agar engkau menjadi orang yang paling banyak ibadahnya di antara manusia”  HR. Ibnu Majah dan At Thabrani﴿
b.      “Sesungguhnya yang halal itu jelas dan yang haram juga jelas dan di antara keduanya ada hal-hal yang syubhat yang tidak diketahui oleh kebanyakan orang. Barang siapa yang berhati-hati dari syubhat, maka akan bersih agamanya dan kehormatannya, dan barang siapa yang terjerumus ke dalam perkara syubhat, maka akan terjerumus ke dalam perbuatan haram”HR. Ibnu Majah dan At Thabrani﴿
Kemudian ada ayat Al-Qur’an yang menerangkan sikap wara’, yaitu:
“Hai rosul-rosul, makanlah dari makanan yang baik-baik, dan kerjakanlah amal sholih. Sesunggunya Aku Mengetahui apa yang kamu kerjakan” {QS. Al-Mu’minun: 51}
Dalam kajian tentang tasawuf wara’ biasanya disebut sesudah zuhud. Karean wara’ adalah tingkat tertinggi dalam sikap zuhud. Sebagaimana telah dijelaskan bahwa zuhud adalah meninggalkan hal-hal yang haram dan syubhat serta akhirnya meninggalkan hal-hal yang tidak bermanfaat meskipun halal. Wara’ harus dilakukan secara ikhlas.
Wara’ dapat dilakukan dengan beberapa tahap, di antaranya:
Pertama, memelihara iman agar tidak ternoda oleh maksiat, karena iman itu dapat bertambah dan berkurang.
Kedua, menghindari perbuatan yang sebenarnya halal, tetapi dikhawatirkan jatuh kepada perbuatan haram. Misalnya tidak masuk bar, karena khawatir tergoda meminum minuman keras dan melakukan perbuatan maksiat lainnya.
Ketiga, selalu ingat Allah SWT dan kegiatannya sehari-hari hanya ditujukan kepada Allah SWT. Tahap ini kelihatanya, sama sekali sudah meninggalkna unsur duniawi. Jika masih menangani urusan duniawi itu semata-mata untuk beribadah kepada Allah SWT.

Etos kerja
Tahap wara’ yang terakhir tampaknya tidak mengandung etos kerja, karena orang (sufi) yang telah mencapai tahap demikian mengurus duniawi. Namun terdapat dua tahap yang mendorong orang bekerja untuk memenuhi kebutuhn hidup, dan yang penting tidak mengerjakan perbuatan yang dilarang oleh Allah SWT.[40]  
Dilihat dari segi ini, wara’ masih mengandung etos kerja yang kuat. Karena pekerjaan yang halal terbuka luas, sehingga untuk hidup makmur tidak harus melakukan perbuatan haram. Dengan demikian orang yang wara’ seharusnya bekerja keras untuk memenuhi kebutuhan hidup dan memberi kontribusi yang jelas kepada pengembangan Islam dan kaum muslimin. Usaha seperti ini juga merupakan bukti etos kerja yang kuat dalam sikap wara’.

13)   Syukur  
Syukur berarti terima kasih, maksudnya berterima kasih kepada Allah SWT atas nikmat yang telah dilimpahkan kepada manusia.[41] Syukur dapat dilakukan dengan hati, lisan dan badan. Syukur dengan hati ialah selalu ingat kepada Allah SWT (dzikir), syukur dengan lisan ialah mengucapkan tahmid (pujian) kepada-Nya, dan syukur dengan badan ial.ah menaati ajaran Allah SWT.
Dalil-dalil Al-Qur’an tentang syukur, di antaranya:  
a.       “Dan bersyukurlah kepada Allah jika benar-benar kepada-Nya saja kamu menyembah” {QS. Al-Baqoroh: 172}
b.      “Dan Allah aknn memberi balasan kepada orang-orang yang bersyukur” {QS. Ali-Imron: 144}
Kemudian ada sejumlah hadits yang menjelaskan keutamaan syukur, di antaranya:
a.       Nabi Muhammad melakukan sholat malam hingga kedua kakinya bengkak lalu ditanya: mengapa engkau lakukan ini, padahal Allah telah mengampuni dosamu yang telah lalu dan yang akan datang. Lalu Nabi bersabda:
Tidak bolehkah aku menjadi hamba yang banyak bersyukur” HR. Bukhri dan Muslim﴿
b.      Nabi Muhammad berkata kepada Mu’adz:
“Demi Allah hai Mu’adz, sesungguhnya aku benar-benar mencintaimu. Maka janganlah engkau lupa setiap kali usai sholat untuk mengucapkan: Ya Allah tolonglah aku untuk mengingatmu, bersyukur dan beribadah kepadamu dengan baik” HR. Bukhori dan Muslim﴿
Dalil-dalil di atas menjelaskan keutamaan bersyukur, manusia akan bersyukur bila merenungkan kelebihan-kelebihan yang dilimpahkan oleh Allah SWT kepadanya. Misalnya manusia memiliki martabat yang lebih tinggi dibandingkan dengan makhluk yang lain. Dengan martabat yang tinggi, kecerdasan dan hati nurani manusia mendapat mandat dari Allah SWT menjadi khalifah di muka bumi untuk mengelola dan memakmurkan kehidupan di dunia.
Lebih dari itu manusia diberi nikmat iman dan Islam yang memungkinkan mereka mengetahui hidup sesudah mati, yakni bahwa hidup di dunia ini hanya sementara, sedang kehidupan yang lebih kekal adalah di akhirat. Kemudian dengan iman dan Islam manusia dapat menjalani hidup  dengan selamat dari dunia dan akhirat.

Etos kerja
Hakikat syukur adalah pengakuan terhadap nikmat Allah SWT  dengan hati dan tindakan.[42] Pengakuan dengan hati ialah beriman kepadanya, dan pengakuan dengan tindakan ialah taat kepadanya. Oleh karena itu, pekerjaan tidak boleh dinodai dengan hal-hal yang dilarang oleh Allah SWT. Etos kerja hanya boleh diwujudkan dalam pekerjaan yang halal dan dilarang dikembangkan dalam pekerjaan yang haram.
Dengan demikian, etos kerja yang diharapkan tumbuh dari rasa syukur ialah etos kerja yang sehat, yang memajukan kepentingan bersama dan kebersamaan itu tidak boleh dinodai dengan hal-hal yang destruktif, seperti menipu dan korupsi.

14)   Cinta
Cinta dalam tasawuf disebut mahabbah, maksudnya mahabbah kepada Allah SWT untuk mendekatkan diri kepada-Nya.[43] Selain cinta kepada Allah SWT ada pula cinta kepada diri sendiri yang diketahui melalui ma’rifat yang selanjutnya ma’rifat kepada Allah SWT. Kemudian, tulis Haidar Al-Kufi, ada cinta kepada kedua orang tua yang di dalamnya untuk mengetahui kesadarannya tentang sejauh mana keharusan untuk berbuat baik kepada kedua orang tua, sehingga Allah SWT ridlo kepadanya.
Jelaslah bahwa cinta yang paling tinggi adalah cinta kepada Allah SWT. Sedang cinta kepada selain Allah SWT, yaitu diri sendiri, orang tua, anak-anak, saudara, kerabat dan kehidupan dunia adalah perwujudan cinta kepada Allah SWT.
Keutamaan cinta kepada Allah SWT dijelaskan dalam Al-Qur’an:
a.       “Hai orang-orang yang beriman, barang siapa di antara kamu yang murtad dari agamanya,maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai mereka dan merekapun mencintai-Nya”{QS. Al-Maidah: 54}
b.      “Adapun orang-orang yang beriman amat sangat cintanya kepada Allah SWT” {QS. Al-Baqoroh: 165}
Hadits-hadits yangmenjelaskan perlunya cinta kepada Allah SWT:
a.       “Barang siapa yang senang dengan bertemu dengan Allah, maka Allah juga senang bertemu dengannya. Barang siapa yang tidak sennag bertemu dengan Allah, maka Allah juga tidak senang bertemu dengannya” HR. Bukhori﴿
b.      “Barang siapa yang telah Aku cintai, maka aku akan mendengar, melihat, menolong dan mendukngnya” HR. Al-Hakim, Ibnu Marduwaih, Abu Nua’im dan Ibnu Asakir﴿
Untuk dapat mencintai Allah SWT diperlukan syrat-syarat. Di antaranya ialah ma’rifat kepada Allah SWT, dzikrullah, taat, takut dan selalu bersyukur kepada-Nya. Dan syarat terakhir  adalah sabar menghadapi apa yang diwajibkan dan dilarang kepadanya. Dengan kesabaran terjadilah kepribadian dan takwa seorang hamba yang mencintai Allah SWT, dan tidak akan goyah dalam mengahdapi ujian dan ujian yang dihadapi.
Dalam tasawuf sufi yang sangat terkenal dengan ajaran cintanya ialah Rabi’ah al’Adawiyah (w. 185 H/801 M). Dia pernah mengatakan bahwa dia beribadah kepada Allah SWT bukan karena ingin surga dan takut neraka, tetapi semata-mata karena cinta kepada Allah SWT.

Etos kerja
Telah dijelaskan bahwa cinta kepada Allah SWT merupakan cinta yang paling tinggi nilainya. Sedang mencintai selain Allah SWT ditempatkan di bawah cinta kepada  Allah SWT.  Kita dianjurkan mencintai keluarga dan kehidupan dalam rangka mencintai Allah SWT. Wujud cinta kepada keluarga adalah memenuhi kebutuhannya, fisik maupun mental. Untuk itu, diperlukan biaya, sehingga diwajibkan mencari nafkah.[44]
Dengan demikian, maka bekerja itu wajib dan cinta mengandung eots kerja yang kuat. Sebenarnya tidak diwajibkanpun umumnya orang bekerja keras mencari nafkah untuk memenuhi kebutuhan keluarganya karena dorongan cinta kepada merka. Tetapi jika dia muslim, maka dorongan itu datang dari dua arah, yaitu cinta Allah SWT dan cinta keluarga, begitupun cinta yang lain.

15)   Rindu
Rindu dalam tasawuf disebut syauq,[45] maksudnya rindu kepada Allah SWT. Syauq adalah kerinduan untuk melihat sang kekasih dan kerinduan untuk dekat dengan kekasih, kerinduan untuk bersatu dengan kekasih, kerinduan yang intens untuk meningkatkan kerinduan.
Rindu adalah sebuah buah cinta. Rasa rindu muncul setelah ada rasa cinta. Orang yang mencintai Allah SWT akan selalu rindu kepadanya. Sebagian ulama berpendapat bahwa rindu adalah damainya hati, senang bertemu dan berada didekatnya. Mengenai hal ini Allah SWT berfirman:
مَنْ كَانَ يَرْجُوْ لِقَاءَ اللهِ فَاِنَّ اَجَلَ اللهِ لَاتٍ
“Barang siapa yang mengharap pertemuan dengan Allah, maka sesungguhnya waktu (yang dijanjikan) Allah pasti datang” {QS. Al-Ankabut: 5}
Kemudian ada sebuah hadits dari Atha’ bin as Sa’ib dari ayahnya dikatakan bahwa “pernah Ammar bin Yasir melakukan sholat bersama kami. Sholatnya sangat singkat. Lalu aku berkata kepadanya: Hai Abul Yaqzhan, kamu mengentengkan sholat. Jawab Ammar (Abul Yaqzhan):  aku tidak bisa lbih dari itu. Sungguh aku telah berdo’a kepada Allah dengan do’a-do’a yang pernah aku dengar dari Rosulullah. Ketika Ammar brdiri, dia diikuti oleh seorang pria, lalu menanyakan do’a-do’a itu, maka Ammar menjawabnya: Ya Allah dengan pengetahuan-Mu tentang hal yang ghaib dan kekuasaan-Mu terhadap makhluk, maka berilah aku kehidupan yang menurut-Mu kematian itu lebih baik bagiku. Ya Allah aku mohon kepadamu rasa takut kepadamu di tempat tertutup dan terbuka, dan aku mohon kepada-Mu ucapan yang benar di kala senang dan marah. Aku mohon kepada-Mu kesederhanaan di kala kaya dan miskin. Aku mohon kepada-Mu kenikmatan yang tidak punah dan kesenangan yang tidak putus dan aku mohon kepada-Mu sifat ridlo jika telah datang takdir-Mu dan kehidupan yang sejuk setelah kematian. Aku mohon kepada-Mu dapat melihat wajah-Mu yang mulia. Aku rindu untuk bertemu dengan-Mu tanpa mengalami penderitaan yang mencelakakan atau ujian yang menyesatkan. Ya Allah hiasilah kami dengan iman. Ya Allah jadikanlah kami sebagai petunjuk bagi orang-orang yang mencari petunjuk.
Rindu kepada Allah SWT sebenarnya bukan hal baru setelah datangnya Nabi Muhammad , tetapi nabi terdahulu. Di antara tanda rindu kepada Allah SWT adalah tidak mengeluh di kala susah dan minta mati tatkala senang, seperti yang dialami nabi Yusuf. Ketika nabi Yusuf dilempar ke dalam sumur dia tidak berkata: matikanlah aku. Juga ketika dimasukkan ke dalam penjara, dia tidak mengatakan:  matikanlah aku. Tetapi sewaktu orang tua dan saudara-saudaranya datang kepadanya, dia berkata: matikanlah aku dalam keadaan Islam.

Etos kerja
Telah dijelaskan bahwa rindu adalah buah cinta. Orang yang mencintai Allah SWT akan selalu rindu kepada-Nya. Begitu pula orang yang mencintai keluarganya tentu sennatiasa rindunya kepada mereka. Rasa rindu mendorong orang untuk selalu bersikap aktif, baik dalam urusan agama maupun urusan duniawi.
Dengan demikian, rindu mengandung etos kerja yang kuat.[46] Karena keluarga, orang mau bekerja tanpa lelah dan terus mencari nafkah, meski harus meninggalkan kampung halaman. Kesungguhan  bekerja tidak dapat dilepaskan dari rasa rindu kepada keluarga. Tetapi rasa rindu kepada keluarga tidak boleh melebihi rindu kepada Allah SWT.  

16)              Shiddiq
Shiddiq berarti benar atu jujur, maksudnya benar atau jujur dalam perkataan dan perbuatan. Membiasakan sikap shiddiq merupakan salah satu cara mendekatkan diri kepada Allah SWT dan bersikap shiddiq merupakan nilai hidup yang sangat penting dalam hubungan sesama manusia, sekaligus menjadi sendi kemajuan manusia sebagai pribadi dan kelompok.[47]
Dalil-dalil Al-Qur’an yang memerintahkan manusia bersikap jujur, di antaranya:
a.              “Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah, dan hendaklah kamu bersama orang-orang yang benar” {QS. At-Taubah: 119}
b.              “Tetapi jikalau mereka benar (imannya) terhadap Allah, niscaya yang demikian itu lebih baik bagi mereka” {QS. Muhammad: 21}
 Hadits yang menyatakan perlunya sikap jujur, di antaranya:
a.              “Sesungguhnya kebenaran itu membawa kepada kebaikan dan kebaikan membawa ke surga. Seseorang yang membiasakan diri bersikap benar akan dicatat di sisi Allah sebagai orang benar” HR. Bukhori dan Muslim﴿
Demikianlah dalil-dalil yang mengharuskan manusia untuk selalu berkata dan berbuat benar atau jujur. Artinya manusia harus menghindari sikap curang, seperti berbohong, dan perbuatan yang melanggar hukum dan etika, seperti korupsi.
Allah SWT menjamin masyarakat dan negara yang menegakkan kebenaran dan kejujuran dengan kehidupan yang aman dan damai, dan sebaliknya membiarkan orang-orang yang terbiasa bersikap curang dalam kesesatan dan kehancuran. Shiddiq berkait erat dengan sikap amanah, yakni jujur melaksanakan sesuatu yang dipercayakan kepadanya berupa harta benda, rahasia dan tugas. Jadi, ada persamaan dan perbedaan antara shiddiq dan amanah. Persamaannya adalah kedua istilah itu berarti benar atau jujur, Sedang perbedannya adalah shiddiq bisa berarti bersikap benar kepada Allah SWT dan benar kepada manusia. Sedang amanah hanya benar dalam konteks hubungan dengan sesama manusia.

Etos kerja
Sikap shiddiq menghendaki orang bekerja dengan jujur.[48] Jadi shiddiq mengandung etos kerja yang kuat. Karena jujur tidaknya seseorang dapat dilihat pada pekerjaannya, yaitu apakah dia melakukan pekerjaannya secara jujur atau tidak. Cara lain melihat kejujuran orang adalah memperhatikan ucapannya.
Bekerja secara jujur dan benar adalah bekerja sesuai dengan peraturan yang berlaku di tempat kerja. Hal ini membuktikan bahwa shiddiq mengandung etos kerja yang kuat.

17)          Syaja’ah
Syaja’ah berarti berani, maksudnya berani melakukan tindakan yang benar walaupun harus menanggung resiko yang berat. Ini sesuai dengan ungkapan yang mengatakan bahwa “berani karena benar, takut karena salah”.
Sikap berani harus ditunjang oleh sikap mental di mana seseorang dapat menguasai dirinya dan berbuat sebagaimana mestinya. Rosulullaah bersabda:
“Bukanlah yang disebut pemberani adalah orang yang kuat bergulat. Sesungguhnya pemberani adalah orang dapat menguasai hawa nafsunya di kala marah” HR. Bukhori dan Muslim﴿
Sikap berani dapat dilihat pada stabilnya pikiran seseorang sewaktu menghadapi bahaya.[49] Ia tetap melakukan pekerjaan dengan hati yang teguh dan akal yang sehat serta tidak gentar menghadapi ancaman dan celaan sebagai konsekuensi tindakannya. Hal ini sudah ditunjukkan oleh Rosulullah dan  para sahabatnya ketika menyebarkan Islam. Allah SWT berfirman:
“(yaitu)orang-orang nyampaikan risalayang menyampaikan risalah-risalah Allah,  mereka takut kepada-Nya dan mereka tidak merasa takut kepada seorang (pun) selain kepada Allah. Dan cukuplah Allah sebagai pembuat perhitungan” {QS. Al-Ahzab: 39}
Sikap berani pada awalnya merupakan sikap mental yang berasal dari masyarakat Arab jahiliah pra Islam. Orang-orang Arab yang tinggal di Padang Pasir sering mengalami perampokan dan perang antar suku. Untuk mempertahankan diri, mereka memerlukan sikap berani untuk melawan perampok dan menghadapi perang. Inilah sebabnya kemudian sikap berani menjadi akhlak yang sangat terpuji di kalangan masyarakat Arab.
Ketika Islam datang, sikap berani tetap mendapat kedudukan yang tinggi sebagai akhlak mahmudah (terpuji), karena sikap inilah yang menunjang penyebaran Islam. Tanpa sikap berani orang-orang Islam tidak mudah menyebar ke seluruh masyarakat Arab, apalagi ke seluruh dunia.



Etos kerja
Telah terbukti dalam sejarah Islam bahwa keberanian yang dimiliki oleh para pejuang Islam sangat menentukan pengembangan agama Islam di masa lalu. Ini berarti bahwa keberanian dapat membawa kemajuan Islam, berbagai kehidupan masyarakat dan dalam dunia kerja. Hal ini terlihat misalnya munculnya kreasi-kreasi baru yang berguna bagi kehidupan manusia.[50] Munculnya temuan-temuan baru di bidang IPTEK didorong oleh keberanian untuk melakukan eksperimen. Ini berarti bahwa syaja’ah mengandung etos kerja yang kuat.
Selain itu, sikap berani sangat berguna dalam dunia kerja atau pekerjaan. Dalam pekerjaan kadang-kadang mengalami kesulitan, dan kesulitan itu di antara lain disebabkan oleh rasa takut, sehingga bisa di atasi dengan sikap berani. Kemudian sikap berani menimbulkan suasana hati yang bermanfaat dalam pekerjaan, yaitu rasa tenteram.

18)              Takdir
Takdir adalah ketetapan dan ketentuan Allah SWT tentang keadaan segala sesuatu sebelum terwujud di dunia ini. Takdir disebut juga qadha dan qadar. Takdir merupakan salah satu rukun iman, berdasarkan sabda Rosulullah:
“Hendaklah engkau beriman kepada Allah, para malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, para rosul-Nya dan hari akhir, dan hendaklah engkau beriman kepada takdir, baik dan buruknya” HR. Muslim﴿
Takdir menyangkut tiga hal.[51] Pertama, keteraturan alam semesta, seperti peredaran galaksi, pergerakan bintang, hembusan angin. Semua itu terjadi atas kehendak Allah SWT dan sama sekali tidak ada peranan manusia di dalamnya.
Kedua, takdir menyangkut kehidupan manusia yang bersuku-suku,berbangsa-bangsa dengan warna kulit yang saling berbeda dan postur tubuh yang berbeda pula.
Ketiga, takdir berkaitan dengan akal pikiran, kemampuan, kemauan dan kebebasan manusia untuk berbuat. Artinya manusia diberi akal pikiran, kemampuan, kemauan dan kebebasan untuk mewujudkan perbuatannya.
Dengan demikian, akal pikiran, kemampuan, kemauan dan kebebasan manusia adalah takdir, sementara binatang tidak mendapatkan takdir semacam ini. Tetapi dalam hal akal pikiran, kemampuan, kemauan dan kebebasan itu dipergunakan untuk kebaikan dan keburukan. Itu adalah hak manusia untuk melakukannya sebagai konsekuensi kebebasan yang diberikan kepadanya.
Takdir juga bisa berubah karena do’a. Manusia diperintahkan berdo’a dan Allah telah berjanji menerima do’a hambanya. Selain, itu ikhtiar dapat mengubah takdir Tuhan. Misalnya, ada orang yang ditakdirkan miskin, tetapi karena orang ini bekerja keras dan sukses, maka hidupnya sejahtera.

Etos kerja
Manusia ditakdirkan memiliki akal pikiran, kemampuan, kemauan dan kebebasan dimaksudkan untuk bekerja guna memenuhi kebutuhan diri dan keluarganya serta memajukan kehidupan umat dan bangsanya. Ini berarti konsep takdir mengandung etos kerja yang kuat. [52]

19)              Malu
Rasa malu dalam tasawuf disebut haya’, maksudnya malu kepada Allah dan diri sendiri ketika akan melanggar ajaran Islam, yaitu meninggalkan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya. Rasa malu dapat menjadi pembimbing kepada jalan keselamatan dan mencegah perbuatan buruk.[53] Hadits-hadits yang menjelaskan perlunya rasa malu dan keutamaannya. Di antaranya:
a.                   “Malu tidaak membuahkan sesuatu kecuali kebaikan” HR. Bukhori dan Muslim﴿
b.                  “Malu adalah sebagian dari iman” HR. Tirmidzi﴿
c.                   “Kalau tidak malu berbuatlah apa yang engkau inginkan” HR. Bukhori﴿
Hadits-hadits di atas menjelaskan perlunya rasa malu, yaitu malu berbuat salah  dan dosa. Meskipun kita bisa menghindar dari penglihatan manusia, tetapi tidak bisa lepas dari penglihatan Allah SWT. Mengenai hal ini Allah SWT berfirman:
“Tidakkah dia mengetahui bahwa sesungguhnya Allah melihat segala perbuatannya” {QS. Al-‘Alaq: 14}
Rasa malu sangat penting dalam hidup ini. Sebab rasa malu berbuat jahat akan menghindarkan orang dari perbuatan salah dan dosa. Sebaliknya, jika rasa malu berbuat jahat tidak ada lagi, maka orang akan cenderung berbuat jahat, walaupun tidak terpaksa dengan keadaan. Merajalelanya korupsi selama ini di Indonesia sampai era reformasi sekarang disebabkan olleh tidak adanya rasa malu di kalangan penyelenggara negara (eksekutif, legislatif, yudikatif). Selain itu rasa malu, jika prestasi belajarnya rendah bagi pelajar dan mahasiswa dapat ditumbuhkan dengan bergaul bersama pelajar dan mahasiswa yang berprestasi.

Etos kerja
Malu berbuat jahat mendorong orang untuk selau berbuat baik. Begitu pula malu berpresprestasi rendah dalam pekerjaan, mendorong pekerja berusaha untuk mencapai prestasi yang tinggi. Untuk meraih prestasi yang tinggi dalam pekerjaan diperlukan kerja keras. Ini berarti bahwa rasa malu mengandung etos kerja yang kuat.[54]

20)              Wirid
Wirid merupakan latihan spiritual dengan menyebut nama-nama Tuhan, mengerjakan sholat sunnah, membaca Al-Qur’an, dzikir, do’a dan tafakkur.[55] Dalam tarekat pengamalan wirid melahirkan transformasi batin secara bertahap. Namun kadar transformasi spiritual ini tergantung pada rahmat Allah SWT dan juga kesucian niat dan ketulusan.
Perlunya wirid dengan menyebut nama-nama Tuhan ditegaskan Al-Qur’an:
وَ اذْكُرِ اسْمَ رَبِّكَ وَ تَبَتَّلْ اِلَيْهِ تَبْتِيْلاً
“Sebutlah nama Tuhanmu, dan beribadahlah kepada-Nya dengan penuh ketekunan” {QS. Al-Muzzammil: 8}
وَ اذْكُرِ اسْمَ رَبِّكَ بُكْرَةً وَّ أَصِيْلاً
“Dan sebutlah nama Tuhanmu pada (waktu) pagi dan petang” {QS. Al-Insan: 25}
Wirid juga bisa berupa sholat sunnah, seperti sholat tahajud, sholat rawatib, sholat witir dan lain-lain serta juga bisa berupa asmaa ulhusna. Sholat tahajud disebut juga sholatullail (sholat malam), sesuai dengan firman-Nya:
“Dan pada sebahagian malam hari bersembahyang tahajudlah kamu sebagai suatu ibadah tambahan bagimu, mudah-mudahan Tuhanmu mengangkat kamu ke tempat yang terpuji” {QS. Al-Isra’: 79}
Selain itu juga, wirid dapat dilakukan dengan membaca Al-Qur’an dan lebih baik sambil memperhatikan maknanya agar dapat mengamalkan dalam kehidupan sehari-hari.



Etos kerja
Menyebut nama-nama Tuhan, mengerjakan sholat sunnah, membaca Al-Qur’an, dzikir, do’a dan tafakkur selain mendatangkan pahala bagi yang melakukannya juga dapat menimbulkan ketenangan hati dan pikiran.
Ketenangan hati dan pikiran sangat penting dalam bekerja. Orang yang hati dan pikirannya dapat bekerja dengan baik dan bisa menyusun strategi kerja yang tepat untuk mencapai hasil yang maksimal. Ini berarti bahwa ketenangan hati, pikiran, wirid, dzikir, do’a, membaca Al-Qur’an, dan sholat sangat penting dalam mengembangkan etos kerja.[56]

21)               Dzikir
Dzikir berarti mengingat, menyebut atau mengagungkan Allah dengan mengulang-ulang salah satu namanya. Dzikir yang hakiki ialah sebuah keadaan spiritual di mana seseorang yang mengingat Allah (dzakir) memusatkan segenap fisik dan spiritualnya kepada Allah, sehingga seluruh wujudnya bisa bersatu dengan Yang Maha Mutlak.[57]
Dzikir dapat dilakukan dengan berbagai cara, seperti dzikir jahar (dzikir dengan bersuara), dzikir khafi (dzikir dengan diam), dzikir lisan (dzikir dengan lidah), dzikir nafs (dzikir tanpa suara, tetapi dengan gerakan dan perasaan batin), dzikir qalb (dzikir dengan hati ketika merenungkan keindahan dan keagungan Allah dalam relung hati), dzikir sirr (dzikir dalam hati yang paling dalam ketika tersingkap berbagai misteri ilahi), dan dzikrullah (mengingat Allah melalui salah satu namanya atau firmannya).
Dzikrullah yang sempurna di mana Allah menjadi penglihatan, pendengaran, pembicaraan dan pemahaman sang dzakir, dicapai bila setiap atom dalam diri sang dzakir terserap dan lenyap      dalam mengingat Allah.
Perlunya dzikir dan keutamaannya dijelaskan dalam Al-Qur’an:
a.                   “Maka berdzikirlah dengan menyebut Allah, sebagaimana kamu menyebut-nyebut (membangga-banggakan) nenek moyangmu atau (bahkan) berdzikir lebih banyak dari itu” {QS. Al-Baqoroh: 200}
b.                  “Karena itu, ingatlah kamu kepada-Ku niscaya Aku ingat (pula) kepadamu” {QS. Al-Baqoroh: 152}
c.                   “Hai orang-orang yang beriman, berdzikirlah (dengan menyebut nama) Allah, dzikir sebanyak-banyaknya” {QS. Al-Ahzab: 41}
Selain itu perlunya dzikir dan keutamaannya juga dijelaskan dalam sejumlah hadits:
a.                   “Rosulullah berdzikir kepada Allah setiap saat” HR. Muslim﴿
b.                  “Perumpaan orang yang berdzikir kepada Allah dengan orang yang tidak berdzikir bagaikan perbedaan antara orang hidup dengan orang mati” HR. Bukhori﴿
Itulah dalil-dalil yang menjelaskan perlunya dzikir dan keutamaannya. Dengan dzikir orang mengakui keagungan Allah dan menyadari kerendahan dirinya serta bersikap lemah lembut dan peduli kepada sesama.

Etos kerja
Dengan dzikir orang akan selalu ingat perintah Allah SWT, ini berarti dzikir mengandung etos kerja yang kuat. Kemudian dzikir juga dapat menimbulkan ketenangan jiwa dan pikiran. Dalam masyarakat modern, persaingan dalam pekerjaan berlangsung sangat ketat, orang mudah mengalami stress yang selanjutnya mengganggu jiwa dan pikiran.
Sebaliknya, ketenangan jiwa dan pikiran dapat menghilangkan stress, sikap malas dan putus asa. Orang yang jiwanya tenang dapat mengerjakan pekerjaannya dengan mudah, tekun dan penuh semangat. Ini juga berarti bahwa dzikir mengandung etos kerja yang kuat.[58]

22)              Do’a
Do’a berarti permintaan atau permohonan, yaitu permohonan manusia kepada Allah untuk mendapatkan kebaikan di dunia  dan keselamatan di akhirat. Kebaikan di dunia adalah kesehatan, kemakmuran, memiliki pengetahuan dan terhindar dari musibah. Sedang keselamatan di akhirat adalah masuk surga.
Do’a merupakan kesempatan manusia mencurahkan hatinya kepada Tuhan, menyatakan kerinduan, ketakutan dan kebutuhan manusia kepada Tuhan.[59] Mengenai hal ini Allah SWT berfirman:
a.                   “Katakanlah: Berdo’alah kepada mereka yang kamu anggap Tuhan selain Allah, maka mereka tidak akan mempunyai kekuasaan untuk menghilangkan bahaya dari kalian, dan tidak pula memindahkannya” {QS. Al-Isro’: 56}
b.                  Allah mempunyai nama-nama baik (asmaul husna), maka berdo’alah kepada-Nya dengan menyebut nma-nama itu” {QS. Al-A’rof: 180}
Selain itu terdapat beberapa hadits yang menjelaskan keutamaan do’a:
a.                   “Do’a itu adalah otak ibadah” HR. Tirmidzi﴿
b.                  “Rosulullah suka do’a yang singkat, tetapi isinya mencakup semua maksud dalam do’a dan meninggalkan selainnya” HR. Abu Dawud﴿
Dalil-dalil di atas menjelaskan perlunya do’a dan keutamaannya. Do’a biasanya berkaitan dengan ikhtiar. Do’a dan ikhtiar merupakan dua hal yang penting dalam kehidupan manusia. Manusia perlu berdo’a, karena ikhtiar yang dilakukan ada batasnya, dan manusia juga perlu berikhtiar, karena hal itu merupakan jalan untuk mencapai tujuan.

Etos kerja
Jelaslah bahwa do’a tidak dapat berdiri sendiri, tetapi  harus disertai dengan ikhtiar.[60] Artinya orang tidak boleh hanya berdo’a, tetapi juga harus berikhtiar untuk mencapai hal-hal yang diminta dalam do’a. Ha lini berarti bahwa do’a mengandung etos kerja yang kuat.
Do’a mengandung harapan, orang yang berharap tentu selalu terdorong melakukan ikhtiar untuk mewujudkan harapannya. Sebaliknya, orang yang putus asa tidak akan berikhtiar, karena tidak ada dorongan. Harapan merupakan semangat hidup yang mengandunt etos kerja.

23)              Tafakkur
Tafakkur berarti renungan, yakni merenungkan ciptaan Allah, kekuasaan-Nya yang nyata dan tersembunyi serta kebesarannya di seluruh langit dan bumi.[61] Tafakkur termasuk wirid yang dilakukan dalam rangka mendekatkan diri kepada Tuhan.
Tafakkur sebaiknya dilakukan setiap hari, terutama pada tengah malam. Karena saat tengah malam adalaah saat yang paling baik, jernih dan tepat untuk pensucian jiwa.
Perlunya tafakkur tentang ciptaan Allah dalam Al-Qur’an dijelaskan:
a.                   “Dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia” {QS. Ali-Imron: 191}
b.                  “Katakanlah: Perhatikanlah apa yang ada di langit dan di bumi” {QS. Yunus: 101}
c.                   “Maka ingatlah nikmat-nikmat Allah dan janganlah kamu merajalela di muka bumi membuat kerusakan” {QS. Al-A’rof: 74}
Adapun beberapa macam tafakkur yang dianjurkan dalam Al-Qur’an, yakni, bertafakkur tentang ciptaan Allah,bertafakkur karunia, kemurahan dan nikmat, bertafakkur mengenai luasnya pengetahuan Allah SWT, bertafakkur supaya tidak lalai, bertafakkur mengenai kefanaan kehidupan dunia dan kekalnya kehidupan akhirat, bertafakkur mengenai amal sholih dan perbuatan salah serta ganjarannya terhadapnya.

Tazakkur
Selain istilah tafakkur dalam tasawuf juga ada istilah tazakkur. Adapun persamaan dan peerbedaan antara kedua istilah ini. Persamaannya adalah memiliki arti yang sama yakni renungan. Sedang perbedannya menurut sebagian ulama ialah, tafakkur merupakan  cara atau jalan menuju tazakkur, sedang tafakkur adalah wujud tafakkur.

Etos kerja
Tafakkur dan tazakkur menghasilkan kerinduan untuk selalu dekat dengan Allah SWT, mendorong untuk beribadah, beramal sholih, berbuat baik, dan menghindari perbuatan salah dan dosa. Salah satu perbuatan baik adalah bekerja mencari rizqi untuk diri memenuhi kebutuhan hidup. Hal ini berarti, tafakkur dan tazakkur mengandung etos kerja yang kuat.[62]
Tafakkur dan tazakkur membawa ketenangan pada hati dan pikiran dan ini sangat penting dalam bekerja. Orang yang hati dan pikirannya tenang, maka dia dapat bekerja dengan hasil yang maksimal.

24)              Uzlah
Uzlah berarti mengasingkan diri, yaitu mengasingkan diri dari pergaulan dengan masyarakat untuk menghindari maksiat dan kejahatan serta melatih jiwa  dengan melakukan ibadah, dzikir, do’a dan tafakkur tentang kebesaran Allah SWT dalam mendekatkan diri kepada-Nya.[63]
Uzlah juga disebut khalwat. Kemudian uzlah dan khalwat memiliki arti yang hampir sama dengan tajrid, tafarrud atau infirad dan hijrah. Tajrid berarti menghilangkan segala sifat dan sebab yang dapat membawa diri kepada maksiat dan menyerahkan seluruh nasibnya kepada Allah SWT. Tetapi caranya tidak harus memisahkan diri dari pergaulan masyarakat. 
Lalu infirad berarti memisahkan diri dari pergaulan masyarakat agar terhindar dari maksiat dan kejahatan yang sedang terjadi dalam masyarakat supaya keburukan budi pekertinya tidak membawa akibat buruk kepada masyarakat.
Sedang hijrah berarti memisahkan diri secara sosial dan politis dari suatu masyarakat untuk melanjutkan perjuangan.
Dengan demikian, tindakah pengasingan atau pemisahan diri dalam Islam ada beberapa macam, tergantung keperluan dan tujuannya. Selain itu dalam tasawuf uzlah dapat dilakukan dengan dua tahap. Tahap pertama ialah membatasi diri dari pergaulan masyarakat. Misalnya hubungan dengan masyarakat dibatasi pada ibadah yang dikerjakan secara bersama-sama, dan melakukan pekerjaan secara kolektif.
Apabila cara pertama tidak berhasil mencegah diri dari maksiat dan kejahatan, makaa perlu menempuh cara kedua, yaitu sama sekali memisahkan diri dari pergaulan masyarakat dengan pergi ke tempat yang terpencil, seperti gunung, hutan, dan sebagainya.
Praktek uzlah didasarkan pada perbuatan Nabi Muhammad yang sering melakukan khalwat ke Gua Hira di Jabar Nur, sekitar 3 mil di luar kota Mekah. Nabi Muhammad melakukan hal ini sebelum diangkat menjadi rosul untuk menghindari pergaulan masyarakat Quraisy yang kala itu sangat bejat. Di sinilah beliau memperoleh wahyu yang pertama dan diperintahkan berdakwah mengajak masyarakat kemabali ke jalan yang  benar.
Dalil Al-Qur’an yang menceritakan uzlah yang pernah dilakukan oleh Nabi Musa, firman Allah SWT:
“Dan telah Kami janjikan kepada Musa (memberikan Taurat) sesudah berlalu waktu tiga puluh malam, dan Kami sempurnakan jumlah malam itu dengan sepuluh (malam lagi), maka sempurnalah waktu yang telah ditentukan Tuhannya empat puluh malam. Dan berkata Musa kepada saudaranya yaitu Harun: Gantikanlah aku dalam (memimpin) kaumku, dan perbaikilah, dan janganlah kamu mengikuti jalan orang-orang yang membuat kerusakan” {QS. Al-A’rof: 142}
Dalam melakukan uzlah selain menghindari maksiat dan kejahatan juga beribadah, berdzikir, berdo’a dan bertafakkur tentang kebesaran Allah SWT dalam rangka mendekatkan diri kepada-Nya.

Etos kerja
Mengasingkan diri tidak hanya dianjurkan, sebagaimana diajarkan dalam tasawuf, tetapi juga merupakan naluri manusia. Manusia selalu cenderung mengasingkan diri untuk mencari ketenangan hidup.[64] Itulah sebabnya misalnya tempat-tempat peristirahatan ramai dikunjungi pada saat libur. Hanya saja bedanya dengan uzlah adalah orang yang mengunjungi tempat-tempat peritirahatan itu semata-mata untuk beristirahat melepaskan diri dari pekerjaan sehari-hari.
Sedang uzlah adalah melepaskan diri dari pekerjaan sehari-hari tetapi untuk beribadah dan bertafakkur tentang kebesaran Allah SWT yang tentunya akan mendatangkan ketenangan hidup. Ketenangan hidup akan menimbulkan sikap mental dan semangat hidup yang kuat dalam menghadapi kehidupan pada umumnya dan pekerjaan khususnya. Ini berarti uzlah mengandung etos kerja yang tinggi. 

25)              Kemiskinan
Dalam tasawuf kemiskinan disebut faqr.[65] Maksudnya, pada dasarnya manusia itu miskin, baik secara spiritual maupun material. Miskin spiritual berarti manusia tidak dekat dengan Tuhan dan berusaha mendekatkan diri kepada Tuhan dengan menjalankan perintah dan menjauhi larangan-Nya. Sedang miskin secara material adalah pada dasarnya manusia itu miskin, tidak memiliki apa-apa. Semua harta/barang berharga adalah titipan Allah SWT yang harus dipergunakan sebaik-baiknya
Orang miskin yang tetap beribadah dan beramal sholih dipuji oleh Allah SWT dengan janji akan lebih dahulu masuk surga. Rosulullah bersabda:
“Orang-orang miskin akan masuk surga sebelum orang-orang kaya dengan jangka waktu lima ratus tahun setengah hari” HR. Tirmidzi﴿
Pujian terhadap orang miskin yang bersabar dan beramal sholih menyebabkan banyak sufi lebih suka hidup miskin daripada berkecukupan.[66] Dengan alasan bahwa jika kita hidup berkecukupan, maka yang akan dikhawatirkan adalah harta dan lalai terhadap Allah SWT. Kecenderungan sufi untuk hidup miskin terlihat pada kainnya yang sangat sederhana, yaitu wol (shuf) yang kasar. Pada awal perkembangan Islam shuf yang kasar adalah pakaian orang miskin. Sedang orang kaya biasanya memakai pakaian yang terbuat dari sutra.
Namun hal itu tidak berarti orang Islam tidak perlu kaya. Menjadi kayaitu boleh dan dianjurkan bila tujuannya untuk membela kepentingan Islam. Mengenai hal ini Allah SWT berfirman:
“ (Berinfaklah) kepada orang-orang fakir yang terikat (oleh jihad) di jalan Allah, mereka tidak dapat (berusaha) di bumi, orang yang tidak tahu menyangka merekaorang kaya karea memelihara diri dari meminta-minta. Kamu kenal mereka dengan melihat sifat-sifatnya, mereka tidak memintakepada orang secara mendesak. Dan apa saja harta yang baik kamu nafkahka (di jalan Allah), maka sesungguhnya Allah Maha Mengetahui” {QS. Al-Baqoroh: 235}
Selain ayat di atas, Allah SWT menyebut orang yang tidak peduli dengan orang mikin sebagai orang yang mendustakan agama, dengan firmna-Nya:
“Tahukah kamu (orang) yang mendusrakan agama? Itulah orang yang menghardik anak yatim, dan tidak menganjurkan memberi makan orang miskin” {QS. Al-Ma’uun: 1-3}
Jelaslah bahwa dalil-dalil di atas sangat menganjurkan kita untuk memperhatikan orang miskin. Orang kaya yang hendak masuk surga harus mengasihi orang miskin. Orang miskin juga akan masuk surga bila bersabar dalam kemiskinannya dan mengerjakan perintah Allah SWT. Untuk mengasihi orang miskin, dapat dilakukan dengan memberikan zakat, infaq dan shodaqoh.

Etos kerja
Untuk menjadi orang kaya agar dapat mengasihi orang miskin tentu saja harus bekerja untuk mendapatkan rizqi yang halal dan banyak. Keharusan bekerja keras untuk mencari rizqi menunjukkan bahwa konsep faqr dalam tasawuf mengandung etos kerja yang kuat.[67] Sebab biasanya untuk menjadi orang kaya harus bekerja keras.
Orang miskin sebaiknya tidak meminta-minta untuk memenuhi keperluan, tetapi harus bekerja untuk mendapat rizqi yang memadai. Ini juga menunjukkan adanya etos kerja dalam konsep faqr.

26)              Kematian
Dalam tasawuf kematian ada dua macam, yaitu mati secara fisik dan spiritual.[68] Secara fisik berarti berpisahnya roh dari badan. Sedang kematian secara spiritual ada empat macam. Pertama, kematian merah, yang berkaitan dengan pengendalian amarah dan menjauhi dendam dalam diri sendiri. Kedua, kematian putih, yang berkenaan dengan rasa lapar, asketisme dan gaya hidup sederhana. Ketiga, kematian hijau, yang bertalian dengan mencampakkan hiasan diri lahiriah dan menyandang hiasan batiniah dengan segenap akhlak mulia. Keempat, kematian hitam, yang berhubungan dengan sikap tidak mementingkan diri sendiri berupa cinta dan kasih sayang kepada sesama makhluk.
Namun yang dimaksud kematian di sini adalah kematian secara fisik. Allah SWT berfirman:
a.                   “Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Kemudian hanyalah kepada Kami kamu dikembalikan” {QS. Al-Ankabut: 57}
b.                  “Di mana saja kamu berada, kematian akan mendapatkan kamu, kendatipum kamu di dalam benteng yang tinggi lagi kokoh”{QS. An-Nisa’: 78}
Ayat-ayat di atas menjelaskan bahwa kematian tidak bisa ditolak dan pasti akan dialami oleh setiap orang.[69] Kematian harus selalu diingat supaya beribadah, beramal sholih dan menjauhi larangan-Nya. Oleh karena itu, kita diperintahkan untuk selalu ingat kematian sebelum terlambat. Sebagaiman firman Allah SWT:
“(Demikianlah keadaan orang-orang kafir itu), hingga apabila datang kematian kepada seseorang dari mereka, dia berkata: Ya Tuhanku kembalikanlah aku (ke dunia),agar aku berbuat amal sholih terhadap apa yang telah aku tinggalkan. Sesungguhnya itu adalah perkataan yang diucapkannya saja.   dihadapan mereka ada dinding sampai hari dibangkitkan” {QS. Al-Mu’minun: 99-100}
Ingat akan mati biasanya disertai dengan ingat akan siksa neraka. Siksa neraka akan dialami oleh setiap orang yang berdosa. Sedang kehidupan di dunia sering bergelimang dengan dosa. Inilah sebabnya manusia apabila ingat akan kematian, mereka tidak mau menangani urusan dunia.

Etos kerja
Jelaslah bahwa ingat akan kematian tidak harus diwujudkan dengan menjauhi urusan dunia,  tetapi melakukan tindakan nyata dalam kehidupan dunia. Dalam melakukan tindakan nyata yang didorong oleh ingat akan kematian dapat menimbulkan sikap berani mati.[70]
Sikap berani mati dalam berbuat menumbuhkan etos kerja yang kuat. Karena sikap seperti ini menimbulkan semangat kerja yang tak pernah kendur sampai akhir hayat orang yang memiliki sikap tadi. Semangat kerja yang terus menyala bukan untuk memperkaya diri sendiri, tetapi untuk menegakkan keadilan, kebenaran, kejujuran dan kemakmuran bagi kesejahteraan bersama. 




BAB III
KESIMPULAN DAN REKOMENDASI
a.                  Kesimpulan
Menurut Abu Qasim al-Qusyaeri  (376-466), tasawuf ialah penjabaran ajaran Al-Quran, sunnah, berjuang mengendalikan hawa nafsu, menjauhi perbuatan bid’ah, mengendalikan syahwat, dan menghindari sikap meringankan ibadah. Dan Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia etos kerja adalah semangat kerja yang menjadi ciri khas dan keyakinan seseorang atau suatu kelompok.
Menurut ajaran Islam, bekerja itu wajib, setidaknya untuk memenuhi kebutuhan diri sendiri, keluarga dan umat. Tasawuf pun sejalan dengan ajaran dasar Islam, sehingga tasawuf tidak melemahkan etos kerja, tetapi malah dapat memperkuat etos kerja.
Untuk meningkatkan semangat atau etos kerja dalam diri kita, para ahli sufi telah mengajarkan kita melalui sikap yang mereka contohkan dalam kehidupan mereka sesuai dengan ajaran dan konsep tasawuf. Di antaranya, sikap optimisme, istiqamah, sabar, ikhlas, ridha, qana’ah, takwa, takut, tawakal, tobat, zuhud, wara’, syukur, cinta, rindu, hidiq, syaja’ah, takdir, malu, zikir, doa, tafakkur, uzlah, kemiskinan, dan kematian.
b.                  Rekomendasi
Berdasarkan kesimpulan yang telah dipaparkan, maka penulis mengajukan rekomendasi yang dipandang berguna agar dapat meningkatkan pengetahuan para pembaca, khusunya mahasiswa. Yakni, pada zaman sekarang pastilah sulit untuk mengaplikasikan kehidupan tasawuf dalam suatu pekerjaan. Namun, tidak ada salahnya jika kita mencoba mempraktikannya. Karena jika semua diawali dengan niat yang benar dan sungguh-sungguh pasti semua terasa mudah. Dunia ini hanyalah sebagai tempat sendau gurau dan main-main, jadi jika penuh dengan kekayaan atau kebanyakan harta memungkinkan manusia dekat pada kejahatan. Untuk itu tidak ada salahnya kita sama-sama belajar mengaplikasikan  kehidupan tasawuf pada suatu pekerjaan dengan tujuan mendekatkan diri kepada Allah SWT.






Daftar Pustaka
Prof. Dr. Harun Nasution, Falsafat dan Mistisme dalam Islam, Jakarta : Bulan Bintang, 1995.
Sudirman Tebba, Membangun Etos Kerja dalam Perspektif Tasawuf,  Bandung: Pustaka Nusantara, 2003.



[1]. (Tasmara, 2002:13)
[2]. Prof. Dr. Harun Nasution, Falsafat dan Mistisme dalam Islam, (Jakarta : Bulan Bintang), 1995, hlm. 64
3. Ahmad Warson Munawir, Al-Munawir : Kamus Arab – Indonesia, PP. Al-Munawiwir, Yogyakarta, 1984, hlm. 626

[4]. QS. Al-Qashash, 28:77
[5]. Lihat al-Taftazani, Sufi …, op.cit., hlm. 55
[6]. Dr. Abu al-wafa al-Ghanimi al-Taftazani,Sufi…,op.cit.,hlm. 56-57
[7]. Sudirman Tebba, Membangun Etos Kerja dalam Perspektif Tasawuf,  Bandung: Pustaka Nusantara, 2003,  hlm. 1
[8]. Ibid., hlm. 2
[9]. Ibid., hlm. 4
[10]. Ibid., hlm. 8
[11]. Ibid., hlm. 15
[12]. Ibid., hlm. 17
[13]. Ibid., hlm. 20
[14]. Ibid., hlm. 20-21
15. Ibid., hlm.  22

[16]. Ibid., hlm. 24
[17]. Ibid., hlm. 25-26
[18]. Ibid., hlm. 27
[19]. Ibid., hlm. 30
[20]. Ibid., hlm. 31-32
[21]. Ibid., hlm. 33
[22]. Ibid., hlm. 35
[23]. Ibid., hlm. 36 -37
[24]. Ibid., hlm. 38-40
[25]. Ibid., hlm. 42
[26]. Ibid., hlm. 44
[27]. Ibid., hlm. 46
[28]. Ibid., hlm. 48
[29]. Ibid., hlm. 51-52
[30]. Ibid., hlm.  53
[31]. Ibid., hlm. 55
[32]. Ibid., hlm. 56-57
[33]. Ibid., hlm. 60
[34]. Ibid., hlm. 61
[35]. Ibid., hlm. 63
[36]. Ibid., hlm. 65
[37]. Ibid., hlm. 67
[38]. Ibid., hlm. 68
[39]. Ibid., hlm. 74
[40]. Ibid., hlm. 78
[41]. Ibid., hlm. 80
[42]. Ibid., hlm. 84
[43]. Ibid., hlm. 86
[44]. Ibid., hlm. 91
[45]. Ibid., hlm. 93
[46]. Ibid., hlm. 95
[47]. Ibid., hlm. 96
[48]. Ibid., hlm. 101
[49]. Ibid., hlm. 103
[50]. Ibid., hlm. 106
[51]. Ibid., hlm. 108
[52]. Ibid., hlm. 112 
[53]. Ibid., hlm. 113
[54]. Ibid., hlm. 116
[55]. Ibid., hlm. 117
[56]. Ibid., hlm. 122
[57]. Ibid., hlm. 123
[58]. Ibid., hlm. 129
 [59]. Ibid., hlm. 130
[60]. Ibid., hlm. 135
[61]. Ibid., hlm. 136
[62]. Ibid., hlm. 144
[63]. Ibid., hlm. 145
[64]. Ibid., hlm. 148
[65]. Ibid., hlm. 150
[66]. Ibid., hlm. 151
[67]. Ibid., hlm. 153
[68]. Ibid., hlm. 155
[69]. Ibid., hlm. 156
[70]. Ibid., hlm. 158

Tidak ada komentar:

Posting Komentar